muara siran
default © YKAN

Perspektif

Muara Siran, Rumahnya Gambut Dalam yang Terus Bertumbuh

Lahan gambut di Desa Muara Siran, Kalimatan Timur adalah sumber penghidupan masyarakat. Di dalamnya terdapat danau dan hutan yang masih dijaga warga. Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melakukan penelitian pertama di Kalimantan Timur yang mengukur emisi gas karbondioksida dan gas metana pada lahan gambut.

Baca juga: Munara Beba: Cara Suku Biak Karon Menjaga Laut

YKAN melalui strategi Solusi Iklim Alami dari ekosistem gambut melakukan penghitungan simpanan karbon dan pemonitoran emisi gas rumah kaca di Desa Muara Siran sejak pertengahan 2022. Penelitian dikerjakan bersama mitra konservasi yaitu Yayasan Biosfer Manusia (Bioma). Untuk pengukuran simpanan karbon dan umur gambut sampelnya yang diambil berasal dari  karbon yang berada di atas dan di dalam permukaan gambut Muara Siran. Sedangkan untuk pemonitoran emisi GRK, pengukuran bulanan dilakukan bersamaan dengan pemonitoran parameter lingkungan yang relevan seperti muka air tanah, suhu, dan konsentrasi karbon yang terlarut di perairan.

Gugusan Pohon Rasau di Danau Gambut Desa Muara Siaran, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Keterangan Foto Gugusan Pohon Rasau di Danau Gambut Desa Muara Siaran, Kabupaten Kutai Kartanegara. © YKAN

Desa ini memiliki lahan gambut yang terdiri dari danau dan hutan. “Kami temukan ada gambut yang dalamnya hingga 12 meter,” ujar Manajer Senior Karbon Kehutanan dan Perubahan Iklim YKAN, Nisa Novita pada acara Diseminasi Hasil Pengukuran Gas Rumah Kaca (GRK) pada Lahan Basah di Kalimantan Timur yang diselenggarakan di Samarinda, Selasa 5 Maret 2024.

Tim peneliti mengukur gas karbondioksida dan gas metana pada hutan gambut yang masih alami dan yang sudah terganggu. Hutan yang terganggu adalah hutan yang pernah ditebang selama 10 tahun terakhir. Terdata total simpanan karbon 3.113,3 ±245.6 MgC per hektare untuk hutan alami dan 3.713 ±186.5 MgC per hektare untuk hutan terganggu.

Temuan yang menarik lain, adalah gambut di Muara Siran berusia ribuan tahun. “Ada yang 6 ribu tahun, namun ada juga yang masih tergolong muda berumur 100 tahun,” kata Nisa. Melihat umur gambut yang tergolong masih muda, terindikasi bahwa gambut yang masih sedang terbentuk di Muara Siran dikarenakan areal ini sebagian besar masih dalam kondisi yang tergenang tanpa gangguan hidrologis yang berarti.

Perlu diketahui, saat ini warga Muara Siran sudah tidak lagi menebang hutan gambut. Hutan yang juga berada di sekitar danau adalah tempat mereka mencari kehidupan dan terus dijaga. Lokasi ini juga merupakan tempat pemijahan ikan, tempat sarang burung walet, dan merupakan tempat wisata bagi masyarakat di wilayah sekitarnya. Dengan keberadaan danau yang tetap dijaga, maka hal tersebut dapat membantu menjaga kondisi gambutnya tetap alami.