Perspektif

Kelompok Setia Usaha dan Budi Daya Rumput Laut – Rekoneksi antara Alam dan Manusia

Kelompok Perempuan Setia Usaha
Kelompok Perempuan Setia Usaha Sejak 2017, YKAN bersama para mitra membuat petak uji kebun bibit rumput laut di Desa Oelolot, bersama dengan kelompok Setia Usaha. © YKAN

Desa Oelolot dan rumput laut menjadi identitas yang lekat. Desa yang terletak di Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini merupakan salah satu sentra budi daya rumput laut. Bagi warga Desa Oelolot, budi daya rumput laut yang mulai dirintis pada 1999 menjadi mata pencaharian utama dan berhasil meningkatkan perekonomian warga. Lahan budi daya rumput laut pun terus meluas. Namun, ternyata bertambahnya lahan tak serta merta menambah keuntungan. Justru, terjadi penurunan produktivitas hasil rumput laut.

Budi daya rumput laut merupakan salah satu mata pencaharian utama penduduk Desa Oelolot sejak tahun 1999.
Budi Daya Rumput Laut Budi daya rumput laut merupakan salah satu mata pencaharian utama penduduk Desa Oelolot sejak tahun 1999. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN

Kualitas rumput laut sangat dipengaruhi oleh kesehatan ekosistem perairan. Dalam praktiknya, banyak lahan untuk budi daya rumput laut tumpang tindih dengan keberadaan biota penting lainnya di area pesisir seperti padang lamun, mangrove, dan terumbu karang. Pohon mangrove banyak diambil kayunya untuk dijadikan patok di demplot budi daya rumput laut, kayu patok ini ditanam di area sekitar terumbu karang. Secara tidak disadari, kegiatan ini justru merusak ekosistem pesisir yang vital, baik terumbu karang, mangrove, maupun padang lamun.

Selain itu, faktor utama penyebab kegagalan budi daya rumput laut adalah keterbatasan bibit rumput laut hasil budi daya yang akan digunakan pada siklus berikutnya karena tidak adanya pengelolaan bibit rumput laut yang baik. Penggunaan bibit yang berulang-ulang menjadi salah satu penyebab terjadinya penurunan, baik kualitas maupun kuantitas, sehingga rentan terhadap kondisi ekstrem lingkungan dan penyakit.

Isu ekologi makin mengancam dengan adanya perubahan iklim. Sebagai petani, masyarakat Desa Oelolot bergantung dengan keadaan cuaca. Perubahan iklim yang menyebabkan cuaca tidak menentu membuat mereka tidak dapat menentukan musim tanam, sehingga berdampak terhadap penghidupan dan kondisi ekonomi mereka.

Guna beradaptasi dengan keadaan alam sekaligus bertekad untuk melaksanakan budi daya rumput laut yang lebih berkelanjutan, kelompok masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Setia Usaha mencoba mengubah kondisi. Beranggotakan 13 perempuan dan 4 orang laki-laki, kelompok ini mendapatkan pendampingan dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan para mitra.

Para petani rumput laut di Desa Oelolot yang bertekad untuk melakukan praktik budi daya berkelanjutan, menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan konservasi alam.
Kelompok Setia Usaha Para petani rumput laut di Desa Oelolot yang bertekad untuk melakukan praktik budi daya berkelanjutan, menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan konservasi alam. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN

Sejak 2017,  YKAN bersama para mitra membuat petak uji kebun bibit rumput laut di Desa Oelolot, bersama dengan kelompok Setia Usaha. Upaya ini diharapkan dapat menjawab permasalahan ketersediaan bibit rumput laut yang berkualitas dan meningkatkan kapasitas petani dalam beradaptasi dengan perubahan pola musim dalam melakukan budi daya rumput laut sehingga dapat meningkatkan pendapatan pembudi daya rumput laut. Selain sisi teknis budi daya rumput laut, upaya peningkatan pengetahuan tentang pentingnya ekosistem pesisir juga dilakukan.

 

Anggota Kelompok Setia Usaha sedang mengikat rumput laut, sebagai bagian dari proses budi daya rumput laut.
Mengikat Rumput Laut Anggota Kelompok Setia Usaha sedang mengikat rumput laut, sebagai bagian dari proses budi daya rumput laut. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN
Petani budi daya rumput laut di Desa Oelolot dan salah satu anggota Kelompok Setia Usaha yang bertekad untuk menerapkan praktik budi daya rumput laut secara berkelanjutan.
Agustina Mbeo Petani budi daya rumput laut di Desa Oelolot dan salah satu anggota Kelompok Setia Usaha yang bertekad untuk menerapkan praktik budi daya rumput laut secara berkelanjutan. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN

Luas demplot yang dimiliki oleh kelompok ini sekitar 35 m². Adapun jenis rumput laut yang dikembangkan yaitu sakhol. Dari demplot kebun bibit yang dikelola dengan baik, saat ini Kelompok Setia Usaha tidak lagi mengalami kekurangan bibit. Bahkan, para pembudi daya rumput laut dari desa lain justru membeli bibit rumput laut dari kelompok ini dengan harga Rp250.000/karung. Kelompok Setia Usaha juga menjual rumput laut yang telah dikeringkan dengan harga Rp. 10.000/kg. Biasanya mereka menjual rumput laut kering tersebut ke pengepul di desa.

Melalui penerapan praktik budi daya rumput laut berkelanjutan, masyarakat desa mulai menyadari arti penting ekosistem pesisir bagi keberlanjutan budi daya rumput laut.  Pada perkembangannya, YKAN dan para mitra juga memberikan pelatihan untuk pengolahan berbagai macam makanan seperti sirup dan aneka kue dari rumput laut. “Melalui kegiatan ini kami jadi paham tentang budi daya rumput laut yang ramah lingkungan. Selain itu kami juga diajarkan pembuatan produk makanan berbahan rumput laut. Ini merupakan ilmu yang sangat bermanfaat,” pungkas anggota Kelompok Setia Usaha Mince Ndun.

Kabupaten Rote Ndao merupakan salah satu sentra penghasil rumput laut terbesar di Indonesia. Indonesia sendiri tercatat sebagai produsen rumput laut terbesar kedua di dunia setelah China (KKP, 2021). Penerapan praktik budi daya rumput laut berkelanjutan membuka celah besar untuk peningkatan ekonomi warga pesisir dengan tetap menjaga kelestarian habitat alami kawasan pesisir.

Upaya para anggota Kelompok Setia Usaha membuahkan hasil ketika praktik budi daya berkelanjutan ini pun perlu dicatat dengan tinta tebal. Para petani rumput laut berhasil mendapatkan kondisi finansial yang lebih baik, sehingga bisa menyekolahkan anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Rekoneksi Kelompok Setia Usaha dengan alam dan keteguhan mereka dalam menghadapi dampak perubahan iklim telah dibalas anugerah dari alam semesta, yang tak pernah ingkar pada mereka yang setia.