Ubi opa, ubi khas Kaledupa
Keterangan Foto Ubi khas Wakatobi: warisan pangan yang menjaga rasa, budaya, dan masa depan. © YKAN

Perspektif

Dapur Keluarga: Garis Depan Adaptasi Iklim

Oleh Isnaini V. Uswanas – Tim Climate Adaptation YKAN | 30 April, 2026 | 3-menit membaca

“Kami mengonsumsi apa yang orang tua kami sediakan.” Kutipan lugas dari seorang anak muda di Wakatobi ini tampak sederhana, namun sesungguhnya ia mencerminkan persoalan mendalam tentang ketahanan sosial dan ekologis di wilayah pesisir. Di balik kalimat itu, terdapat realitas bahwa pilihan pangan dalam keluarga bukan hanya urusan dapur, tetapi juga strategi bertahan menghadapi krisis iklim.

Baca juga: Kenapa ikan perlu diidentifikasi?

Wakatobi, akronim dari Wanci, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, bukan sekadar gugusan pulau, tetapi aset ekologis dunia yang menyimpan sekitar 750 spesies karang dan telah ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfer sejak 2012. Namun, wilayah kepulauan ini memiliki kerentanan terhadap perubahan iklim. Kajian organisasi nirlaba lingkungkan, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) pada 2023 mengungkap perubahan pola musim dalam dua dekade terakhir menyulitkan nelayan dan petani menentukan waktu tanam dan melaut. Ketidakpastian ini membayangi krisis pangan, disamping faktor pemicu lain seperti keterbatasan lahan dan ketergantungan pada produk impor.

Ubi opa khas kaledupa makanan lokal pengganti nasi
Keterangan Foto Ubi khas Wakatobi: warisan pangan yang menjaga rasa, budaya, dan masa depan. © YKAN

Di tengah kondisi tersebut, pangan lokal seperti ubi-ubian sebenarnya memiliki keunggulan ekologis yang kuat karena lebih tahan terhadap kondisi tanah Wakatobi. Ironisnya, dalam pertemuan dengan warga di Tomia beberapa waktu lalu, terungkap bahwa kasoami atau soami, yaitu pangan khas setempat berbahan singkong, tidak lagi menjadi menu utama mereka. Bukan karena kelangkaan bahan baku, tetapi karena alasan kepraktisan.

Mama Astuti dari Desa Waiti Barat adalah potret pergeseran pola konsumsi tersebut. Ia tumbuh dengan makanan berbasis singkong hampir setiap hari, tetapi kini jauh lebih sering menyajikan nasi kepada anak-anaknya. Alasannya jelas, mengolah singkong membutuhkan waktu panjang. Mulai dari mengupas, membersihkan, memarut sampai mengeringkan, lalu mengukus. Sementara nasi hanya perlu dicuci dan ditanak dalam penanak nasi elektronik alias rice cooker.

Di Wakatobi yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, pergeseran pola konsumsi karbohidrat dari sumber lokal yang tahan iklim ke pangan industri yang ditengahi oleh faktor kepraktisan keluarga telah menciptakan kerentanan baru yaitu ketergantungan pada bahan pangan “impor”. Oleh karena itu, pelestarian dan revitalisasi pangan lokal harus dipahami dan diadvokasi sebagai strategi adaptasi iklim berbasis komunitas yang krusial.

Kerentanan yang Diwariskan

Pernyataan “kami mengonsumsi apa yang orang tua kami sediakan” menggemakan konsep dalam Teori Kognitif Sosial yaitu bahwa perilaku manusia dibentuk oleh interaksi antara perilaku, faktor lingkungan, dan faktor kognitif. Dalam konteks Wakatobi, pilihan keluarga terhadap pangan ‘impor’ bukanlah keputusan yang berdiri sendiri, tetapi hasil dari rangkaian faktor yang saling memengaruhi. Orang tua cenderung memilih pangan impor, seperti beras, karena alasan kepraktisan—sebuah dorongan kuat dari faktor lingkungan yang membentuk situasi sehari hari mereka.

Pilihan itu kemudian diperkuat oleh faktor kognitif, yakni keyakinan bahwa makanan yang paling cepat dan mudah diolah adalah pilihan terbaik bagi keluarga. Keyakinan ini secara tidak sadar diwariskan kepada anak-anak yang tumbuh dengan menganggap pilihan tersebut sebagai standar yang benar. Akibatnya, mereka mengikuti dan mempraktikkannya, menghasilkan perilaku yang diwariskan antar generasi.

Honenga olahan khas kaledupa terbuat dari ubi opa
Keterangan Foto Kelompok perempuan FORLIKA di Kaledupa mengolah ubi opa menjadi honengan, menjaga tradisi sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal. © YKAN

Pilihan itu kemudian diperkuat oleh faktor kognitif, yakni keyakinan bahwa makanan yang paling cepat dan mudah diolah adalah pilihan terbaik bagi keluarga. Keyakinan ini secara tidak sadar diwariskan kepada anak-anak yang tumbuh dengan menganggap pilihan tersebut sebagai standar yang benar. Akibatnya, mereka mengikuti dan mempraktikkannya, menghasilkan perilaku yang diwariskan antar generasi.

Ini bukan sekadar kebiasaan, tapi sebuah siklus kerentanan yang menguat di tengah perubahan iklim. Bila tidak dihentikan, siklus ini akan mempercepat hilangnya pangan lokal dan pengetahuan tradisional yang sebetulnya justru menjadi alat adaptasi paling efektif

Inovasi untuk Pangan Lokal

Jika kepraktisan menjadi alasan pangan lokal ditinggalkan, maka solusinya haruslah inovasi yang praktis. Menghadapi tantangan ini, metode pengolahan ubi-ubian harus dibuat lebih praktis dan modern. Bila beras porang sudah banyak tersedia, inovasi produk dari umbi-umbian lokal juga dapat menjadi keniscayaan. Namun transisi ini memerlukan kolaborasi multi-pihak: pemerintah, lembaga riset, swasta, penggerak sosial, hingga keluarga dan anak muda untuk sama-sama menjadikan pangan lokal sebagai salah satu solusi adaptasi iklim.

Komunikasi menjadi pengungkit penting. Keluarga perlu kembali menjadi role model konsumsi pangan lokal dengan cara yang relevan dan menarik. Orang tua dapat memperkenalkan metode pengolahan yang lebih efisien, sementara anak muda yang akrab dengan media digital dapat berperan mengubah citra kasoami dari makanan “jaman dulu” menjadi ikon pangan resilient yang ramah iklim. Kampanye yang menonjolkan keuntungan relatif pangan lokal, mulai dari nilai gizi hingga ketahanan iklim dapat memperkuat perubahan perilaku ini di tingkat komunitas.

lokakarya ketahanan pangan
Keterangan Foto Diskusi dan praktik langsung dalam community gathering di Kaledupa mendorong solusi ketahanan pangan dari komunitas untuk komunitas. © YKAN

Namun, agar upaya ini tidak berhenti sebagai wacana, diperlukan sinkronisasi program dan ruang kolaborasi praktis di tingkat desa. Integrasi strategi pangan lokal ke dalam rencana kerja lintas pemangku kepentingan akan memastikan keberlanjutan gerakan dan memperkuat ketahanan komunitas menghadapi perubahan iklim.

Pada akhirnya, perang melawan krisis iklim di Wakatobi bukan hanya terjadi di laut atau hutan, tetapi dimulai di dapur rumah tangga. Dapur Keluarga adalah benteng pertahanan terakhir sekaligus garis depan adaptasi iklim yang menentukan kemandirian dan kelestarian ekologis generasi mendatang.