Geliat Desa Eilogo Bertahan pada Era Moderen dan Ancaman Perubahan Iklim: Cerita Desa Kecil di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur
Bagian 4: Melangkah Menuju Perubahan
Oleh Sally Kailola, Head of Creative Communication | 11 Maret, 2026 | 3-menit membaca
"Memperkuat ketahanan masyarakat pesisir dengan memahami kerentanan dan ancaman penghidupan mereka, serta memfasilitasi proses mencari solusi, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya perlindungan alam"
Mariski Nirwan | Senior Manager Coastal Resilience YKAN
Artikel ini adalah cerita bagian akhir dari cerita bersambung: Geliat Desa Eilogo Bertahan pada Era Moderen dan Ancaman Perubahan Iklim: Cerita Desa Kecil di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Cerita pertama hingga ketiga dapat ditemukan di sini (Mengenal Penghidupan Desa Eilogo & Ancamannya, Hidup Bersama Bencana, Memahami Titik Lemah Untuk Bisa Bangkit).
Masyarakat pesisir adalah kita, Bangsa Indonesia. Berabad-abad bangsa ini bergaul akrab dengan alam. Ancaman perubahan iklim menjadi tantangan bagi kita untuk menemukan cara dari alam untuk menghadapinya. Alam dapat menuntun kita kembali menjadi kuat, jika saja kita saling mendengarkan.
Baca juga: Air Bersih Gratis dikala Hujan di Ogan Komering Ilir (OKI)
Hal ini yang dilakukan oleh YKAN bersama masyarakat Desa Eigolo.
Langkah pertama yang mereka lakukan adalah, memanfaatkan interaksi sosial informal sebagai sarana untuk berbagi pengetahuan. Ruang ini memberikan kesempatan luas untuk berbicara dengan siapa saja, dengan situasi yang lebih santai. Di sini, banyak informasi dari warga yang bisa didapatkan, jika lebih banyak mendengarkan.
Setelah itu, mereka mendudukkan perspektif dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemimpin tradisional dan kelompok antar komunitas, termasuk kaum muda. ini adalah momen yang tepat untuk menghidupkan kembali kearifan lokal sebagai alternatif yang layak, sekaligus menanamkan kebanggaan akan identitas budaya di Desa Eilogo. Untuk menarik minat masyarakat, mereka menggunakan teknologi yang tepat dimana adat budaya dan kearifan lokal di desain secara lebih artisitik dan kekinian, sehingga dapat menarik perhatian generasi muda.
Selanjutnya, mereka secara konsisten membingkai pernyataan-pernyatan yang memiliki kaitan langsung dengan masyarakat, serta berdampak pada perubahan pola pikir. Pesan yang mempromosikan pemahaman ini harus disampaikan secara independen atau diintegrasikan ke dalam semua bentuk komunikasi yang ditujukan kepada berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan semua lapisan masyarakat. Mereka memastikan komunikasi pesan ini harus melampaui sekadar sosialisasi, disampaikan secara konsisten untuk menciptakan peluang internalisasi.
Tim YKAN dan masyarakat pada akhirnya bersama mendorong suatu program yang dirancang melalui pendekatan yang berpusat pada manusia. Rasa kepemilikan dan keinginan untuk perbaikan ditumbuhkan sejak awal. Hal ini dilakukan sebagai strategi adaptif kolektif, bukan hanya inisiatif yang berfokus pada proyek. Pendekatan desain ini juga mempertimbangkan konteks pemulihan pasca bencana, bertujuan untuk merangsang ekonomi regeneratif yang secara sistematis menguntungkan masyarakat dan lingkungan.
YKAN juga menyadari bahwa kesenjangan yang ada antara lembaga adat dan badan pemerintahan memerlukan kerangka kerja kerja sama. Diharapkan dengan adanya kolaborasi yang kuat, maka ada kontribusi pengetahuan dari ilmu sosial dan ilmu hayati, termasuk meningkatkan pemahaman tentang perubahan lingkungan. Pada akhirnya, diharapkan nantinya kebijakan yang akan dibuat, benar-benar mempertimbangkan situasi dan kondisi yang sebenarnya di desa, termasuk mempertimbangkan kearifan lokalnya sebagi bagian dari strategi program.
Saat ini, masyarakat Desa Eilogo telah merumuskan ide-ide mereka dalam bentuk solusi komunal berbasis kearifan lokal dan kekuatan alam Sabu itu sendiri. Inisiatif untuk memperkuat penghidupan dan beradaptasi terhadap bencana diformulasikan bersama-sama melalui kegiatan konservasi air dan apotik hidup yang ditajuk Beta Cinta Alam. Satu langkah baru, untuk memperkuat ketahanan kehidupan mereka.
Aku membayangkan bahwa terobosan-terobosan ini tidak terlepas dari komitmen kolektif untuk membuat perubahan. Proses internalisasi sosial bukanlah suatu hal yang mudah, atau cepat.
Namun aku yakin, ikatan kekerabatan yang mengusung nilai-nilai yang sama, merupakan modal dasar yang kuat, yang telah menjadi pilar kekuatan mereka selama turun temurun. Bagaimanapun, peran aktif masyarakat untuk hidup seimbang dengan alam pernah ada sebelumnya. Saatnya untuk menggali kekuatan itu.
Kini, aku menginginkan pergi ke wilayah pesisir dengan pemandangan yang indah, bukan saja untuk liburan singkat, tetapi sekaligus ingin mendalami kehidupan dan kebudayaan setempat. Apakah mereka juga sudah memiliki solusi terhadap ancaman perubahan iklim? Aku yakin, banyak hal menarik menungguku di sana. Tak sabar rasanya untuk segera berkunjung, bagaimana dengan kamu?