Mangrove to Market: bersama kelompok perempuan Berau
Oleh Sally Kailola, Head of Creative Communication | 31 Maret, 2026 | 3-menit membaca
Mangrove dan perempuan? Bagaimana ceritanya?
Kabupaten Berau merupakan salah satu kabupaten yang memiliki ekosistem mangrove yang luas, sekitar 80 ribu hektare. Sementara itu, mangrove di Berau ini merupakan aset penting, baik secara ekologis yakni menjadi benteng alami pesisir dari abrasi/tsunami, habitat biota laut, dan penyerap karbon aktif, maupun sebagai penunjang ekonomi melalui perikanan, ekowisata, dan produk olahan. Oleh karena itu, dibutuhkan keterlibatan para pihak untuk menjaga dan melindungi ekosistem ini agar tetap terjaga dengan kondisi yang baik serta memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Dari berbagai kelompok masyarakat yang berperan dalam pemanfaatan dan pengelolaan mangrove di Berau, YKAN menemukan bahwa perempuan memiliki andil yang besar dalam menjaga keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan. Oleh karena itu, kami menggandeng kelompok-kelompok perempuan di kabupaten ini sebagai mitra konservasi. Kami juga meningkatkan kapasitas mereka untuk mengembangkan kegiatan ekonomi yang ramah mangrove.
Pada 9-11 Februari 2026 yang lalu, YKAN bersama Pemerintah Kabupaten Berau mengadakan pelatihan kepada kelompok perempuan yang berasal dari 6 desa, yaitu: Kampung Tabalar Muara, Pegat Batumbuk, Tubaan, Semurut, Buyung-Buyung, dan Pilanjau. Kegiatan bertajuk “Mangrove to Market – Pelatihan Holistik Kelompok Perempuan untuk Penguatan Kelembagaan, Produksi, dan Literasi Keuangan” ini merupakan bagian dari program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE) yang mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir (BMUKN) melalui International Climate Initiative (IKI).
YKAN meyakini bahwa penguatan kapasitas perempuan pesisir merupakan kunci untuk membangun ekonomi tangguh sekaligus menjaga kelestarian ekosistem. Pendekatan Mangrove to Market memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya alam berjalan seiring dengan upaya konservasi. Manajer Senior Ekonomi Biru YKAN, Kiki Anggraini, menekankan bahwa ketika kelompok perempuan memiliki kapasitas kelembagaan yang kuat, produksi yang berkualitas, dan pengelolaan keuangan yang baik, maka usaha yang dibangun akan lebih berkelanjutan dan berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga dan lingkungan.
Pelatihan ini disambut baik oleh peserta pelatihan. Ibu Riska Febriani, dari Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Kerja Sama Jaya, Kampung Pegat Batumbuk, mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberikan pengetahuan baru, baik tentang bagaimana memanfaatkan mangrove tanpa merusak, hingga bagaimana mengembangkan usaha kelompoknya mulai dari produksi, sampai dengan pengelolaan administrasi keuangan yang baik.
Semoga kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi kelompok perempuan di berbagai wilayah lain di Indonesia. Kami juga membuka ruang kerja sama yang luas dan mendorong peranan aktif semua pihak untuk bersama menemukan cara yang efektif dan adaptif untuk kehidupan yang lestari.