Media Contacts
-
Adia Puja Pradana
Communications Specialist Ocean Program YKAN
Yayasan Konservasi Alam Nusantara
Email: adia.pradana@ykan.or.id
Balai Taman Nasional Wakatobi (BTNW) bersama pemerintah daerah, aparat, masyarakat, komunitas penyelam, serta mitra pembangunan, termasuk Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan WWF Indonesia, melakukan penanganan terhadap seekor hiu paus (Rhincodon typus) yang ditemukan terdampar di perairan Desa Matahora, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Penanganan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak untuk memastikan respons yang cepat, aman, dan mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial.
Hiu paus yang memiliki panjang sekitar 9 meter dan bobot diperkirakan mencapai lima ton tersebut pertama kali ditemukan oleh warga pada Sabtu, 19 September 2026. Menindaklanjuti laporan tersebut, BTNW bersama berbagai pihak segera berkoordinasi dan melakukan upaya penanganan dengan mempertimbangkan keselamatan personel, kondisi lingkungan, serta karakteristik lokasi yang dipengaruhi pasang surut laut. Selama beberapa hari, tim gabungan berupaya melakukan penyelamatan dan penanganan satwa tersebut. Namun, kondisi perairan yang sangat dangkal, posisi satwa yang berada jauh dari perairan yang lebih dalam, serta pengaruh surut air laut menjadi tantangan utama yang menghambat proses evakuasi. Pada akhirnya, satwa tersebut tidak dapat diselamatkan dan mati di lokasi.
Setelah melalui koordinasi dan mempertimbangkan aspek teknis maupun lingkungan, tim memindahkan bangkai hiu paus sekitar 700 meter dari lokasi awal terdampar ke area yang lebih jauh dari permukiman sebelum dilakukan pemusnahan. Langkah ini diambil untuk meminimalkan gangguan bagi masyarakat, mengurangi potensi dampak terhadap lingkungan, serta memastikan proses penanganan dapat dilakukan secara aman dan efektif.
Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, La Ode Ahyar Thamrin Mufti, menuturkan bahwa peristiwa tersebut menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan dan sinergi multipihak dalam merespons kejadian yang melibatkan satwa laut berukuran besar di kawasan konservasi.
“Penanganan hiu paus yang terdampar ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Kami menyampaikan apresiasi atas dukungan dan keterlibatan seluruh pihak yang bersama-sama berupaya menangani peristiwa ini. Meskipun menghadapi berbagai tantangan teknis di lapangan, seluruh proses dilakukan melalui koordinasi dan pertimbangan bersama untuk memastikan penanganan dapat dilakukan secara aman dan meminimalkan dampak terhadap lingkungan,” ujar La Ode Ahyar.
Penanganan ini turut melibatkan berbagai pihak, antara lain unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, lembaga pendidikan kelautan, organisasi konservasi, mitra pembangunan, pemerintah desa, serta masyarakat setempat.
Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sarminto Hadi, mengapresiasi respons cepat BTNW bersama para pihak dalam menangani peristiwa hiu paus terdampar tersebut.
“Kami mengapresiasi Balai Taman Nasional Wakatobi, pemerintah daerah, aparat, masyarakat, dan para mitra yang telah sigap melakukan penanganan di lapangan. Penanganan tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi para pihak dalam pengelolaan dan penanganan satwa laut yang dilindungi. Sinergi yang baik antar pemangku kepentingan menjadi kunci untuk memastikan setiap upaya penanganan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan tetap memperhatikan aspek konservasi,” ujar Sarminto.
Kepala Desa Matahora, Saharuni mengatakan, bahwa masyarakat turut membantu proses penanganan sejak hiu paus tersebut pertama kali ditemukan.
“Masyarakat dan pemerintah desa merasa prihatin atas kejadian ini. Selama proses penanganan, kami dan semua perangkat desa selalu berupaya membantu baik tenaga maupun materi dan terus berkoordinasi dengan petugas di lapangan. Bagi masyarakat Wakatobi, laut merupakan sumber kehidupan yang harus dijaga bersama, termasuk satwa-satwa yang hidup di dalamnya,” ujarnya.
Kolaborasi Jangka Panjang untuk Menjaga Laut Wakatobi
Keterlibatan YKAN dalam penanganan peristiwa ini merupakan bagian dari kemitraan yang telah terjalin bersama BTNW dan berbagai pemangku kepentingan dalam upaya menjaga ekosistem pesisir dan laut di Wakatobi. YKAN mendukung penguatan pengelolaan kawasan konservasi, termasuk pengawasan sumber daya alam berbasis masyarakat adat dan penguatan tata kelola laut yang melibatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi konservasi.
Upaya tersebut mencakup dukungan terhadap penyusunan dan sosialisasi prosedur perlindungan sumber daya alam bersama masyarakat adat di kawasan Taman Nasional Wakatobi, serta penguatan peran masyarakat adat dalam menjaga dan mengelola sumber daya pesisir dan laut secara berkelanjutan.
Manajer Senior Perlindungan Laut YKAN, Yusuf Fajariyanto mengatakan, bahwa Wakatobi merupakan salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut yang penting, baik bagi keberlanjutan ekosistem maupun kehidupan masyarakat pesisir. Oleh karena itu, menurut Yusuf, YKAN terus mendukung penguatan pengelolaan kawasan konservasi dan peran masyarakat dalam menjaga sumber daya laut yang menjadi penopang kehidupan masyarakat pesisir.
“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kesehatan ekosistem laut dan kelangsungan hidup satwa dilindungi saling berkaitan. Hiu paus merupakan bagian penting dari keanekaragaman hayati laut Indonesia, sehingga setiap kejadian yang melibatkan satwa dilindungi perlu menjadi perhatian bersama. Upaya perlindungan kawasan, pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, serta keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk menjaga habitat dan spesies laut penting di Wakatobi,” katanya.
Peristiwa terdamparnya hiu paus ini menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan, dukungan sarana dan prasarana yang memadai, serta kolaborasi berbagai pihak dalam merespons kejadian serupa, baik melalui pengadaan fasilitas pendukung maupun kerja sama dengan instansi pemerintah dan sektor swasta yang memiliki peralatan seperti ekskavator. Melalui pembelajaran tersebut, para pihak semakin memperkuat komitmen untuk menjaga kelestarian ekosistem laut Wakatobi sebagai habitat beragam spesies sekaligus sumber penghidupan masyarakat pesisir.
Tentang YKAN
Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) adalah organisasi nirlaba berbasis ilmiah yang hadir di Indonesia sejak 2014. Memiliki misi melindungi wilayah daratan dan perairan sebagai sistem penyangga kehidupan, kami memberikan solusi inovatif demi mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif, mengedepankan pendekatan nonkonfrontatif, serta membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak kepentingan untuk Indonesia yang lestari. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi ykan.or.id.