Perspektif

Meninjau Progres Pembuatan Peta 3D dan Desain RTGL di Desa Biatan Lempake, Berau

Proses pembuatan 3d map
Keterangan Foto Proses pembuatan peta 3D oleh warga desa Biatan Lempake (April 2021). © YKAN

Kampung SIGAP Sawit (KSS) adalah program fasilitasi perencanaan dan pembangunan kampung melalui pendekatan SIGAP pada sektor perkebunan sawit di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Adapun pendekatan akSi Inspiratif warGA untuk Perubahan (SIGAP) itu sendiri adalah pendampingan warga kampung yang bertumpu pada aksi kolektif warga untuk menemukan kekuatan, impian, serta solusi kreatif dan inovatif dalam menghadapi tantangan, menguatkan eksistensi diri mereka sebagai komunitas atau warga kampung. Pendekatan SIGAP dikembangkan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) sejak 2010.

Pada program KSS, YKAN bekerja sama dengan Yayasan Peningkatan dan Pengembangan Sumber Daya Umat (YP2SU) pada kurun lima tahun (2016-2021). Pendampingannya dilakukan dalam dua tahap untuk lima kampung di Berau. Kampung Biatan Lempake masuk dalam tahapan kedua bersama Kampung Biatan Bapinang dan Kampung Karangan.

Proses pembuatan peta 3D oleh warga desa Biatan Lempake (April 2021).
Keterangan Foto Proses pembuatan peta 3D oleh warga desa Biatan Lempake (April 2021). © YKAN

Kemajuan penting yang dicapai Kampung Biatan Lempake, antara lain  memiliki peta Areal Nilai Konservasi Tinggi (ANKT), memiliki lembaga konservasi, serta inventarisasi masalah untuk dipecahkan dengan skema keberlanjutan program. Pemetaaan ini penting karena Kampung Biatan Lempake memiliki ANKT seluas ± 6.235 hektare berdasarkan Surat Keputusan Bupati Berau Nomor 287 Tahun 2020 tentang Penetapan Peta Indikatif Perlindungan Areal dengan Nilai Konservasi Tinggi dan Cadangan Karbon Tinggi Pada Kawasan Peruntukan Perkebunan Seluas +/- 83.000 hektare.

YP2SU membantu Kampung Biatan Lempake dalam perencanaan tata kelola pemerintahan, salah satunya dengan membantu penyusunan Rencana Tata Guna Lahan (RTGL). Kegiatannya antara lain pembuatan peta kampung secara partisipatif dalam model peta dua dimensi (2D) yang datar  dan peta tiga dimensi (3D) . Model peta 3D akan sangat membantu warga memahami wilayah dengan lebih jelas, sekaligus mengetahui batas administrasi kampung dengan pemerintah daerah. Selain lebih memahami secara geografis, warga juga bisa mengetahui kondisi kampung terkini. Misalnya, berapa banyak hutan yang tersisa, daerah mana yang curam dan area pegunungan, sekaligus mengetahui posisi aset-aset kampung.

 Pembuatan peta 3D Kampung Biatan Lempake dilakukan bersama aparat kampung, tokoh masyarakat, dan warga.. Pembuatan peta dilakukan selama 2 hari, yaitu 17-18 April 2021, di Balai Kampung Karangan, bersama-sama dengan tim dari Kampung Karangan dan Biatan Bapinang.

.Peta 3D yang telah dibuat diantar ke Kampung Biatan Lempake sebagai bahan persiapan pertemuan partisipatif masyarakat dalam menentukan aset kampung, potensi kampung, dan menyusun visi misi bersama kampung.

Penyusunan  RTGL

Pembuataneta RTGL kampung diawali dengan penggalian data oleh fasilitator kampung dan tim geospasial. Sumber data merujuk ke data Dinas Perkebunan, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang) serta Bagian  erja sama, dan Batas Wilayah di Kabupaten Berau.

Keterangan Foto Peta RTGL dan Tutupan Lahan Kampung Biatan Lempake.

Beberapa kesepakatan yang patut dicatat dalam penyusunan peta RTGL adalah: (1) menetapkan lokasi Nilai Konservasi Tinggi (NKT) sebagai Hutan Desa, (2) mengusulkan kemitraan kehutanan dengan pemerintah atas hutan produksi terbatas di dekat desa, (3) mengusulkan sebagian kawasan mangrove mereka untuk dikembangkan menjadi kawasan konservasi dan edukasi, (4) mengusulkan pantai pasir putih mereka untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata dan muara Biatan sebagai tempat pemancingan umum, (5) mengembangkan mata air sungai Kiti dan sebagian kawasannya menjadi objek wisata pemandian, (6) mengusulkan lokasi untuk perkebunan masyarakat dan kawasan pemukiman, dan (7) mengusulkan bantaran sungai menjadi kawasan perkebunan berkelanjutan bagi warga.