Perspektif

Cerita Tentang Snappers (Kakap)

Blog ditulis oleh Dr. Peter Mous, Direktur Fisheries Indonesia Program

Nelayan depan Kala Seven Seas
Kapal Laut The Seven Seas Nelayan di depan kapal laut The Seven Seas. © Peter Mous

Saya selalu menyukai ikan kakap, mungkin karena mereka sangat dikenali sebagai ikan standar yang bona fide. Mintalah seorang anak berusia 5 tahun untuk menggambar seekor ikan, dan dia akan langsung menarik garis di atas kertas yang mengikuti pola dasar tubuh ikan kakap, yang berenang di sekitar bagian bawah kolom air. Orang-orang mungkin akan memaafkannya karena menambahkan gelembung udara yang keluar dari mulut ikan tersebut, namun gambaran lainnya dapat dikatakan cukup akurat. Jika Anda menebak ikan kakap bohar Lutjanus bohar yang ada pada gambar itu, akan lebih pas dari bentuknya daripada mengatakan tuna atau ikan sebelah (flounder), apalagi lionfish atau ikan gelodok (mudskipper).

Kakap bohar kemungkinan adalah ikan kakap berukuran sedang yang paling berlimpah di area terumbu karang Indonesia. Setiap penyelam yang mengunjungi area terumbu karang yang relatif masih utuh di Indonesia pasti bersisipan dengan beberapa kakap bohar. Mereka umumnya berwarna merah kecoklatan, namun di musim pemijahan beberapa dari mereka yang kemungkinan adalah kakap jantan, akan berubah warna menjadi perak pucat di bagian samping tubuhnya dan gelap di bagian punggung. Anda akan menemukan bohar berukuran kecil (10 cm dari mulut hingga ekor) dan juga besar di sekitar terumbu karang, yang menunjukkan bahwa mereka menghabiskan sebagian besar hidup mereka di terumbu karang. Mereka akan menjaga jarak dari penyelam tanpa malu-malu, dan yang lebih besar biasanya suka berenang menjauh beberapa meter dari karang. Mereka terkadang berenang bersama dengan ikan kakap lain yang lebih kecil biasanya bergabung dengan kakap bongkok Lutjanus gibbus, dan yang lebih besar sesekali bersantai dengan midnight snappers (Macolor macularis) atau berolahraga bersama dengan kuwe mata besar (giant travelly). Mereka memiliki tubuh kekar, dan mereka adalah perenang yang kuat.

Nelayan di depan kapal laut The Seven Seas.
Kapal Laut The Seven Seas Nelayan di depan kapal laut The Seven Seas. © Peter Mous

Di kanal bagian selatan menuju laguna Atol Meaterialam, kami menemukan kumpulan besar dari kakap bohar yang sedang memijah—ratusan bohar pada kedalaman sekitar 15 m, banyak di antaranya dalam warna pemijahan, dan tidak terlalu berhati-hati dengan kami para penyelam seperti biasanya. Saya senang berada di kumpulan besar (schooling) ikan ini, mereka seperti mengalir melewati saya, terkadang mengelilingi saya, dengan beberapa yang lebih berani mengecek saya. Tampaknya setiap spesies ikan memiliki caranya sendiri untuk mengecek penyelam SCUBA. Bohar hanya lewat, tetapi Anda masih merasa diperhatikan; sekelompok kakap bongkok dan kakap sailfin tampaknya tidak memperhatikan apa pun dan mereka hanya melanjutkan urusan mereka seolah-olah tidak ada penyelam di sana. Kawanan ikan barakuda dapat terlihat sedikit mengancam saat mereka berenang ke arah penyelam dan mulai mengitarinya, sedangkan ikan kuwe mata besar ingin tetap berdekatan dan terlihat seolah-olah seorang penyelam melubangi dinding dari ikan yang berkilauan di saat ia mendekat. . Di Atol Meaterialam, para bohar adalah bintang pertunjukan, tetapi mereka bukan satu-satunya protagonis. Ada kelompok besar Lutjanus russelli, ketambak hidung panjang, dan kuwe mata besar, sekelompok kecil ikan napoleon jantan yang sangat besar, ditemani oleh sekelompok betina yang jauh lebih kecil, beberapa ikan kerapu raja sunu Plectropomus laevis, dan bahkan kerapu raksasa Epinephelus lanceolatus yang masih muda.

Baik kakap maupun kerapu, mereka berkumpul untuk memijah, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang berbeda. Ikan kerapu squaretail Plectropomus areolatus jantan, salah satu yang paling umum berkumpul di Indonesia, mengintai wilayah kecil dari beberapa meter persegi di terumbu karang, biasanya sedikit datar berpasir di antara karang, sambil menunggu betina mendekat. Jadi sekelompok pemijahan kerapu ini terlihat seperti permadani taman pinggiran kota, dengan masing-masing jantan menjaga petaknya dengan iri. Jantan tidak keberatan dengan keberadaan spesies ikan lain, tetapi mereka berkelahi dengan tetangga sejenis mereka. Kakap, di sisi lain, membentuk kelompok besar, di mana semua ikan tampaknya memiliki gagasan yang sama tentang ke mana harus pergi dan apa yang harus dilakukan. Saya belum pernah melihat mereka berkelahi di antara mereka sendiri, dan mereka tidak menunjukkan bekas gigitan seperti kerapu.

Snapper Fishery In Indonesia snappers/groupers fishery.

Saya biasanya tidak menilai ikan dalam hal kualitas ketika dimakan, tetapi dengan warna yang cukup kemerahan, kakap bohar terlihat seolah-olah mereka dirancang untuk dijadikan menu barbeque atau sebagai hidangan asam manis dengan daun bawang dan jahe. Kesan pertama bisa menipu, karena ikan ini hampir tidak bisa dimakan! Daging dari ikan yang lebih besar sangat keras, dan di Australia dan negara-negara lain di timur Indonesia, ikan ini dikenal sebagai ciguatoxic. Ciguatoxin diproduksi oleh alga tertentu yang hidup di beberapa (tetapi tidak semua) terumbu karang, dan toksin ini terakumulasi secara biologis. Itu berarti bahwa racun ini ditemukan dalam konsentrasi yang semakin tinggi saat energi bergerak ke atas rantai makanan melalui predasi. Predator teratas, termasuk kakap bohar, berakhir dengan konsentrasi racun yang tinggi. Racun ini tidak mengganggu ikan itu sendiri (mungkin memang demikian, tetapi sulit untuk mengetahuinya), namun makan ikan ciguatoxic untuk makan malam dapat menyebabkan mual, diare, dan muntah. Keracunan ciguatera jarang terjadi di Indonesia, jadi kakap bohar mungkin aman untuk dimakan, tetapi mari kita simpulkan bahwa meskipun risiko ciguatera yang rendah tetap merupakan alasan yang baik untuk membiarkan kakap ini tetap berada di elemen mereka.

Untuk perikanan komersial, ikan kakap merah andalan Indonesia adalah kakap Malabar Lutjanus malabaricus. Saya belum pernah melihat mereka di terumbu karang, sebaliknya mereka menyukai laut dengan dasar yang datar dan berpasir hingga kedalaman sekitar 100 m. Di Indonesia, daerah penangkapan ikan utama untuk spesies ini adalah Laut Jawa, Laut Arafura, dan laut di sekitar kepulauan Natuna di bagian barat Indonesia, di mana mereka ditangkap dengan pancing ulur, rawai, dan bubu (perangkap). Ikan yang terkadang tertangkap bersama dengan kakap Malabar adalah kakap goldband Pristopomoides multidens, disebut demikian karena terdapat pita emas samar di kepala dan punggungnya. Ada berbagai jenis kakap dari genus Pristipomoides, dan semuanya memiliki bentuk yang serupa: hidung tumpul, tubuh berbentuk seperti torpedo, sirip punggung tunggal yang membentang di hampir seluruh bagian belakang ikan, dan sirip ekor berbentuk v. Ikan ini dibuat untuk kecepatan! Goldbands cenderung lebih menyukai habitat yang lebih dalam daripada Malabar.

Menuruni landas kontinen hingga kedalaman lebih dari 200m, akan terlalu sulit untuk memasang pancing rawai atau bubu, sehingga nelayan menggunakan tali pancing untuk menangkap ikan hingga kedalaman ini. Pancing ulur adalah senar atau tali pancing dengan pemberat di ujung dan sekitar tujuh kail yang melekat pada tali utama dengan tali samping (tambahan) atau snoods. Setiap pancing dioperasikan oleh seorang nelayan, dengan tangan atau dengan gulungan yang diputar dengan tangan. Kita sekarang memasuki dunia ikan kakap laut dalam yang “sejati”! Kakap laut dalam favorit saya adalah flame snapper, Etelis coruscans. Merah cerah, dengan ekor bercabang dua yang memiliki cabang sirip ekor atas yang sangat panjang, orang hanya dapat menebak keuntungan evolusi dari sirip ekor itu, tapi yang jelas sangat cantik.

Kakap laut dalam yang “sejati” hidup di lereng landasan benua, dan juga banyak di lereng pulau-pulau vulkanik di sepanjang Lengkungan Banda bagian dalam. Selama perjalanan “Epic Trip” kami di atas Seven Seas, kami bertemu dengan nelayan kakap di Pulau Manuk—nelayan ini berasal dari Kepulauan Banda, yang melakukan perjalanan 100 mil laut dengan perahu kecil terbuka untuk memancing di lereng dalam pulau vulkanik ini. Kami terkejut para nelayan ini melakukan perjalanan sejauh itu, karena di Banda pun seharusnya memiliki ikan yang sama. Namun, para nelayan mengatakan bahwa memancing di Pulau Manuk lebih baik, dan karena mereka membutuhkan jumlah yang cukup untuk pesta pernikahan di rumah, mereka menginvestasikan bahan bakar dan waktu untuk perjalanan pulang pergi ke Manuk.

Perjalanan para nelayan Banda menggambarkan fenomena umum dalam perikanan: Begitu daerah penangkapan ikan lokal habis, para nelayan harus melakukan perjalanan lebih jauh untuk mengisi palkanya. Kepulauan Banda sendiri masih menawarkan kesempatan memancing, hanya saja para nelayan ini membutuhkan waktu terlalu lama untuk mendapatkan volume yang mereka butuhkan untuk pesta pernikahan. Terutama ikan kakap laut dalam yang “sejati” dieksploitasi secara berlebihan dengan mudah. Mereka cenderung nongkrong beramai-ramai (schooling) di sekitar gunung bawah laut, tebing, atau bangkai kapal, dan begitu para nelayan menemukan tempat seperti itu, mudah untuk menangkap mereka. Di Indonesia bagian timur, beberapa desa memiliki pegunungan laut terbaik, dengan hati-hati menjaga akses ke tempat pemancingan yang sangat baik ini.

Jos bertemu para nelayan kakap asal Banda di Pulau Manuk, Maluku. Jos sedang mengangkat seekor rusty jobfish, Aphareus rutilans di tangan kanannya dan seekor slende
Tamu Kapal Seven Seas Dr. Jos Jos bertemu para nelayan kakap asal Banda di Pulau Manuk, Maluku. Jos sedang mengangkat seekor rusty jobfish, Aphareus rutilans di tangan kanannya dan seekor slende © Peter Mous

Jadi apa sebenarnya arti dari perikanan kakap yang “berkelanjutan”? Nelayan yang kami temui di Manuk jelas kecewa dengan lokasi penangkapan ikan di sekitar Kepulauan Banda, meskipun Kepulauan Banda masih dianggap "hampir murni" oleh para ilmuwan dan penyelam alam laut. Meskipun peristiwa pemutihan karang baru-baru ini, karang di sekitar Banda masih dalam kondisi sangat baik dan banyak spesies ikan karang masih dalam biomassa asli. Di sisi lain, jelas bahwa jumlah hiu-hiu yang berukuran besar telah menipis. Secara intuitif, bisa dikatakan bahwa ikan kakap di Laut Banda pasti berada di antara "murni" dan "hancur". Bahkan, program perikanan yang saya kerjakan memperkirakan bahwa kakap Malabar mencapai 13%, kakap goldband sebesar 16%, dan kakap flame (sayangnya) pada 7% dari kondisi biomassa murni mereka. Apakah itu "berkelanjutan"?

Sebagai ahli biologi perikanan, saya harus mematuhi konvensi bahwa stok yang dieksploitasi hingga setengah dari biomassa murninya dapat dianggap sebagai stok ikan yang sehat dan berkelanjutan. Jika pengelola perikanan dan komunitas nelayan Indonesia berhasil menjaga stok di level itu, bahkan bisa mengajukan sertifikasi standar keberlanjutan Marine Stewardship Council. Sebagai seorang naturalis kelautan, bagaimanapun, saya masih merasa bahwa mengambil setengahnya, yah, dapat dibilang cukup serakah. Lagi pula, manusia bukan satu-satunya bahaya yang harus dihadapi ikan ini. Ada juga pemangsaan oleh apa pun yang ukurannya lebih besar dari kakap ini: Hiu, tuna, marlin, lumba-lumba, paus bergigi, dan sebagainya. Saya tidak menyalahkan semua nelayan atau bahkan perusahaan perikanan. Masalah utama adalah ketidakpedulian pasar (kita semua) tentang asal dan keberlanjutan makanan kita. Pemahaman ini seiring waktu telah berubah, tetapi masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menyelamatkan ikan-ikan kakap ini.

Saya khawatir tentang ikan kakap laut dalam ini. Cukup sulit untuk mengembangkan apresiasi terhadap kehidupan bawah laut di kalangan masyarakat umum, tetapi kami sampai di sana berkat penyelaman SCUBA, dan film dokumenter tentang terumbu karang tropis dunia. Saat ini, hampir setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar tentang terumbu karang, jika hanya melalui rekaman bawah air yang diambil oleh penyelam profesional dan amatir yang tersedia di internet. Namun, kakap laut dalam yang sebenarnya hidup di kedalaman lebih dari 150 meter, dan sejauh ini satu-satunya cara untuk menghargai mereka adalah dengan menarik mereka keluar dari habitatnya ke permukaan, untuk bersenang-senang atau untuk makanan. Menggelempar di dek kapal penangkap ikan, di luar elemennya, ikan flame snapper, Etelis coruscans, menampilkan warna merahnya yang megah. Apa yang sebagian besar dari kita anggap cantik tidak pernah dimaksudkan untuk dinikmati seperti itu, karena warna merah adalah yang pertama menghilang dari spektrum saat cahaya menembus kolom air. Saya rasa berevolusi sebagai ikan merah adalah cara termudah untuk mendapatkan warna hitam pekat di habitat aslinya.

Tidak ada gunanya—kita harus belajar menghargai ikan kakap yang luar biasa ini tanpa melihatnya. Anggap saja itu hubungan jarak jauh dengan alam, dan hubungan itu patut mendapat perhatian. Jika kita kehilangan ikan kakap laut dalam, karena kebutuhan, keserakahan, atau kecerobohan, kita akan mendapati diri kita miskin lebih dari yang kita dapat antisipasi.