Perspektif

Forlika: Srikandi Pelindung Sigending

Forlika
Kelompok Perempuan Forlika Lahir pada 1 Desember 2015, Forlika berperan sebagai wadah bagi anak-anak muda untuk berekspresi dan memanifestasikan aspirasi mereka dalam menjaga alam. © YKAN

Perempuan lebih peduli terhadap isu lingkungan, karena kerusakan lingkungan akan berdampak pada perempuan. Kerusakan lingkungan adalah masalah bagi perempuan.

Para perempuan Kampung Teluk Sulaiman tidak sungkan menunjukkan warna mereka dalam berkarya dan berinovasi. Mereka menggerakkan kehidupan komunitas, baik secara sosial maupun dalam kepimimpinan. Tidak hanya aktif dalam berbagai kegiatan sosial, para perempuan ini sangat vokal dalam forum masyarakat dan terlibat dalam kelembagaan pemerintahan, Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam), dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Kepedulian mereka tidak hanya sebatas lingkungan sosial dan komunitas mereka, tetapi juga alam sekitar. Aspirasi mereka dalam melestarikan alam pun tertuang melalui Forum Peduli Kelestarian Alam (Forlika).

Para Srikandi dari Teluk Sulaiman yang mendedikasikan jiwa dan raga untuk menjaga alam dan komunitasnya.
Srikandi Forlika Para Srikandi dari Teluk Sulaiman yang mendedikasikan jiwa dan raga untuk menjaga alam dan komunitasnya. © YKAN

Lahir pada 1 Desember 2015, Forlika berperan sebagai wadah bagi anak-anak muda untuk berekspresi dan memanifestasikan aspirasi mereka dalam menjaga alam, sekaligus menyejahterakan masyarakat melalui pengelolaan sumber daya alam secara lestari. Organisasi ini berperan besar dalam mengelola dan menjaga alam Kawasan Sigending.

Kawasan Sigending menjadi magnet bagi Kampung Teluk Sulaiman dengan pesona alam dan keanekaragaman hayatinya yang tinggi. Pemerintah dan masyarakat Kampung Teluk Sulaiman, bersama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan mitra lainnya, melakukan survei potensi biodiversitas di kawasan ini dan memfasilitasi pertemuan dengan pemerintah untuk mengajukan perlindungan Sigending. Aspirasi ini pun terjawab dengan ditetapkannya kawasan seluas 1.500 ha ini sebagai Kawasan Lindung dan Ekowisata Mangrove Sigending berdasarkan Surat Keputusan Bupati Berau No.474 tahun 2016, tentang Penunjukan Kawasan Lindung dan Ekowisata Mangrove Sigending.

Forlika pun ditunjuk sebagai pengelola kawasan Sigending, berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kampung No.1 tahun 2019 tentang Penunjukkan Badan Pengelolaan Kawasan Lindung & Ekowisata Sigending, Kampung Teluk Sulaiman. Forlika juga mengelola insentif yang diberikan dalam skema perhutanan sosial. Insentif ini digunakan untuk mendanai kegiatan-kegiatan ramah lingkungan yang merupakan bagian dari aktivitas ekowisata. Di antaranya kegiatan  persemaian tanaman buah dan tanaman kehutanan, serta pembuatan camping ground di Danau Sigending yang menerima dukungan penuh dari YKAN.

Para perempuan Forlika dan Kampung Teluk Sulaiman penuh semangat dan riang hati melestarikan alam sekitar mereka.
Menjaga alam dan bersenang-senang Para perempuan Forlika dan Kampung Teluk Sulaiman penuh semangat dan riang hati melestarikan alam sekitar mereka. © YKAN

Dalam operasional kegiatannya, Forlika digerakkan oleh kaum perempuannya. Tidak hanya dalam struktur kepengurusan, para perempuan Forlika juga sangat terlibat dalam kegiatan lapangan Forlika seperti penanaman mangrove, serta pembibitan tanaman buah dan kehutanan. Forlika juga mengundang warga kampung di luar organisasinya dan sebanyak 70% warga yang turut serta adalah perempuan.

Mereka secara aktif bergabung dalam berbagai kegiatan Forlika dalam menjaga alam dan mendukung aktivitas ekowisata, serta tidak memandangnya sebagai hal yang membebani. Kegiatan Forlika yang mayoritas dilakukan secara kelompok pada akhirnya menjadi wadah bagi para perempuan untuk saling bersosialisasi sembari merayakan alam dan melestarikannya.

Forlika senantiasa melakukan patroli kawasan Sigending, menulusuri jalur yang penuh dengan bahaya, dengan dan tanpa laki-laki.
Patroli kawasan Sigending Forlika senantiasa melakukan patroli kawasan Sigending, menulusuri jalur yang penuh dengan bahaya, dengan dan tanpa laki-laki. © YKAN

Tidak hanya dalam kegiatan restorasi alam, para ksatria perempuan Forlika juga terlibat dalam patroli kawasan Sigending. Dari kegiatan patrol ini, mereka menemukan titik lokasi dan sebaran flora dan fauna serta goa-goa yang tersebar di kawasan Sigending. 

Pesona Sigending

Sigending menyimpan karisma alami yang senantiasa mencuri hati para turis yang berkunjung.  Kawasan ini merupakan habitat satwa-satwa endemik seperti penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), dan bekantan (Nasalis larvatus). Lubang ikan yang terletak di kawasan ini juga menjadi rumah bagi ikan-ikan seperti kakap, kerapu, baronang, dan lainnya.

Kombinasi alam karst dan karang mewarnai pemandangan danau Sigending dengan nuansa hijau toska dan biru.
Lubang Ikan Sigending Kombinasi alam karst dan karang mewarnai pemandangan danau Sigending dengan nuansa hijau toska dan biru. © YKAN

Keindahaan tempat naungan satwa-satwa eksotik ini juga tidak kalah menarik. Perpaduan batuan karst dan karang mewarnai air danau dengan nada toska dan biru. Goa kelelawar yang langsung terhubung dengan aliran air laut dan Goa Sigending yang dihiasi stalaktit membakar jiwa petualang para wisatawan yang berkunjung. Sumur Belanda Sigending senantiasa melepaskan dahaga pengunjung atas rasa ingin tahu akan sejarah yang tersimpan di dalamnya.

Perpaduan hutan mangrove dan hutan tropis daratan rendah di kawasan ini pun tidak hanya menjadi habitat penting bagi biodiversitas perairan dan daratan. Tanaman hutan kayu dan nonkayu yang ditemukan dimanfaatkan sebagai  sumber penghidupan masyarakat lokal. Sigending juga tidak hanya berperan sebagai habitat padang lamun dan alga; tetapi menyediakan sumber air tawar melalui sungai-sungai. Disebut juga salo-salo dalam bahasa lokal, area ini dimanfaatkan sebagai sumber air minum oleh masyarakat setempat. 

Kendati demikian, kekayaan alam Sigending tidak luput dari intaian bahaya antropogenik. Pembukaan lahan untuk berbagai kepentingan, penebangan kayu, penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan, dan penambangan karst untuk bahan baku semen mengancam kelestariannya.

Ketua Forlika
Vera Rosita Ekayanti Ketua Forlika © YKAN

Vera Rosita Ekayanti, Ketua Forlika, menjelaskan bahwa para perempuan memiliki motivasi tersendiri untuk ikut serta dalam menjaga kelestarian Sigending. Perempuan merupakan pihak yang dapat memberikan kontribusi dalam upaya menjaga alam. Di waktu yang sama, perempuan juga merupakan pihak yang paling terdampak atas masalah lingkungan. “Jika alam rusak, maka [akan] berdampak pada sumber air, pangan, dan ekonomi, yang [di]mana bagian tersebut, di rumah tangga, dikelola oleh perempuan,” jelas Vera. “Karena perempuan harus memastikan keluarganya itu harus hidup di lingkungan yang bersih [dan] aman, dan memastikan keluarganya makan makanan yang sehat,” lanjutnya.

Sadar akan beban dan tanggung jawab perempuan terhadap alam, Vera menekankan pentingnya bagi para perempuan untuk melibatkan diri dalam upaya konservasi alam. “Saya harap perempuan ikut serta dalam melestarikan lingkungan itu sendiri agar menjaga keseimbangan lingkungan.” Harapan ini telah diwujudkan oleh para Srikandi Kampung Teluk Sulaiman, yang bergabung dengan Forlika maupun tidak, dan perjuangan mereka akan diteruskan oleh para Srikandi generasi masa depan.