Siaran Pers

Potensi Nutrisi dan Medisinal dari Jenis-jenis Tumbuhan Pakan Orang Utan di Bentang Alam Wehea-Kelay

TLF 28
Keterangan Foto Direktur Pengembangan dan Pemasaran YKAN berfoto bersama para pemateri dan Dekan Fak. Kehutanan Universitas Mulawarman Prof. Dr. Rudianto Amirta yang juga memberi sambutan dalam acara “Thought Leadership Forum: “Potensi Nutrisi dan Medisinal dari Jenis-jenis Tumbuhan Pakan Orangutan di Bentang Alam Wehea-Kelay”, pada Selasa, 20 Juni 2023. © YKAN

Kontak Media

Setidaknya, ada 1.666 jenis tumbuhan yang dikonsumsi orang utan. Hasil kajian membuktikan, sejumlah tumbuhan pakan orang utan tersebut merupakan tumbuhan obat yang acap kali dikonsumsi manusia. Memiliki tingkat kemiripan genetika sebesar 97% dengan manusia, spesies yang kini menyandang status kritis, atau satu langkah sebelum dinyatakan punah di alam (IUCN, 2016), orang utan memiliki peranan penting dalam mendukung kesejateraan manusia melalui pengembangan industri farmasi dan kesehatan di Indonesia.

Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bekerja sama dengan Universitas Mulawarman melakukan kajian untuk mengetahui  potensi nutrisi dan medisinal yang ada pada berbagai jenis- tumbuhan pakan orang utan. Penelitian ini dilakukan  di Bentang Alam Wehea-Kelay, Kalimantan Timur, sejak November 2021 hingga Mei 2023. Hasil kajian dari penelitian ini dipaparkan dalam diskusi Thought Leadership Forum dengan tema “Potensi Nutrisi dan Medisinal dari Jenis-jenis Tumbuhan Pakan Orangutan di Bentang Alam Wehea-Kelay”, di Jakarta pada Selasa, 20 Juni 2023.

Manajer Kemitraan Program Terestrial YKAN Edy Sudiyono saat memberi paparan tentang latar belakang dan tujuan dilakukannya kajian terkait upaya pelestarian habitat orang utan di Bentang Alam Wehea-Kelay dalam acara “Thought Leadership Forum: “Potensi Nutrisi dan Medisinal dari Jenis-jenis Tumbuhan Pakan Orangutan di Bentang Alam Wehea-Kelay”,  pada Selasa, 20 Juni 2023.
Keterangan Foto Manajer Kemitraan Program Terestrial YKAN Edy Sudiyono saat memberi paparan tentang latar belakang dan tujuan dilakukannya kajian terkait upaya pelestarian habitat orang utan di Bentang Alam Wehea-Kelay dalam acara “Thought Leadership Forum: “Potensi Nutrisi dan Medisinal dari Jenis-jenis Tumbuhan Pakan Orangutan di Bentang Alam Wehea-Kelay”, pada Selasa, 20 Juni 2023. © YKAN

Ajang TLF yang digelar YKAN untuk ke-28 kalinya ini menghadirkan Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Prof. Dr. Irawan Wijaya Kusuma, Direktur Sekolah Tingi Ilmu Kesehatan Samarinda (STIKSAM) Apt. Soepomo, S. Si., M.Si., Direktur Riset dan Pengembangan Dexa Group Prof. Dr. Raymond R. Tjandrawinata, dan Manajer Kemitraan Program Terestrial YKAN Edy Sudiyono sebagai pemateri diskusi.

Bentang Alam Wehea-Kelay merupakan salah satu habitat penting bagi flora dan fauna di Kalimantan. Kawasan ini merupakan habitat bagi sekitar 1.200 individu orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus morio) dan lebih dari 1.500 jenis flora dan fauna. Sejak tahun 2003, YKAN menjalin kerja sama dengan masyarakat lokal dan pemerintah membangun pengelolaan kolaboratif di kawasan Hutan Lindung Wehea.

“Salah satu upaya penting dalam melestarikan alam adalah mengungkap potensinya secara mendalam dan memanfaatkannya secara lestari. Perlindungan satwa kritis terancam punah seperti orang utan bukan semata menjaga populasinya. Dengan kemiripan genetika antara orang utan dan manusia, banyak hal yang bisa dipelajari dan memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Tumbuh-tumbuhan yang dikonsumsi orang utan berpotensi menjadi sumber plasma nutfah bagi kajian dan pengembangan untuk tanaman obat dan pangan manusia. Hal ini meneguhkan peran penting orang utan di alam, berikut keberadaan habitatnya untuk dilestarikan” terang Manajer Kemitraan Program Terestrial YKAN Edy Sudiyono.

Kajian pakan orang utan di Bentang Alam Wehea-Kelay

Kajian dilakukan pada 59 jenis tumbuhan pakan orang utan yang terdapat di Bentang Alam Wehea-Kelay menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen jenis tumbuhan tersebut juga digunakan secara tradisional oleh manusia. “Jenis tumbuhan tersebut digunakan sebagai anti luka, anti infeksi dan peradangan, untuk suplemen, dan penggunaan lainnya,” jelas Prof. Dr. Irawan Wijaya Kusuma, peneliti dari Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, yang memaparkan hasil kajian dari tumbuhan pakan orang utan untuk produk nutrisi, obat, dan kosmetik.

Prof. Dr. Irawan Wijaya Kusuma dari Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, salah satu pemateri dalam “Thought Leadership Forum: “Potensi Nutrisi dan Medisinal dari Jenis-jenis Tumbuhan Pakan Orangutan di Bentang Alam Wehea-Kelay”,  pada Selasa, 20 Juni 2023, memaparkan Potensi bahan alam dari tumbuhan pakan orang utan di Bentang Alam Wehea-Kelay untuk produk nutrisi dan kesehatan.
Keterangan Foto Prof. Dr. Irawan Wijaya Kusuma dari Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, salah satu pemateri dalam “Thought Leadership Forum: “Potensi Nutrisi dan Medisinal dari Jenis-jenis Tumbuhan Pakan Orangutan di Bentang Alam Wehea-Kelay”, pada Selasa, 20 Juni 2023, memaparkan Potensi bahan alam dari tumbuhan pakan orang utan di Bentang Alam Wehea-Kelay untuk produk nutrisi dan kesehatan. © YKAN
apt. Soepomo, S.Si, M.Si – Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda/STIKSAM, salah satu pemateri dalam Thought Leadership Forum 28, memaparkan tentang pengembangan produk kesehatan dan kecantikan berbasis riset bahan alam dari hutan, pada Selasa, 20 Juni 2023.
Keterangan Foto apt. Soepomo, S.Si, M.Si – Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda/STIKSAM, salah satu pemateri dalam Thought Leadership Forum 28, memaparkan tentang pengembangan produk kesehatan dan kecantikan berbasis riset bahan alam dari hutan, pada Selasa, 20 Juni 2023. © YKAN

Salah satunya adalah Macaranga conifera, yang secara umum digunakan sebagai obat tradisional, antara lain untuk obat demam dan batuk, antiperadangan, obat diare, dan sariawan. Di China, tumbuhan ini bahkan telah dibudidayakan sebagai bahan baku minuman kesehatan. Hasil kajian juga mengungkapkan, tumbuhan ini memiliki kandungan antioksidan yang tinggi, sehingga berpeluang digunakan untuk membantu terapi penyakit degeneratif seperti kanker.

Menurut Direktur Sekolah Tingi Ilmu Kesehatan Samarinda (STIKSAM) apt. Soepomo, S. Si., M.Si., hasil kajian ini selaras dengan target pemerintah melalui Renstra Kemenkes RI 2020-2024 bahwa pengembangan bahan baku obat dalam negeri menjadi salah satu fokus dalam rencana aksi percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan. Perkembangan secara global pun memperlihatkan tren kembali ke alam yang mengangkat potensi produk herbal sebagai terapi alternatif untuk kesehatan dan kecantikan.

Hal senada diamini Direktur Riset dan Pengembangan Dexa Group Prof. Dr. Raymond R. Tjandrawinata, yang mengatakan bahwa kekayaan hayati Indonesia adalah modal untuk pengembangan obat modern asli Indonesia atau OMAI dan mendorong kemandirian obat nasional. OMAI juga kini mulai dikenal pasar global.

Berkaitan dengan pengembangan produk dari tumbuhan pangan orang utan di Wehea-Kelay, Edy menegaskan, tanaman potensial yang dikaji difokuskan pada jenis tumbuhan yang mudah tumbuh, tidak dilindungi atau terancam punah, serta memiliki potensi nutrisional dan medisinal. Dengan demikian, apabila akan dibudidayakan dalam skala besar, tidak mengganggu ekosistem hutan itu sendiri.  

Direktur Pengembangan dan Pemasaran YKAN berfoto bersama para pemateri dan Dekan Fak. Kehutanan Universitas Mulawarman Prof. Dr. Rudianto Amirta yang juga memberi sambutan dalam acara “Thought Leadership Forum: “Potensi Nutrisi dan Medisinal dari Jenis-jenis Tumbuhan Pakan Orangutan di Bentang Alam Wehea-Kelay”,  pada Selasa, 20 Juni 2023.
Keterangan Foto Direktur Pengembangan dan Pemasaran YKAN berfoto bersama para pemateri dan Dekan Fak. Kehutanan Universitas Mulawarman Prof. Dr. Rudianto Amirta yang juga memberi sambutan dalam acara “Thought Leadership Forum: “Potensi Nutrisi dan Medisinal dari Jenis-jenis Tumbuhan Pakan Orangutan di Bentang Alam Wehea-Kelay”, pada Selasa, 20 Juni 2023. © YKAN

“Diskusi bersama lintas sektor seperti ini amat diperlukan untuk membangun peluang kerja sama pengembangan lanjutan untuk mendukung terciptanya masyarakat Indonesia yang sehat, dengan memanfaatkan sumber daya alam hayati yang berasal dari hutan di Kalimantan Timur secara berkelanjutan,” tambah Ratih Loekito, Direktur Pengembangan dan Pemasaran YKAN.

Peran yang berbeda dari berbagai sumber dalam upaya kolaboratif menjadi kunci untuk melakukan konservasi di Indonesia. Butuh kerja sama untuk semakin mengembangkan produk tumbuhan pangan orang utan, yang juga menjadi langkah untuk menjaga ekosistem Wehea-Kelay sekaligus melindungi populasi dan habitat orang utan kalimantan, Pongo pygmaeus morio.

Tentang YKAN

Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) adalah organisasi nirlaba berbasis ilmiah yang hadir di Indonesia sejak 2014. Memiliki misi melindungi wilayah daratan dan perairan sebagai sistem penyangga kehidupan, kami memberikan solusi inovatif demi mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif, mengedepankan pendekatan nonkonfrontatif, serta membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak kepentingan untuk Indonesia yang lestari. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi ykan.or.id.