Perspektif

Menilik Pembuatan Peta 3D dan Penyusunan RTGL di Kampung Karangan

3D map
Keterangan Foto Proses Pembuatan Peta 3D Desa Karangan (April 2021) © YKAN

Keterlibatan warga dalam praktik pengelolaan sumber daya alam secara lestari memegang peranan krusial. Peran aktif warga dapat diwujudkan melalui pengenalan sumber daya alam yang menjadi aset di wilayah tempat tinggal dengan sekaligus memahami potensi dan mengelolanya secara lestari.

Yayasan Konservasi Alam Nusantara bersama mitra Yayasan Peningkatan dan Pengembangan Sumber Daya Umat (YP2SU) mendukung penyusunan peta tiga dimensi (3D) di lima kampung di Kabupaten Berau. Pembuatan peta ini adalah bagian dari Program Pendekatan SIGAP untuk kampung-kampung di sekitar perkebunan kelapa sawit yang menjadi bagian dari Proyek Program Sawit Rendah Emisi dengan dukungan dari BMU-IKI Jerman. Kampung Karangan adalah adalah kampung di wilayah pesisir Berau yang menjadi salah satu tempat pelaksanaan Pendekatan SIGAP di sektor Perkebunan Sawit. Salah satu keluaran dari program ini adalah peta 3D dan peta RTGL Kampung.

Proses Pembuatan Peta 3D Desa Karangan (April 2021)
Keterangan Foto Proses Pembuatan Peta 3D Desa Karangan (April 2021) © YKAN

Peta 3D  adalah miniatur bentang alam yang sesungguhnya, menjadi sarana informasi dan pengetahuan bagi warga tentang kondisi kampung dan wilayah sekitar. bentang alam yang sesungguhnya. Peta ini berguna untuk menjadi bahan perencanaan pembangunan kampung dan penyusunan Rencana Tata Guna Lahan (RTGL).

Pada April 2021, YP2SU menggelar pelatihan pembuatan peta 3D dengan peserta dari Kampung Karangan, Kampung Biatan Bapinang, dan Kampung Biatan Lempake. Tim pembuat peta 3D kampung Karangan terdiri dari 5 orang, yaitu fasilitator kampung, fasilitator lokal, dan aparatur kampung. Pembuatan peta 3D berlangsung selama dua hari, 17-18 April 2021, bertempat di Balai Kampung Karangan.

Pembuatan peta 3D diawali dengan mempersiapkan peta kontur yang menjadi acuan untuk memotong styrofoam. Hasil potongan styrofoam, yang telah berbentuk kontur ditempelkan pada lapisan dasar peta.  Agar hasilnya mulus, maka perlu pendempulan di sela-sela kontur. Setelah kering, dilakukan pewarnaan pada peta 3D. Wilayah berhutan diwarnai dengan warna hijau, mangrove dengan warna cokelat muda, pertanian dengan warna kuning, pemukiman dengan warna ungu, sungai dengan warna biru, dan jalan utama dengan warna merah. Tahap selanjutnya adalah melengkapi legenda pada peta tersebut.

Dengan bantuan peta 3D, warga dapat mengenali bentang alam Kampung Karangan dengan lebih mudah. Setiap warga yang melihat peta 3D dapat menujukkan wilayah yang masih terdapat hutan, perbukitan, goa, mata air, hutan kayu yang ditumbuhi berbagai pohon seperti ulin dan bengkirai, habitat orangutan, bekantan, beruang, serta tempat mencari ikan. Selain itu, peta 3D dapat digunakan sebagai alat perencanaan dan pemetaan kampung yang efektif. Warga dapat mendiskusikan perencanaaan terkait hutan, mangrove, dan mata air yang ada di Kampung Karangan.

Sementara itu, pembuatan peta Rencana Tata Guna Lahan (RTGL) pada Kampung Karangan dimulai pada 21 April 2021. Fasilitator menemui warga yang dianggap mengetahui cerita kampung, aset, dan potensi kampung. Menurut warga, Kampung Karangan merupakan kampung tertua di Kecamatan Biatan dengan bentangan wilayah yang cukup luas.  Salah satu isu yang ditemui ketika menyusun peta RTGL  adalah belum jelasnya tapal batas kampung. Peta yang digunakan tidak sesuai dengan peta berdasarkan hasil tagging. Terdapat beberapa wilayah yang tidak masuk ke dalam peta tutupan lahan yang digunakan dalam pembuatan peta 3D. Akhirnya, disepakati bahwa peta tutupan lahan yang digunakan dalam pembuatan peta 3D merupakan peta dasar untuk menggambarkan aset dan potensi Kampung Karangan.

Hasil penyusunan peta Rencana Tata Guna Lahan dan Tutupan Lahan
Keterangan Foto Hasil penyusunan peta Rencana Tata Guna Lahan dan Tutupan Lahan © YKAN

Kampung Karangan kaya akan potensi alam dibandingkan dengan kampung lainnya di Kecamatan Biatan. Dengan adanya karst, Kampung Karangan masih memiliki cadangan hutan alami. Namun demikian, kampung tidak memiliki lahan yang cukup luas untuk digarap oleh masyarakat.

Dalam diskusi penyusunan peta RTGL, warga menyepakati beberapa poin penting, yaitu warga ingin mengembangkan wisata mangrove dengan membangun jembatan titian; Kampung Karangan memiliki beberapa mata air yang dapat dikelola sebagai sumber air bersih  dan kolam pemandian;  karst dapat dikelola menjadi obyek wisata pegunungan yang berbasis ekowisata sekaligus menjaga kelestarian hutan.