Eco-Print
Keterangan Foto Salah satu karya Hida Ngirhanto Singgih kain Eco-Print yang dipakai pada saat acara Conservation Talk "Perempuan untuk Alam" 22 Desember 2022. © Yudi Mulyadi/YKAN

Perspektif

Berpadu Alam di Perjalanan Menuju Awan

Quote: Hida Ngirhanto Singgih

Jangan jadikan bumi Nusantara ini tempat pembuangan sampah dunia, hanya karena sifat kita yang tidak mau kalah. Atau terbuai dengan kalimat berkah

Keindahan alam harus dilestarikan dan bisa direkam dengan baik tanpa merusaknya dengan eksploitasi alam yang berlebihan. Seperti halnya usaha Hida mempromosikan perlindungan alam yang berdampak pada perekonomian masyarakat. Ecoprint adalah inspirasi yang merekam potensi dan keindahan alam melalui aneka dedaunan. Kain katun putih diwarnai dan dilukis penuh kenangan tentang kemegahan alam kita.

Ecoprint juga solusi masa depan untuk mengurangi beban bumi ini. Perempuan paruh baya asal Solo ini mengenalkan sebuah teknik cetak yang pewarnaan dan pelukisannya menggunakan warna dari alam.

Merekam daun, bunga, dan bagian dari tumbuhan yang memiliki warna dan dicetak sehingga warna dan lukisan daun menempel di kain. Proses cukup panjang, namun menghasilkan keindahan yang tidak mengecewakan. Memiliki nilai ekonomis dan ramah lingkungan.

Keterangan Foto Ibu Hida Ngirhanto Singgih menyerahkan Eco-Print kepada ibu Herlina Hartanto Direktur Eksekutif YKAN sebagai cendera mata pada saat acara Conservation Talk "Perempuan untuk Alam" dalam rangka memperingati hari ibu. Jakarta, 22 Desember 2022. © Della Yulia Paramita/YKAN

Umumnya, bahan kain yang digunakan dalam teknik ecoprint ini adalah kain yang terbuat dari serat alam. Bahan kain dengan serat selulosa (katun dan rami) dan serat protein (wol dan sutera) merupakan jenis kain yang paling cocok untuk diaplikasikan teknik ecoprinting.

Dalam tulisan panjangnya di media sosial, ia menuturkan bahwa Tuhan telah menjerumuskannya untuk peduli pada alam dan terjun langsung ke dunia Eco Art. Berbeda dengan orang lain yang sangat peduli pada perkembangan ilmu eco-friendly, Hida lebih memilih jalan sunyinya bergabung dengan komunitas, kelompok perempuan, dan menyusuri dunia pendidikan untuk melakukan edukasi berbasis keterampilan.

Jalan tersebut memberikan Hida banyak kesempatan berbagi ilmu yang berujung pada ketertarikan sejumlah mahasiswa, kelompok perempuan, dan komunitas untuk membuat kampanye tentang lingkungan di media sosial. Dia membuat wadah untuk sosialisasi seni berbasis alam dan memamerkan hasil karyanya dengan mendirikan Galeri reRonce di Solo.

Suka cita dan cintanya Hida pada alam tidak membuatnya jemawa. Bahkan, ia tak mau menyejajarkan batik dengan hasil karya ecoprint, seperti yang kerap disebut-sebut orang banyak. Menurutnya, Ecoprint bukan batik. Kain batik dan ecoprint tidaklah sebanding. Karena batik adalah sebuah karya adiluhung yang sudah melewati banyak episode kehidupan. Sementara ecoprint adalah upaya kita tumbuh bersama alam.

“Menggabungkan batik dan ecoprint adalah sebuah keniscayaan. Tetapi proses penggabungannya memerlukan banyak pemikiran. Batik dengan motif pakem sangat sarat dengan filosofinya.

Mungkin bagi sebagian orang, hal ini tidak terlalu penting. Bisa mengatasnamakan kemajuan, tapi bagi saya melupakan filosofi batik justru adalah kemunduran,” tegasnya.

Atas semua pencapaian itu, Hida berujar bahwa ini merupakan perjalanan menuju awan. “Ecoprint hanyalah sebuah noktah, tempat singgah. Akan ada satu titik jenuh, jika hanya menjadikannya sebuah karya. Yang banyak orang akan melakukannya. Tetapi menyadari pasti ada perintahNya yang lebih dari sekedar itu,” ungkap Hida.

* Hida Ngirhanto Singgih terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan Nature Award yang diberikan YKAN berdasarkan lomba cerita ‘Perempuan untuk Alam’ dalam rangka memeringati Hari Bumi 2022.