Perspektif

Menyelami Sisi Lain Sasi di Kapatcol

Ditulis oleh Herlina Hartanto

Sasi
Keterangan foto Beberapa anggota Kelompok Perempuan Waifuna bersiap untuk menyelam. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN

Berkecimpung di dunia konservasi selama lebih dari dua dasawarsa, sasi bukanlah sesuatu yang asing bagi saya. Masih segar di ingatan, literatur yang saya baca ketika di bangku kuliah mengenai praktik sasi yang dijalankan di Maluku dan kompleksitas penerapannya di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dari populasi yang terus bertambah. Saya juga memahami praktik ini sudah beradaptasi dan berevolusi. Masyarakat adat yang awalnya menerapkan sasi di daratan, kemudian juga menerapkannya di laut. Mereka juga menggabungkan nilai dan hukum adat dengan hukum agama dan hukum positif agar moratorium pemanenan sumber daya alam dan hukum adat tetap relevan dan “bergigi.”

 

Saya menerima cenderamata berupa piring dari Ketua Kelompok Perempuan Waifuna Mama Almina Kacili.
Keterangan foto Saya menerima cenderamata berupa piring dari Ketua Kelompok Perempuan Waifuna Mama Almina Kacili. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN

Walau sasi bukan konsep asing, kunjungan singkat saya dan rekan-rekan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) ke Kampung Kapatcol, Distrik Misool Barat, Raja Ampat, Papua Barat, pada akhir Maret 2022 membuka cakrawala baru bagi saya. Kampung dampingan YKAN sejak 2009 ini letaknya terpencil. Berjarak 180 kilometer dari Sorong, atau 5 jam perjalanan dengan menggunakan speed boat. Di kampung yang penduduknya sekitar 200 orang inilah terdapat sekelompok perempuan yang telah menjalankan sasi laut sejak 2011.

Mereka tergabung dalam Kelompok Perempuan Waifuna, yang dalam bahasa setempat berarti berkah dari Tuhan yang Maha Kuasa. Sasi yang mereka terapkan kental dengan muatan adat setempat dan nilai konservasi, yaitu memberikan kesempatan bagi alam dan biota laut, misalnya teripang dan lobster, untuk tumbuh dan berkembang biak sebelum dipanen secukupnya. Namun, cerita mama-mama di Kampung Kapatcol menampilkan ragam sisi lain dari sasi. Di sini, sasi bukan sekadar praktik konservasi. Di sini, sasi menjadi wadah untuk menanamkan beragam nilai dan untuk menggantungkan harapan. 

Tekad gigih

Pada suatu siang, Mama Almina Kacili, Ketua Kelompok Waifuna, bercerita bahwa ibu-ibu di Kampung Kapatcol awalnya tergerak menjalankan sasi karena keterbatasan yang mereka rasakan. Bermula pada 2012, mereka tidak punya apa-apa untuk merayakan Hari Raya Paskah. Rasa tidak berdaya ini mendorong mereka mencetuskan ide sasi perempuan yang akan dijalankan di lokasi yang berbeda dengan sasi milik kaum laki-laki. Harapannya, saat sasi dibuka di wilayah yang mereka lindungi, hasil panen dapat  dipakai untuk berkontribusi terhadap kehidupan kampung.

Kesenian suling tambur menyambut saya dan tim YKAN saat tiba di Kampung Kapatcol pada Maret 2022.
Keterangan foto Kesenian suling tambur menyambut saya dan tim YKAN saat tiba di Kampung Kapatcol pada Maret 2022. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN

Ketika ditanya bagaimana kaum laki-laki di Kapatcol menanggapi ide ini, Pak Kristian Kacili, Sekretaris Kelompok Tani Hutan Povun Kapatcol bercerita bahwa awalnya mereka meragukan sasi perempuan akan diikuti dan dihormati oleh nelayan luar kampung. Seperti yang kita ketahui, hukum adat umumnya diikuti oleh anggota masyarakat adat setempat tetapi sulit diterapkan kepada pihak luar. Sasi yang dijalankan oleh kaum perempuan diantisipasi akan menghadapi tantangan yang lebih besar. Walaupun demikian, bapak-bapak di kampung ini tetap mendukung dan memberikan kesempatan bagi Kelompok Waifuna.

Pada tahun pertama, inisiatif Kelompok Waifuna ini tidak memberikan hasil alias “kosong.” Kegagalan awal ini tidak memadamkan tekad mereka. Sebaliknya, mereka terdorong mencari lokasi sasi baru. Di lokasi baru inilah sasi perempuan terus dijalankan sampai sekarang. “Walau kami penuh kekurangan, tetapi kami tetap semangat,” kata Mama Yorina, seorang guru dan salah satu anggota Kelompok Waifuna.  

Baca juga:  Penjanjian Konservasi Terumbu Karang - Dawera

Semangat dan ketabahan jelas diperlukan untuk menjalankan sasi. Walaupun mama-mama di Kampung Kapatcol adalah penyelam ulung, terbiasa menyelam bebas sedalam 7-8 meter dengan menggunakan kacamata alami dari bahan kayu buatan sendiri, mereka tetap kesulitan menghadapi ombak dan angin kencang yang terjadi selama 3 hari penuh saat masa buka sasi pada Maret 2022. Seharusnya, setelah memberlakukan sasi selama setahun, inilah saatnya memanen hasil. Namun, tak hanya harus berhadapan dengan dampak perubahan iklim, mereka juga menghadapi kenaikan harga bahan bakar.

Menikmati indahnya alam bawah air di Kampung Kapatcol dengan snorkeling.
Keterangan foto Menikmati indahnya alam bawah air di Kampung Kapatcol dengan snorkeling. © Awaludinnoer/YKAN

Mau tak mau, para anggota Waifuna harus menyisihkan dana membayar bahan bakar kapal untuk mencapai lokasi sasi dan membayar tenaga penyelam. “Hasil sasi tahun ini sedikit. Kami harus menyisihkan Rp2 juta untuk biaya bahan bakar mesin kapal dan bapak-bapak yang menyelam. Dana yang tersisa dari hasil penjualan teripang dan lobster hanya sebesar Rp1,7 juta,” kata Mama Almina. Dana inilah yang menjadi kas kelompok dan digunakan untuk berbagai kebutuhan warga kampung. Pada tahun-tahun sebelumnya, dana hasil panen sasi dipakai untuk keperluan kelompok, kegiatan keagamaan, dan bahkan mendukung pendidikan anak muda di kampung.

Asa dari sasi

Pada sasi, kaum perempuan Kampung Kapatcol menggantungkan asa. Harapan bahwa anak-anak mereka dapat mengenyam pendidikan tinggi dan berbakti kepada kampung. Harapan bahwa posisi guru dan bidan di Kapatcol suatu hari nanti dipegang oleh anak-anak mereka sendiri. Sama seperti para anggota Waifuna meneruskan inisiatif Mama Betsina Hay, pelopor sasi perempuan Kampung Kapatcol yang meninggal pada tahun 2015, para mama Waifuna berharap anak-anak mereka dapat melanjutkan sasi perempuan di masa depan.  Tanpa Mama Betsina, tidak akan ada sasi perempuan di Kapatcol. Tanpa adanya ketertarikan dan komitmen dari para pemudi, tidak akan ada sasi perempuan di Kapatcol di masa depan.

Marsince Korwa, salah satu anggota Kelompok Perempuan Waifuna, mengenakan kacamata selam tradisional yang terbuat dari kayu dan kaca.
Keterangan foto Marsince Korwa, salah satu anggota Kelompok Perempuan Waifuna, mengenakan kacamata selam tradisional yang terbuat dari kayu dan kaca. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN

Yunita Mulyani Amberbaken, putri Mama Agustina, menyatakan kesiapan para pemudi membantu ibu-ibu mereka yang sudah melengkapi biaya sekolah melalui sasi. Kiranya ini menjadi pertanda bahwa keberlanjutan sasi perempuan bukan sekadar harapan.

Walaupun singkat, kunjungan saya ke Kampung Kapatcol memberikan kesan yang mendalam. Masih membekas di ingatan saya, sambutan hangat dari mama-mama, kemeriahan musik suling tambur yang dimainkan oleh kelompok pemuda, cerita-cerita yang saya dengar  pada siang hari itu, dan kemeriahan acara berenang bersama mama-mama di penghujung kunjungan.

Saya datang ke Kapatcol untuk mendengar inisiatif konservasi. Saya pulang dengan pemahaman baru mengenai sisi lain dari sasi. Walaupun nilai dan harapan yang digantungkan pada sasi oleh para ibu di Kampung Kapatcol tidak terkait konservasi, nilai dan harapan tersebut sama mulianya dan bahkan memberikan makna yang lebih mendalam terhadap inisiatif sasi yang mereka lakukan.

Beberapa anggota Kelompok Perempuan Waifuna bersiap untuk menyelam.
Keterangan foto Beberapa anggota Kelompok Perempuan Waifuna bersiap untuk menyelam. © Nugroho Arif Prabowo/YKAN

Bersama harapan mereka tersebut, saya titipkan satu harapan lagi: agar inisiatif Kelompok Waifuna di kampung terpencil di Misool Barat ini menginspirasi banyak orang. “Ibu datang ke sini karena sasi,” kata Mama Yorina. Saya yakini, saya bukan orang terakhir yang akan mengunjungi Kampung Kapatcol untuk mencari inspirasi dari perjuangan dan semangat ibu-ibu di tempat terpencil ini.

Saya berharap, cerita sasi di Kapatcol akan menggapai lebih banyak perempuan di Indonesia, bahkan di banyak tempat di dunia. Karena ketika para perempuan berdaya, maka kita dapat lebih cepat mewujudkan mimpi besar kita untuk melihat masyarakat hidup sejahtera di tengah-tengah alam yang lestari.