Atasi Krisis Iklim dengan Tradisi, Seniman dan Pelajar Sabu Raijua Hidupkan Kembali Budaya Tutur
Media Contacts
-
A Yoseph Wihartono
Communication and Reporting Officer
Yayasan Konservasi Alam Nusantara
Email: a.wihartono@ykan.or.id
Pulau Sabu, yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dikenal dengan musim kemaraunya yang panjang dan curah hujannya yang rendah. Namun bagaimana bisa hingga hari ini masih ada saja orang yang bertahan di pulau ini?
Di tengah ancaman kekeringan ekstrem dan kenaikan permukaan air laut, masyarakat Pulau Sabu Raijua kembali menengok tradisi tutur sebagai cara memahami dan beradaptasi dengan perubahan iklim. Melalui festival dan pameran seni bertajuk “Bhineka Iklim dalam Tutur: Seni dalam Adaptasi Iklim” Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua bersama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mengajak seniman lokal serta pelajar SD-SMP untuk menghidupkan kembali pengetahuan adat dan seni lisan sebagai medium kampanye iklim yang berakar pada budaya.
Festival yang berlangsung pada 15-16 April 2026 ini digelar di halaman Perpustakaan Daerah Kabupaten Sabu Raijua dan dihadiri oleh ratusan pelajar serta masyarakat umum. Bupati Kabupaten Sabu Raijua, Krisman Bernard Riwu Kore, turut memaknai kearifan lokal sebagai upaya menghadapi perubahan iklim. “Saya bertanya-tanya bagaimana orang bisa bertahan di Pulau Sabu yang keras ini, tapi nyatanya beratus tahun orang Sabu bisa hidup sampai saat ini dan tetap ada. Ternyata leluhur kita punya kearifan lokal untuk menghadapi iklim seperti ini. Saat kekeringan, kita bisa bergantung pada tumbuhan yang bisa bertahan di cuaca kering seperti di Sabu, misal gula sabu dari pohon lontar,” ujarnya.
Saat ini, Pulau Sabu menghadapi risiko iklim yang nyata, mulai dari kekeringan ekstrem, bencana siklon, hingga kenaikan permukaan air laut. Menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk merespons perubahan iklim masih menjadi tantangan, terutama ketika isu ini kerap dipahami sebagai persoalan ilmiah yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.
Dalam menghadapi tantangan yang kompleks atau krisis iklim, solusi tidak bisa hanya bersifat teknis. Ketika berbicara tentang adaptasi iklim, kita sering berbicara tentang infrastruktur, teknologi, dan pendanaan. Jarang sekali kita berbicara tentang pendorong perubahan yang paling berpengaruh, yaitu perilaku manusia. YKAN mengembangkan program adaptasi iklim yang menyentuh tingkat perilaku dengan harapan agar program ini tidak semata memperbaiki gejala, tapi mengubah sistem dan menciptakan masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, pendekatan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dipilih dalam festival ini. Seni dan budaya tutur dinilai mampu menjembatani fenomena ilmiah tentang perubahan iklim dengan kearifan lokal agar lebih mudah dipahami secara budaya oleh masyarakat. Melalui ekspresi artistik, masyarakat dapat menghidupkan kembali kemampuan adaptasi yang telah tertanam dalam tradisi untuk menghadapi ancaman pemanasan global.
Pelajar dan Seniman Menghidupkan Ingatan Kolektif
Rangkaian festival selama dua hari ini melibatkan lebih dari 150 pelajar. Pada hari pertama (15/4), kegiatan diisi dengan lomba tutur sejarah atau dongeng yang diikuti siswa SD dan SMP. Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan pameran budaya tentang kearifan lokal, seperti siklus hidup pohon nira penghasil gula sabu, kerajinan tenun tradisional, hingga panggung budaya yang menampilkan musik tradisional Ketadu Hab'a yang kini semakin jarang ditampilkan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sabu Raijua, Yoel Riwu, menyambut baik inisiatif ini. "Budaya tutur bukan sekadar cerita. Ia adalah perpustakaan hidup. Ia menyimpan pengetahuan tentang tanaman lokal, tentang cara menjaga sumber air, tentang hubungan manusia dengan lingkungan, serta tentang nilai-nilai kebersamaan dan tanggung jawab. Dalam setiap cerita, ada pesan tentang bagaimana menghadapi kekeringan, bagaimana menjaga pohon sebagai sumber kehidupan, bagaimana memanfaatkan alam tanpa merusaknya, dan bagaimana hidup dalam harmoni dengan lingkungan sekitar," terangnya.
Para peserta mampu merefleksikan kondisi iklim di Sabu saat ini sekaligus mengungkapkan harapan mereka dalam menghadapi perubahan iklim. Giftyne Nicelly Hana Kale Lena, juara pertama kategori SMP dari UPTD SMP Negeri 2 Sabu Timur, dalam tuturannya menggambarkan betapa kritisnya ketersediaan air di daerahnya. "Tanah Sabu terkenal kering. Air adalah harta yang lebih berharga daripada emas. Jika hujan tidak turun, maka tanah retak-retak dan pohon-pohon meranggas," ujar Giftyne.
Kesadaran serupa ditunjukkan oleh juara kategori SD dari UPTD SDN 1 Seba, Rambu Resa Amelia Uli. Ia memandang perubahan musim dengan perspektif yang lebih dalam, bukan sebagai ancaman melainkan pembelajaran bagi manusia. "Bagi kami masyarakat, perubahan musim bukanlah musuh, perubahan musim adalah guru kehidupan. Selama manusia menghormati alam, maka alam akan selalu memberi kehidupan," ucap Rambu.
Memasuki hari kedua (16/4), festival dibuka dengan penampilan Tari Ledo dari siswa SMPN Sabu Barat yang memukau, disusul dengan Talkshow Konservasi Alam bertajuk 'Bhineka Iklim dalam Tutur'. Diskusi ini membedah bagaimana perubahan iklim bukan sekadar isu sains, melainkan pengalaman nyata yang terekam dalam ingatan kolektif masyarakat Sabu.
Dalam diskusi tersebut juga disoroti pentingnya menghidupkan kembali kalender adat sebagai sistem penanda musim dan cuaca alami. Agar kearifan lokal ini tetap relevan, pendekatan pengetahuan modern diperkenalkan sebagai penguat termasuk pemahaman tentang kerentanan iklim dan penyusunan rencana penanggulangan bencana berbasis komunitas.
Sebagai puncak acara, seluruh peserta dan pengunjung menyatu dalam Tari Padoa Massal, sebuah tarian melingkar khas Sabu yang melambangkan persatuan dan tekad kolektif dalam menjaga alam.
Spesialis Ketahanan Pesisir YKAN, I Gusti Ngurah Paulus, menjelaskan bahwa festival ini menjadi salah satu upaya untuk memastikan pengetahuan dari tetua adat terus diwariskan kepada generasi muda., "Tradisi dan kesenian adalah kunci untuk menghubungkan kearifan lokal masyarakat Sabu dengan sains modern, sehingga strategi adaptasi yang dibangun menjadi lebih kuat dan relevan,” ujarnya.
Festival “Bhineka Iklim dalam Tutur” menegaskan bahwa dalam menghadapi krisis iklim, masyarakat Sabu Raijua sejatinya tidak mulai dari nol. Ingatan kolektif yang hidup dalam kalender adat, ritual, dan budaya tutur merupakan modal sosial yang berharga untuk membangun ketahanan iklim jangka panjang. Kedepan, festival ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara pemangku adat, pemerintah daerah, dan masyarakat umum dalam merumuskan rencana pembangunan yang adaptif dan berkelanjutan. Dokumentasi budaya tutur dan katalog pangan lokal yang dihasilkan dari kegiatan ini akan digunakan sebagai basis data untuk memperkuat ketahanan sosial-ekologis jangka panjang di Kabupaten Sabu Raijua.
Tentang YKAN
Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) adalah organisasi nirlaba berbasis ilmiah yang hadir di Indonesia sejak 2014. Memiliki misi melindungi wilayah daratan dan perairan sebagai sistem penyangga kehidupan, kami memberikan solusi inovatif demi mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif, mengedepankan pendekatan nonkonfrontatif, serta membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak kepentingan untuk Indonesia yang lestari. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi ykan.or.id.