Bukan Sekadar Tanam, Belitung Siap Terapkan Pemulihan Hutan Mangrove berbasis Masyarakat dan Ekologis
Media Contacts
-
A Yoseph Wihartono
Communication and Reporting Officer
Yayasan Konservasi Alam Nusantara
Email: a.wihartono@ykan.or.id
Pemerintah Kabupaten Belitung bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menyelenggarakan “Pelatihan Restorasi Ekologi Mangrove berbasis Komunitas” bagi para pemangku kepentingan mangrove dari tingkat kabupaten hingga sejumlah desa di Pulau Belitung. Pelatihan yang melibatkan perwakilan masyarakat dari Desa Sungai Padang, Gantung, dan Dendang ini berlangsung selama tiga hari (7-9 April 2026) di dua lokasi, yaitu Tanjung Pandan untuk sesi pembekalan materi dan Desa Sungai Padang untuk sesi praktik. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas peserta dalam upaya pemulihan ekosistem mangrove secara tepat dan berkelanjutan.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki sekitar 66 ribu hektare mangrove, dengan sebagian besar masih dalam kondisi baik. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, tekanan akibat aktivitas manusia telah menyebabkan lebih dari 10 ribu hektare mangrove hilang.
Oleh karena itu, YKAN mendukung pemerintah provinsi dan kabupaten untuk melakukan restorasi mangrove dengan pendekatan yang berkelanjutan, salah satunya adalah Community-based Ecological Mangrove Restoration (CBEMR), yang menjadi topik utama pelatihan tersebut. Pendekatan ini menekankan bahwa restorasi mangrove bukan sekadar "tanam-lalu-tinggal".
Kajian Global Mangrove Alliance menunjukkan bahwa sebagian besar kegiatan yang hanya berfokus pada penanaman mangrove mengalami kegagalan hingga 80%. Maka dari itu, kapasitas masyarakat lokal harus ditingkatkan, mereka harus dilibatkan sejak awal untuk ikut mengidentifikasi masalah, menyusun perencanaan, memimpin kegiatan, hingga membuat keputusan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Belitung, Marzuki, mengapresiasi inisiasi kegiatan ini. “Pelatihan ini penting karena mengedepankan pendekatan berbasis komunitas. Artinya, masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga menjadi subjek utama dalam menjaga dan merawat ekosistem mangrove. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, kita berharap upaya restorasi ini dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan,” ujarnya ketika memberikan sambutan.
Pelatihan ini mengutamakan pendekatan terstruktur dalam restorasi mangrove, mulai dari peran masyarakat lokal; pemahaman ekologi; perencanaan; pelaksanaan; hingga monitoring dan evaluasi hasil restorasi. Pembekalan ini meliputi materi kondisi biologi mangrove, prinsip CBEMR, perbaikan hidrologi, analisis lokasi restorasi, penilaian biofisik, penyebab kegagalan, monitoring dan pemeliharaan, serta pemetaan pemangku kepentingan, hingga yang paling sering diabaikan adalah K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) serta penanganan satwa liar.
Para peserta sangat antusias dengan pendekatan yang mereka rasa baru ini serta berencana untuk mengadopsinya pada kegiatan rehabilitasi mangrove yang akan mereka lakukan ke depannya. “Awalnya, kami kira rehabilitasi mangrove memang hanya sekadar nanam-nanam saja. Tapi ketika dikasih pelatihan, kita diajarkan aktivitas restorasi yang tidak asal-asalan,” ujar Rahul, peserta pelatihan yang mewakili kelompok masyarakat Desa Gantung. “Gagal bukan berarti kita gagal dalam nanam, tapi gagal memahami situasi,” tambahnya. Kini ia paham cara mendiagnosis gangguan lingkungan mangrove, dan cara penanganannya yang tak harus selalu menanam.
Manajer Program Karbon Biru YKAN, Aji Wahyu Anggoro, menambahkan, “Pendekatan CBEMR bertujuan menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) sekaligus fokus pada pemulihan ekosistem dibandingkan mengandalkan penanaman semata. Dengan kondisi lingkungan yang pulih, hutan mangrove diharapkan mampu beregenerasi secara alami.”
Kegiatan di Pulau Belitung ini merupakan salah satu rangkaian pelatihan untuk pemangku kepentingan di Provinsi Bangka Belitung yang mana selanjutnya pelatihan akan dilakukan di Pulau Bangka pada Juni 2026. Kegiatan yang menekankan pada prinsip kolaborasi, mulai dari pemerintah provinsi, kabupaten, hingga desa, ini berupaya memberi dampak konservasi mangrove yang berkelanjutan. Seluruh hasil pembelajaran dan data yang terkumpul akan menjadi landasan utama dalam menyusun rencana restorasi mangrove yang lebih adaptif, dapat direplikasi, dan berkelanjutan bagi masyarakat di Kepulauan Bangka Belitung.
Tentang YKAN
Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) adalah organisasi nirlaba berbasis ilmiah yang hadir di Indonesia sejak 2014. Memiliki misi melindungi wilayah daratan dan perairan sebagai sistem penyangga kehidupan, kami memberikan solusi inovatif demi mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif, mengedepankan pendekatan nonkonfrontatif, serta membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak kepentingan untuk Indonesia yang lestari. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi ykan.or.id.