Siaran Pers

Festival Kor'a Inasua Dorong Penguatan Budaya dan Pengetahuan Konservasi Laut di Teon, Nila, Serua

Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir
Keterangan Foto Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, tengah mencicipi kreasi inasua yang dibuat oleh kelompok perempuan di Kecamatan TNS. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN

Media Contacts

  • Adia Puja Pradana
    Communications Specialist Ocean Program YKAN
    Yayasan Konservasi Alam Nusantara
    Email: adia.pradana@ykan.or.id

Upaya penguatan budaya lokal berbasis pangan tradisional kembali ditegaskan melalui penyelenggaraan Festival Kor’a Inasua di Kecamatan Teon Nila Serua (TNS), Kabupaten Maluku Tengah. Festival yang dihelat pada 10-11 April 2026 ini menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus medium edukasi konservasi laut, seiring keterkaitan erat antara keberlanjutan sumber daya laut dan tradisi pengolahan inasua.

Inasua adalah produk kuliner tradisional berupa ikan fermentasi khas masyarakat TNS yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia sejak 2015. Kuliner ini merupakan metode pengawetan ikan dengan garam yang lahir dari kebutuhan pangan saat musim angin. Inasua merepresentasikan pengetahuan lokal masyarakat pesisir dalam mengelola hasil tangkapan secara efisien dan berkelanjutan. Ikan yang digunakan, termasuk yang berasal dari perairan laut dalam, menegaskan pentingnya menjaga kesehatan ekosistem laut sebagai sumber utama bahan baku.

Tenci Lakotani, Ketua kelompok perempuan Nila.
Keterangan Foto Inasua adalah produk kuliner tradisional berupa ikan fermentasi khas masyarakat TNS yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia sejak 2015. © Adia Puja/YKAN

Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, menegaskan bahwa penguatan budaya seperti inasua harus berjalan seiring dengan upaya pelestarian sumber daya alam. “Sebagai pangan tradisional, inasua menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir di Maluku, khususnya TNS. Dalam hal ini, menjaga laut menjadi berkorelasi antara kelestarian lingkungan dengan keberlanjutan budaya dan ekonomi masyarakatnya,” ujarnya.

Selain aspek kearifan lokal dan budaya, penguatan kapasitas kelompok perempuan menjadi komponen penting pada festival ini melalui serangkaian pelatihan. Pelatihan difokuskan pada peningkatan kualitas produksi inasua, termasuk aspek higienitas dan keamanan pangan, penguatan literasi keuangan melalui pencatatan dan perencanaan usaha, serta pengembangan produk dan strategi pemasaran berbasis olahan inasua. Pendekatan ini sekaligus memperkuat peran perempuan sebagai aktor kunci dalam ekonomi pesisir dan pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Festival ini juga turut melibatkan generasi muda TNS untuk melestarikan budaya inasua dan menumbuhkan kesadaran pentingnya menjaga alam, khususnya laut. Keterlibatan kaum muda ini dilakukan melalui serangkaian kegiatan edukasi seperti pelatihan lingkungan hidup, lomba membuat konten sosial media, serta permainan-permainan edukasi konservasi.

Hal senada disampaikan Camat Teon Nila Serua, Ronald Wonmaly, yang melihat festival ini sebagai momentum strategis untuk memperkuat kesadaran kolektif masyarakat. “Kami mendorong masyarakat untuk terus menjaga praktik-praktik lokal yang bijak dalam memanfaatkan hasil laut. Festival ini menjadi ruang belajar bersama tentang pentingnya laut yang sehat bagi kehidupan sehari-hari,” katanya.

Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir
Keterangan Foto Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, tengah mencicipi kreasi inasua yang dibuat oleh kelompok perempuan di Kecamatan TNS. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN
Muhammad Ilman YKAN's Ocean Program Director & Zulkarnain Awat Amir Bupati Maluku Tengah
Keterangan Foto Pemaparan singkat oleh Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, terkait perancangan kawasan konservasi perairan di Perairan TNS yang dilakukan oleh pemerintah dengan dukungan YKAN. © Adia Puja/YKAN

Dari sisi adat, Ketua Badan Latupati Kecamatan TNS, Natanel Tuakora,  menekankan bahwa nilai-nilai kearifan lokal telah lama mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam. “Adat mengajarkan kami untuk tidak mengambil lebih dari yang dibutuhkan. Laut adalah warisan leluhur yang harus dijaga, agar tetap memberi kehidupan bagi generasi berikutnya,” ungkapnya.

YKAN Dukung Penguatan Adat dan Konservasi

Bersama mitra dan masyarakat, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melalui program kelautan, mendukung pelestarian sumber daya kelautan dan perikanan melalui penguatan budaya lokal, edukasi konservasi, pengembangan ekonomi masyarakat pesisir, dan promosi pangan tradisional berbasis hasil laut di Pulau TNS. Pendekatan berbasis budaya dinilai efektif dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Dalam hal ini, pangan tradisional inasua erat kaitannya dengan pengelolaan laut yang sehat. Salah satu preferensi terbaik untuk bahan baku inasua adalah ikan babi. Ikan babi dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan nama ikan gindara (Ruvettus pretiosus), ikan dari keluarga Gemylidae.

Seka Tena, tarian tradisional asal TNS
Keterangan Foto Seka Tena, tarian tradisional asal TNS menjadi pembuka Festival Kor'a Inasua, Kecamatan TNS, Maluku Tengah. © Adia Puja/YKAN

Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman menyampaikan bahwa praktik tradisional seperti inasua mencerminkan nilai efisiensi dan keberlanjutan yang relevan dengan pendekatan konservasi. “Kami melihat bahwa penguatan adat dan budaya lokal merupakan fondasi penting dalam mendorong praktik perikanan berkelanjutan. Ketika masyarakat menjaga tradisinya, di saat yang sama mereka juga menjaga ekosistem laut. Hal ini sejalan dengan perancangan kawasan konservasi perairan di Perairan TNS yang dilakukan oleh pemerintah dengan dukungan YKAN,” ujar Ilman.

Festival Kor’a Inasua diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat adat, dan mitra pembangunan dalam menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi publik bahwa laut yang sehat merupakan prasyarat utama bagi keberlangsungan budaya dan ekonomi masyarakat pesisir.

Tentang YKAN

Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) adalah organisasi nirlaba berbasis ilmiah yang hadir di Indonesia sejak 2014. Memiliki misi melindungi wilayah daratan dan perairan sebagai sistem penyangga kehidupan, kami memberikan solusi inovatif demi mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif, mengedepankan pendekatan nonkonfrontatif, serta membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak kepentingan untuk Indonesia yang lestari. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi ykan.or.id.