Siaran Pers

Bentang Alam Wehea-Kelay Seimbangkan Pengelolaan Ekonomi dengan Pelestarian Keanekaragaman Hayati

Lokakarya
Lokakarya YKAN bersama Forum KEE melakukan pelatihan "Identifikasi dan Pengelolaan Flora dan Fauna Terancam Punah di Bentang Alam Wehea-Kelay". © YKAN

Kontak Media

Pengelolaan Bentang Alam Wehea-Kelay di Kalimantan Timur masih memiliki banyak potensi yang belum tereksplorasi. “Selain pelestarian satwa endemik, masih ada nilai-nilai ekonomi yang belum dianalisis,”ujar Ketua Forum Kawasan Ekosistem Esensial Wehea-Kelay EA Rafiddin Rizal dalam pembukaan lokakarya Identifikasi dan Pengelolaan Flora dan Fauna Terancam Punah di Bentang Alam Wehea-Kelay, Samarinda, Rabu, 16 Februari 2022. Pelatihan selama dua hari ini (16-17 Februari 2022) digelar Forum Kawasan Ekosistem Esensial Wehea-Kelay dalam rangka peningkatan kapasitas anggota forum.

Bentang Alam Wehea-Kelay merupakan salah satu habitat penting bagi flora dan fauna di Pulau Kalimantan. Kawasan ini memiliki luasan sekitar 2% dari luas hutan di Kalimantan, yang menjadi habitat bagi setidaknya 35% mamalia yang terdata di Kalimantan, 41% burung terrestrial, 20% reptil dan 46% amfibi. Salah satu yang menjadi perhatian utama di dalam pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Wehea-Kelay adalah orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus morio).

Para peserta pelatihan sedang berdiskusi tentang flora dan fauna yang terancam punah di wilayah Wehea-Kelay.
Diskusi Para peserta pelatihan sedang berdiskusi tentang flora dan fauna yang terancam punah di wilayah Wehea-Kelay. © YKAN

EA Rafiddin Rizal yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur mengatakan nilai-nilai ekonomi yang berbasis ekologi, bisa menjadi jembatan untuk kesinambungan pengelolaan bentang alam Wehea-Kelay. Bentang alam seluas 532 ribu hektare ini, dikelola kolaboratif oleh Forum Kawasan Ekosistem Esensial Wehea-Kelay. Anggota forum, mewakili dari pemegang konsesi pengelolaan hutan, perkebunan kelapa sawit, masyarakat adat, pemerintah dan mitra pembangunan. Rafiddin mencontohkan bahwa upaya dalam menjaga tutupan hutan, bisa menghasilkan pendapatan dengan nilai emisi yang dihargai dalam skema pendanaan karbon. Untuk mencari berbagai peluang ekonomi tersebut, Ia menjelaskan, perlunya identifikasi potensi dari bentang alam yang dipelajari dalam lokakarya dua hari ini.

Selama ini, anggota forum KEE, telah memiliki pengetahuan dasar dalam pengelolaan keanekaragaman hayati di wilayah kerja mereka. Kemampuan tersebut diwujudkan dalam sejumlah Standard Operationg Procedure (SOP) untuk yang dimiliki tiap konsesi, baik untuk konsesi kehutanan maupun perkebunan sawit. Spesialis Konservasi Spesies Terancam Punah Yayasan Konservasi Alam Nusantara Arif Rifqi mengatakan, kemampuan anggota forum dalam mengidentifikasi keanekaragaman hayati di wilayah kerja mereka, menunjang operasional perusahaan. Lantaran kemampuan tersebut dibutuhkan dalam proses sertifikasi pengelolaan lestari seperti ISPO/RSPO untuk perkebunan sawit atau PHPL/FSC untuk pemegang izin konsesi kehutanan. Sertifikasi seperti FSC menyebutnya dalam istilah jenis langka dan terancam/rare & threatened. Selain itu, dalam pengelolaan Areal Bernilai Konservasi Tinggi (ANKT) dikelompokkan di dalam kategori NKT 1. Oleh karena itu, pengelolaan yang sejalan dengan praktik-pratik lestari lainnya penting untuk dapat diterapkan secara sinergis, efektif dan efisien. “Namun apakah SOP yang dimiliki perusahaan tersebut, sudah sesuai dengan kebutuhan sertifikasi, atau apakah sudah efektif untuk diimplementasi di lapangan,” kata Arif, “ini yang perlu diperbarui lagi pengetahuannya.” Aturan-aturan sertifikasi pengelolaan lestari terus berkembang setiap tahunnya, sehingga perlu penyegaran informasi dan kemampuan untuk para anggota forum. Terutama status tumbuhan dan satwa yang terancam punah.

Bina Swasta Sitepu dari Balai Penerapan Standard Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan Samboja mengatakan bahwa tidak sembarangan untuk menetapkan status terancam punah. “Salah satu kriterianya adalah populasi kecil, terjadi penurunan populasi yang tajam dan spesies tersebut hanya ditemui di lokasi yang bersangkutan,” kata Bina dalam kesempatan yang sama. Ia menjelaskan status terakhir tentang pohon endemik Kalimantan ada sebanyak 1433 jenis. Namun, jumlah tersebut masih bisa berkembang karena ditemukannya jenis pohon baru, atau pemecahan jenis dari pohon yang ada. Pengetahuan-pengetahuan seperti ini yang menjadi keuntungan anggota forum KEE Wehea-Kelay. Catatan Balai Penerapan Standard Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Bentang Alam Wehea Kelay terdapat tiga jenis tanaman yang perlu menjadi perhatian karena memiliki sejumlah status terancam  yaitu dari jenis Dipterocarpaceae (pohon meranti) : 15 CR, 12 EN, 14 VU, 12 NT; Agathis borneensis (pohon damar) EN; Eusideroxylon zwageri (pohon ulin) : VU.

YKAN bersama Forum KEE melakukan pelatihan "Identifikasi dan Pengelolaan Flora dan Fauna Terancam Punah di Bentang Alam Wehea-Kelay".
Lokakarya YKAN bersama Forum KEE melakukan pelatihan "Identifikasi dan Pengelolaan Flora dan Fauna Terancam Punah di Bentang Alam Wehea-Kelay". © YKAN

Adapun dari jenis satwanya, seperti diketahui bahwa ikon bentang alam Wehea-Kelay adalah orang utan.  Selain orang utan, sejumlah satwa endemik lainnya juga hidup dan berkembang biak di sini. Tri Atmoko dari Balai Penerapan Standard Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan Samboja mengatakan perlu pemonitoran berkala untuk melihat populasi dan kepadatan satwa endemiknya. “Pemonitoran ini disesuaikan dengan karakter satwa tersebut,” ujar Tri dalam kesempatan yang sama. Semisal, satwa yang sering beraktivitas noktunal, maka pengamatannya dilakukan malam hari. Pemonitoran berkala ini berguna untuk melihat perubahan populasi dan kepadatan yang akan menjadi bagian pengkinian data keanekaragaman hayati di Wehea-Kelay.

Rafiddin berharap anggota forum memiliki kemampuan dalam praktik-praktik pengelolan terbaik yang akan menjadi cara utama dalam menjaga kelestarian jenis-jenis tumbuhan dan satwa liar terancam punah.

Tentang YKAN

Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) adalah organisasi nirlaba berbasis ilmiah yang hadir di Indonesia sejak 2014. Memiliki misi melindungi wilayah daratan dan perairan sebagai sistem penyangga kehidupan, kami memberikan solusi inovatif demi mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif, mengedepankan pendekatan nonkonfrontatif, serta membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak kepentingan untuk Indonesia yang lestari. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi ykan.or.id.