Terrestrial Program

Sustainable Oil Palm

Hutan Sawit
Among the Palm Oil Plantations Berau Regency, East Kalimantan. © YKAN

Anggota Tim

Anggota Tim Sawit Berkelanjutan

Pengelolaan Perkebunan Sawit Berkelanjutan di Berau dan Kalimantan Timur

Pemerintah Indonesia saat ini sedang memprioritaskan penguatan ekonomi kerakyatan, peningkatan daya saing Indonesia di tingkat global, dan perlindungan kualitas lingkungan hidup. Salah satu sektor yang mendukung ketiga prioritas tersebut adalah sektor sawit.;

Pengelolaan perkebunan sawit yang berkelanjutan adalah kunci mencapai prioritas-prioritas tersebut. Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), dan Climate Policy Initiative (CPI) bekerjasama dengan BAPPENAS dan para mitra di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten untuk mengembangkan program pengelolaan perkebunan sawit berkelanjutan.

Inisiatif ini diharapkan dapat mendukung pencapaian prioritas sosial, ekonomi, dan lingkungan Pemerintah Indonesia Inisiatif Pengelolaan Perkebunan Sawit Berkelanjutan bertujuan untuk memastikan bahwa sektor sawit dapat berkembang secara menguntungkan (tujuan ekonomi), namun tetap menghormati serta melindungi hak-hak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari masyarakat lokal (tujuan sosial dan lingkungan).

Program ini akan dilaksanakan selama periode 2015-2022 untuk menghasilkan lima keluaran kegiatan, yaitu:

  1. Penguatan tata kelola, tata guna lahan dan kapasitas pemerintah untuk melakukan perencanaan dan pengawasan,
  2. Analisa sosio-ekonomi dan lingkungan yang mendukung pembuatan kebijakan pengelolaan perkebunan sawit berkelanjutan,
  3. Penguatan kapasitas masyarakat dalam menata lahan dan mengelola konflik sehingga memperoleh manfaat dari perkebunan sawit,
  4. Penyediaan rekomendasi kebijakan dan insentif yang holistik bagi pemerintah daerah serta sektor swasta, dan
  5. Pembentukan forum multipihak sebagai ruang dialog untuk mendorong penyelesaian isu-isu perkebunan sawit. Proyek ini didanai oleh Pemerintah Jerman (Federal Ministry for Environment, Nature Conservation, and Nuclear Safety/BMU).

Sektor sawit menyumbangkan ekspor ketiga terbesar di Indonesia, dan berkontribusi terhadap sepertiga Penerimaan Domestik Bruto Daerah. Petani kecil mengelola sekitar 40% dari perkebunan sawit di Indonesia, yang merupakan sumber penghidupan utama bagi mereka.

Provinsi Kalimantan Timur memiliki lima komoditas unggulan, yaitu sawit, kakao, karet, lada, dan kelapa. Dari kelima komoditas tersebut, komoditas kelapa sawit menyumbang 18,34 juta ton TBS (Tandan Buah Segar) atau 4,03 juta CPO (Crude Palm Oil), disusul kakao sebesar 2.513 ton, karet sebesar 52.817 ton, lada sebesar 5.799 ton dan kelapa dalam sebesar 11.013 ton. Sedangkan total luas perkebunannya mencapai 1.389.845 hektar terdiri atas 255.919 hektar sebagai kebun sawit rakyat/swadaya, 176.109 hektar sebagai kebun non sawit dan sebesar 957.817 hektar sebagai kebun inti (Dinas Perkebunan Kaltim, 2019).

Berdasar kondisi tersebut sektor perkebunan sawit ikut menyumbang terjadinya deforestasi sebesar 576.188 hektar sepanjang tahun 2006 - 2016 akibat pembukaan perkebunan dalam skala besar dan belum mengikuti prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (Program Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca melalui Pencegahan Deforestasi dan Degradasi Hutan berbasis Yuridiksi tahun 2020 - 2024).

Berau adalah kabupaten terbesar ketiga di Kalimantan Timur, dan lebih dari 75% wilayahnya masih tertutup hutan primer dan sekunder. Sama seperti sebagian besar wilayah di Kalimantan Timur lainnya, sektor perkebunan sawit di Kabupaten Berau berkembang pesat dalam lima tahun terakhir ini (Program Karbon Berau 2011-2015). Luas perkebunan kelapa sawit di Berau pada tahun 2016 mencapai 120.000 ha, atau sekitar 1% dari total luas perkebunan sawit di Indonesia dan 10% dari total luas perkebunan sawit di Kalimantan Timur.Namun dalam dokumen RPJMD Kabupaten Berau 2021-2026, mereka ingin melakukan lebih dari sekadar meningkatkan ekonomi pertanian dalam artian luas. Mereka bercita-cita melakukannya dengan cara menjaga sumber daya alam untuk generasi yang akan datang sesuai visi pembangunan perkebunan Provinsi Kalimantan Timur yaitu pembangunan perkebunan yang berkelanjutan yang didasari pada penerapan konsep Green Economy.

Unraveling Pepper Marketing Strategy The role of Geographical Indication certificates in the development of the global white pepper market in East Kalimantan. This episode of BINGKA (East Kalimantan Sustainable Plantation Commodity Talk) will discuss the marketing of East Kalimantan white pepper to penetrate global marketing.

Therefore, East Kalimantan Provincial Government had released Regional Regulation No. 3 on Sustainable Plantation Development in 2018. YKAN supports the provincial government’s efforts, especially the provincial plantation agency, in strengthening the commitment of high conservation values areas protection in estate crops plantation designated areas.

YKAN also assists the regency government, especially the regency plantation agency, in coordinating, monitoring, and reporting ANKT management via field inventory and verification.