Perspektif

Genderang Konservasi dari Misool Utara

Misool
Keterangan Foto Seorang pemuda Misool sedang meniupkan terompet dari cangkang triton. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN

29 Juni 2022, Kampung Salafen, Distrik Misool Utara, Raja Ampat. Untuk pertama kalinya, kelima kampung di Distrik Misool Utara, yang terdiri dari Kampung Aduwei, Salafen, Waigama, Solal, dan Atkari, mencokok sagu bersama. Masing-masing perwakilan kampung duduk bersama di bawah satu naungan, mencokok batang pohon sagu yang sama, bergerak seiring seirama.

Seorang pemuda Misool sedang meniupkan terompet dari cangkang triton.
Keterangan Foto Seorang pemuda Misool sedang meniupkan terompet dari cangkang triton. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN
Lomba dayung yang diikuti oleh kelompok laki-laki maupun perempuan menjadi salah satu ajang yang menarik perhatian seluruh warga.
Keterangan Foto Lomba dayung yang diikuti oleh kelompok laki-laki maupun perempuan menjadi salah satu ajang yang menarik perhatian seluruh warga. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN

“Seumur hidup baru sekali itu lihat pemandangan seperti ini,”kata Sarah Elwod, warga Kampung Salafen, mengomentari saat melihat sekelompok bapak menokoksagu bersama. “Gara-gara ada ini, sudah. Festival budaya yang pertama di Misool Utara,” ujarnya sambil tersenyum.

Ya, untuk kali pertama, Distrik Misool Utara menggelar festival budaya, dalam rangka mendukung percepatan proses penetapan kawasan konservasi di Perairan Misool Bagian Utara,  Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Festival budaya yang dihelat pada 28-29 Juni 2022 itu menghadirkan ragam perlombaan khas daerah, seperti lomba panah, mendayung dan hias perahu tradisional, suling tambur, tari adat, tarik tambang, dan cipta lagu konservasi, serta pameran kerajinan tangan khas warga setempat.

Selama dua hari, kita juga dapat melihat sekelumit hidup keseharian warga Suku Matbat di dalam rumah adatnya (disebut demonli dalam bahasa setempat) yang juga khas. Lantainya terbuat dari bilah bambu, atapnya dari daun sagu, dindingnya dari nipah. Luas rumah disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga yang mendiaminya.

Tamu undangan dijemput dan digiring menuju titik-titik khusus yang telah disiapkan untuk melihat proses pengolahan sagu. Mulai dari proses mencokok sagu dari batangnya, membersihkan dan memeras air sagu untuk menjadi tepung, lalu dimasukkan ke dalam wadah terbuat dari daun jati. Kemudian, sagu diolah menjadi berbagai jenis penganan seperti bubur sagu, papeda, kue sagu, kapurung, dan lain-lain.

Proses Pembuatan Sagu

Mama-mama memperlihatkan cara membersihkan dan menyaring sagu, lalu dimasukkan ke dalam wadah khusus yang terbuat dari daun jati. Wadah daun jatinya pun unik, dengan teknik lipat khusus untuk memastikan sagu tidak tercecer.

Mama1
Mama2
Mama3
Mama4
Mama5

 

Lebih istimewa lagi, persinggahan dari satu titik ke titik berikutnya terus diiringi tabuhan rancak suling tambur. Para mama terus menari, mengajak para tamu undangan untuk mengikuti. Sebuah kejutan yang menyejukkan di tengah terik siang di Kampung Salafen, kala para tamu diajak berkeliling kampung sambil menari. Menjadi bagian dari hiburan warga, sekaligus terhibur dalam keriaan suling tambur.

Dewan Suku adat Maya dan Suku Adat Matbat

Festival budaya, Sulit tambur, seni tari khas Raja Ampat, menjadi salah satu primadona dalam perayaan budaya ini. Menjadi salah satu ajang lomba dalam Festival Budaya Misool Utara, masing-masing kampung unjuk kemahiran memainkan dan menampilkan gerakan ritmis seiring siulan suling tambur.

Genderang1
Genderang2
Genderang3
Genderang4
Genderang5
Rumah Adat1
Rumah Adat2
Rumah Adat3
Tari1
Tari2

Festival budaya ini diselenggarakan oleh Dewan Adat Suku Maya, Dewan Adat Matbat Misool Utara, Yayasan Konservasi Alam Nusantara, dan Yayasan Nazareth Papua dan didukung oleh Blue Action Fund. Ketua Dewan Adat Suku Maya Kris Thebu meny ajang ini menjadi wadah untuk menyatukan masyarakat adat. Pada hari yang sama, dilakukan sosialisasi publik kedua kepada warga dari kelima kampung mengenai rencana zonasi kawasan konservasi di wilayah perairan Misool bagian utara. Hasil dari konsultasi publik ini akan menjadi dasar dari penetapan wilayah konservasi perairan di Misool bagian utara.

Penetapan kawasan konservasi perairan ini merupakan bagian dari Program Blue Action Fund untuk mendukung Pemerintah Provinsi Papua Barat mendorong pengembangan kawasan konservasi, salah satunya di perairan Misool bagian utara. Upaya ini selaras dengan program pemerintah dalam rangka mencapai target 30 juta hektare kawasan konservasi pada tahun 2030—atau mencapai 10 persen dari total luas perairan Indonesia.

Keterangan Foto
Keterangan Foto Penetapan kawasan konservasi perairan ini merupakan bagian dari Program Blue Action Fund untuk mendukung Pemerintah Provinsi Papua Barat mendorong pengembangan kawasan konservasi, salah satunya di perairan Misool bagian utara. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN
Keterangan Foto
Keterangan Foto Foto bersama festival budaya, YKAN dukung penetapan kawasan konservasi di perairan Misool bagian utara. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN
Keterangan Foto Penetapan kawasan konservasi perairan ini merupakan bagian dari Program Blue Action Fund untuk mendukung Pemerintah Provinsi Papua Barat mendorong pengembangan kawasan konservasi, salah satunya di perairan Misool bagian utara. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN
Keterangan Foto Foto bersama festival budaya, YKAN dukung penetapan kawasan konservasi di perairan Misool bagian utara. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN