Inasua, Makanan Tradisional Khas Maluku Tengah
Oleh Sally Kailola, Head of Creative Communication | 06 Maret, 2026 | 3-menit membaca
Makanan fermentasi tradisional sebagai hidangan istimewa merupakan salah satu unsur keanekaragaman kuliner yang ditemukan di banyak daerah di Indonesia. Jenis makanan ini sangat terkait dengan adat istiadat dan lingkungan sekitarnya, serta menampilkan karakteristik masing-masing daerah dan etnis.
Baca juga: Potensi budidaya Rotan dan Ekowisata di Kampung Long Beliu
Di Maluku, Inasua adalah makanan fermentasi sederhana dan tradisional yang terbuat dari ikan dengan menggunakan garam sebagai bahan dasar. Makanan ini dapat dijumpai di Maluku Tengah, khususnya di Kecamatan Teon Nila Serua (TNS). Nama inasua sendiri berasal dari kata “ina” (ikan) dan “sua” (garam).
Selain berfungsi sebagai cadangan makanan pada masa paceklik, inasua juga menjadi bekal penting dalam pelayaran, terutama ketika masyarakat dahulu membawa cengkih dan pala ke pulau-pulau lain. Hingga kini, inasua tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai santapan keluarga maupun hidangan dalam acara adat dan perayaan keagamaan (Natal).
Bagi masyarakat TNS, inasua bukan hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga bagian dari identitas etnik, pengikat keluarga, dan sumber penghasilan. Menariknya, produk ini dikenal dengan berbagai nama lokal, seperti di Pulau Teon disebut dengan nama ina manna, ina skua di Pulau Serua, dan inasua di Pulau Nila.
Bahan baku inasua adalah ikan laut, hasil tangkapan nelayan di Pulau TNS. Jenis ikan yang umunya digunakan adalah ikan babi, ikan kakatua, kerong-kerong, bobara, dan ekor kuning (Nara et al., 2013).
Masyarakat TNS memiliki preferensi terhadap jenis ikan tertentu karena memberikan rasa yang lebih enak dan daya simpan lebih baik. Salah satu preferensi terbaik untuk bahan baku inasua adalah ikan babi. Ikan babi dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan nama ikan gindara (Ruvettus pretiosus), ikan dari keluarga Gemylidae.
Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan hubungan antara makanan dan kesehatan, masyarakat juga sudah menyadari bahwa ikan dan kerang merupakan makanan bergizi dan sehat. Ikan tidak hanya mengandung senyawa asam lemak omega-3 tetapi juga protein.Protein dari ikan merupakan sumber yang baik dari segi fungsional dan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan gizi manusia. Hal ini membuat Inasua menjadi bagian penting yang perlu tetap dijaga keberadaannya, baik sebagai warisan adat budaya tetapi juga mendukung ketahanan makanan masyarakat yang baik.
Pada tahun 2015, inasua ditetapkan oleh pemerintah sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) melalui No SK : 186/M/2015 dengan kode referensi AA000809 dalam kategori Kemahiran dan Kerajinan Tradisional. Hal tersebut dapat dilihat pada tautan:
https://referensi.data.kemendikdasmen.go.id/budayakita/wbtb.
Penetapan ini sekali lagi menegaskan bahwa Inasua adalah bagian dari identitas masyarakat TNS yang hidup digugusan pulau-pulau kecil vulkanis di Laut Banda. Status ini memberi legitimasi bahwa inasua adalah bagian dari warisan budaya nasional yang perlu dilestarikan, dipromosikan, dan dikembangkan menjadi produk unggulan daerah.
Bersama mitra dan masyarakat, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melalui program kelautan, mendukung pelestarian sumber daya kelautan dan perikanan melalui penguatan budaya lokal, edukasi konservasi, pengembangan ekonomi masyarakat pesisir, dan promosi pangan tradisional berbasis hasil laut di TNS, Maluku Tengah.
YKAN juga mendukung Inasua yang berperan sebagai warisan kuliner dan warisan adat, sekaligus simbol ketahanan pangan, kreativitas, dan identitas masyarakat pesisir. Inasua bukan hanya warisan kuliner Provinsi Maluku, tetapi juga contoh nyata kearifan lokal yang relevan dengan isu modern seperti ketahanan pangan, keamanan pangan, dan potensi pengembangan pangan fungsional.