Tarian Hekulu-kulu
Keterangan Foto Di senja Pantai Hondue, enam siswi Kollosoha menarikan Hekulu-Kulu dengan kulu-kulu di tangan—menghidupkan tradisi tangkap ikan ramah lingkungan dan pesan menjaga laut. © Adia Puja/YKAN

Perspektif

Merawat Laut dan Tradisi di Kabupaten Wakatobi Lewat Tarian Hekulu-Kulu

Oleh Adia Puja Pradana, Communications Specialist Ocean Program YKAN | September 01, 2025 | 1-menit membaca

Adia Puja
Adia Puja Pradana Communications Specialist Ocean Program YKAN

Selengkapnya

Semburat cahaya jingga menari di permukaan laut, mengiringi kembalinya baskara di kaki cakrawala Pantai Hondue: tempat lahirnya tarian Hekulu-Kulu.

Sore itu, enam siswi SD Negeri Kollosoha, Kecamatan Tomia, Kabupaten Wakatobi, sudah bersiap di bibir pantai, lengkap dengan kabaea kapipi, kain furai ragi-ragi dan kampuru sebagai pelindung kepala. Masing-masing anak memegang kulu-kulu. Mereka akan membawakan tarian Hekulu-kulu di hadapan para wisatawan.

Baca juga: Upaya Melestarikan Budaya dan Sejarah Wakatobi melalui Pariwisata

Tarian Hekulu-kulu Di senja Pantai Hondue, enam siswi Kollosoha menarikan Hekulu-Kulu dengan kulu-kulu di tangan—menghidupkan tradisi tangkap ikan ramah lingkungan dan pesan menjaga laut. © Natgeo

Masyarakat pesisir di Desa Kollo Soha, memiliki kedekatan yang intim dengan laut. Bagi mereka, laut bukan sekadar bentangan air asin, melainkan sebagai sumber penghidupan dan ruang tradisi. Salah satu jejak tradisi yang tersisa adalah cara menangkap ikan dengan kulu-kulu: alat penangkap ikan tradisional yang terbuat dari anyaman bambu.

Selengkapnya baca di sini.

Adia Puja

Communications Specialist Ocean Program YKAN

Tentang Adia Puja Pradana