Sungai kering di Sabu Raijua
Jembatan Sungai kering di Sabu Raijua yang mencerminkan kondisi kekeringan dan terbatasnya sumber air di wilayah tersebut. © Adia Puja/YKAN

Perspektif

Geliat Desa Eilogo Bertahan pada Era Moderen dan Ancaman Perubahan Iklim: Cerita Desa Kecil di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur

Bagian 3: Memahami Titik Lemah Untuk Bisa Bangkit

Oleh Sally Kailola, Head of Creative Communication | 11 Maret, 2026 | 3-menit membaca

Sally Kailola
Sally Kailola Head of Creative Communication

Selengkapnya

Artikel ini adalah cerita ketiga dari cerita bersambung: Geliat Desa Eilogo Bertahan pada Era Moderen dan Ancaman Perubahan Iklim: Cerita Desa Kecil di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Cerita pertama & kedua dapat ditemukan di sini (Mengenal Penghidupan Desa Eilogo & Ancamannya, Hidup Bersama Bencana).

Untuk menemukan jawaban yang memberikan harapan akan adanya perubahan, kita perlu terlebih dahulu memahami bagaimana kebudayaan dan tata cara hidup masyarakat ini.

Tim program kelautan YKAN, khususnya tim Ketahanan Pesisir mencoba untuk mendalami bagaimana kondisi sosial budaya di Desa Eilogo.  Melalui studi kerentanan dan perubahan perilaku yang dilakukan, ditemukan situasi yang cukup menarik di desa ini.

Baca juga: Prototipe Produk Bioprospeksi yang Terinspirasi Dari Tumbuhan Pakan Orang Utan

Sama seperti desa-desa lain di Indonesia, Desa Eilogo masih menceritakan adat budaya dan cara hidup masyarakatnya. Bahkan, ditemukan adanya kearifan lokal yang telah berlangsung lama, terkait bagaimana mereka bisa hidup seimbang dengan alam.

Namun, saat berdiskusi dengan beberapa tokoh masyarakat di sana, ditemukan adanya kekhawatiran terputusnya kehidupan masyarakat modern Desa Eilogo dengan alam sekitarnya. Budaya yang ada hanya diwujudkan dalam perayaan adat, namun terputus dari kehidupan sehari-hari. Selain itu, ditemukan adanya potensi perubahan perilaku petani yang mau tidak mau, akhirnya mengikuti perubahan zaman. Dan, yang cukup memprihantinkan adalah, bagaimana perubahan ini berkaitan bukan saja pada perubahan cara hidup dan budaya mereka, tetapi juga pada lingkungan mereka.

Sorgum menjadi salah satu sumber pangan utama bagi masyarakat di Desa Eilogo
Sorgum Sorgum menjadi salah satu sumber pangan utama bagi masyarakat di Desa Eilogo. Namun budidaya sorgum kini semakin berkurang karena proses pengolahannya yang rumit dan membutuhkan banyak tenaga kerja. © Leeshalom/Wiki Common

Secara historis, sorgum telah memegang posisi penting sebagai sumber makanan utama di Desa Eilogo, namun budidayanya mengalami penurunan yang nyata selama bertahun-tahun, terutama disebabkan oleh berbagai kompleksitas dan tantangan yang terkait dengan metode pengolahannya. Persyaratan pengolahan sorgum yang membutuhkan banyak tenaga kerja, termasuk menumbuk, menggiling, dan memasak bijinya, membuatnya kurang praktis dibandingkan dengan beras, yang sering dianggap sebagai pilihan yang lebih mudah diakses bagi banyak rumah tangga.

Saat ini, nasi telah menjadi makanan pokok utama dalam hidangan sehari-hari yang dikonsumsi oleh masyarakat Eilogo, mengalahkan hidangan tradisional lainnya.  Program pemerintah yang intensif mempromosikan beras dan bantuan pertanian sawah padi sampai dengan bagaimana hingga nasi berada di meja, merupakan salah satu pemicu nasi menjadi pilihan utama makanan mereka.

Dalam pertanian baru ini, ketergantungan pada zat kimia telah berlangsung  selama bertahun-tahun. Menariknya, bahkan pejabat pemerintah secara terbuka mengakui bahwa, dari perspektif mereka sebagai petani, mereka menganggap pupuk dan peralatan penyemprotan sebagai alat yang sangat diperlukan untuk praktik pertanian mereka.

Konsultasi bersama masyarakat di Sabu Raijua terkait pengembangan apotik hidup.
Keterangan Foto Konsultasi bersama masyarakat di Sabu Raijua terkait pengembangan apotik hidup. © YKAN

Hal ini tentu saja, menyebabkan suatu persoalan baru. Bahan kimia, makanan dan lingkungan, serta ketergantungan pada uluran bantuan pihak lain.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan praktik pangan lokal dan pelestarian pengetahuan pertanian tradisional. Meningkatnya ketergantungan pada beras tidak hanya mengancam signifikansi budaya tanaman lokal tetapi juga berisiko mengurangi kekayaan keanekaragaman kuliner yang telah dibudidayakan selama beberapa generasi. Belum lagi masalah lingkungan, dan ketergantungan terhadap ”impor beras” dari luar daerah.

Melihat realita ini, maka semakin jelas bahwa solusi sistematis dan terstruktur sangat dibutuhkan untuk mengatasi dan menyelesaikan masalah sistemik ini, yang bukan saja memengaruhi pertanian tetapi juga cara hidup, dan relasi dengan lingkungan.

Pikiranku kembali berkecamuk, mengingat keluarga Gadja. Bagaimana jika, tiba-tiba ada bencana, apa yang bisa dilakukan untuk bertahan hidup?

Langkah pertama adalah, perubahan pola pikir. Langkah kedua,  - mungkin - perubahan perilaku? aku terus merenung, apakah mungkin?

Sally Kailola

Head of Creative Communication

Tentang Sally Kailola