Perspektif

Penjanjian Konservasi Terumbu Karang - Dawera

Ditulis oleh Dr. Peter Mous

Dawera Island
Kedatangan Seven Seas Pemandangan di Dawera saat Seven Seas mendekati Pulau Dawera dari Utara. Bentuk pulau yang berlapis menjadi ciri khas pulau-pulau di kawasan ini. © Peter Mous

Dalam perjalanan konservasi dengan operator kapal wisata Live on Board Seven Seas pada November 2020, April 2021, dan November 2021, kami mengunjungi berbagai desa untuk melihat bilamana pemerintah desa tertarik membuat perjanjian konservasi dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), sebuah organisasi nirlaba di Indonesia. Tujuannya adalah untuk melibatkan penduduk desa dalam upaya konservasi terumbu karang di sekitar desa mereka; yakni berkomitmen melindungi terumbu karang dari aktivitas penangkapan ikan, dengan imbalan pembayaran tahunan atau bantuan teknis untuk pengembangan usaha yang ramah lingkungan. Salah satu desa yang kami kunjungi adalah Desa Welora, Pulau Dawera, Kabupaten Maluku Barat Daya. Desa ini menjadi salah satu kandidat wilayah pengembangan cagar alam laut yang dikelola masyarakat.

Dawera Island
Gambar 1 Pemandangan di Dawera saat Seven Seas mendekati Pulau Dawera dari Utara. Bentuk pulau yang berlapis menjadi ciri khas pulau-pulau di kawasan ini. © Peter Mous

Desa Welora di Pulau Dawera mungkin merupakan desa terindah dan paling ramah untuk berwisata di Indonesia bagian timur. Dawera adalah pulau kecil yang hijau, berukuran sekitar enam kilometer di atas sumbu terpanjangnya dari barat laut ke tenggara, dengan karang tepi sempit yang dikelilingi oleh laut dalam (hanya berjarak selemparan batu dari pantai sudah mencapai kedalaman 500 meter). Bentuk pulau menyerupai kue pengantin yang berlapis-lapis dengan ketinggian rendah (Gbr. 1). Pola berlapis ini umum dijumpai pada pulau-pulau di daerah ini. Jalanan dan perumahan di Desa Welora terawat, ada pantai dengan deretan payung pantai, pusat informasi bagi pengunjung, restoran, penanda yang berasal dari era VOC (Perusahaan Hindia Timur Belanda), patung modern dari cangkang triton, yang dilengkapi dengan penunjuk arah untuk memastikan pengunjung tidak tersesat (Gbr. 2, 3, 4, 5). Terdapat jalan setapak di sepanjang pantai di bagian timur laut yang mengarah ke pantai terpencil, dengan, yang nampak seperti anomali di area terpencil ini, tempat sampah yang digunakan untuk memilah sampah. Pantai ini adalah versi kecil dari Kuta di Bali, tetapi lebih terorganisir dan tanpa suasana pesta. Oleh karena Covid-19, tidak ada turis pada saat kami berkunjung pada November 2020, tetapi spanduk yang kami lihat di sana menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten memiliki harapan besar terhadap pariwisata di pulau yang terlupakan ini.

Pantai desa Welora di Pulau Dawera.
Gambar 2 Pantai desa Welora di Pulau Dawera. © Peter Mous
Jalan utama desa Welora, menuju ke alun-alun desa pusat.
Gambar 3 Jalan utama desa Welora, menuju ke alun-alun desa pusat. © Peter Mous
Restoran lokal di dekat pantai Welora
Gambar 4 Restoran lokal di dekat pantai Welora © Peter Mous
Penduduk desa melukis logo VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie, Dutch East India Compagnie), sehingga warnanya tidak asli, tetapi menurut penduduk desa penanda itu asli.
Gambar 5 Penduduk desa melukis logo VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie, Dutch East India Compagnie), sehingga warnanya tidak asli, tetapi menurut penduduk desa penanda itu asli. © Peter Mous

Tepian terumbu karang tepat di depan Desa Welora, di ujung utara Dawera, merupakan lokasi penyelaman yang sangat baik. Area ini menampilkan hamparan taman karang yang indah dengan kedalaman sekitar 15 meter, bersandingan dengan dinding curam di kedua sisinya. Hamparan karang itu mengejutkan kami dengan kumpulan pemijahan kecil (sekitar 50 ikan) dari kerapu karang squaretail, Plectropomus areolatus. Kumpulan ini tidak spektakuler seperti yang ada di Atol Meaterialam, Desa Luang Barat, Kecamatan Mdona Hiera, Maluku Barat Daya. Namun, keberadaan sejumlah besar ikan kerapu karang adalah pertanda baik, mengingat terbatasnya jumlah habitat yang tersedia di tepi terumbu karang sempit di sekitar pulau. Di waktu lain, kumpulan ini mungkin lebih kecil atau lebih besar, karena pembentukan kelompok pemijahan bersifat musiman dan bergantung pada fase bulan.

Kami mengunjungi titik selam ini seminggu setelah bulan purnama di bulan November, tepat di tengah musim pemijahan (Oktober – Januari). Namun, mengikuti fase bulan, berkelompoknya ikan-ikan untuk memijah berlangsung beberapa hari setelah puncak bulanannya. Dinding karangnya juga dihiasi dengan gorgonianssoft corals, dan barrel sponges, menampilkan sekelompok ikan fusilier dan Napoleon wrasse. Penampakan lainnya termasuk sekelompok giant trevallies dan tentu saja beragam spesies ikan karang lainnya.

Dimana Yayasan Konservasi Alam Nusantara dan desa Welora berkomitmen untuk bekerja sama dalam pelestarian terumbu karang di sekitar Pulau Dawera.
Gambar 6 Dimana Yayasan Konservasi Alam Nusantara dan desa Welora berkomitmen untuk bekerja sama dalam pelestarian terumbu karang di sekitar Pulau Dawera. © Peter Mous

Kami sempat berbincang dengan kepala desa dan sekretaris desa tentang konservasi terumbu karang Welora, dan pemerintah desa sangat mendukung konsep tersebut. Sekretaris desa mengambil inisiatif ke tingkat berikutnya dengan membuat upacara dadakan sekaligus mengesahkan pernyataan komitmen! Yayasan Konservasi Alam Nusantara akan menggalang dana untuk melindungi terumbu karang di sekitar Dawera. Kolaborasi antara Desa Welora, operator kapal wisata live on board, pemerintah daerah, dan YKAN akan memastikan bahwa keindahan dan keanekaragaman terumbu karang di sekitar Dawera akan tetap lestari, dan populasi ikan karang akan pulih ke tingkat aslinya.

Perjanjian Konservasi Welora Kerjasama Yayasan Konservasi Alam Nusantara dan Desa Welora dalam konservasi terumbu karang di sekitar Pulau Dawera.