Coral Triangle Resilience Kick off
Keterangan Foto Peserta peluncuran program dan dialog interaktif pada saat acara peluncuran program di Jakarta, 14 April 2026. © YKAN

Perspektif

Perjalanan Perempuan Mendukung Pengelolaan Sumber Daya Alam Di Segitiga Terumbu Karang

Bagian 1 | Kabar Gembira: Perempuan Dari 4 Negara Sepakat Menjaga Segitiga Terumbu Karang Dunia

Oleh Sally Kailola, Head of Creative Communication | 29 April, 2026 | 3-menit membaca

Sally Kailola
Sally Kailola Head of Creative Communication

Selengkapnya

Cerita ini merupakan bagian pertama dari artikel “Perjalanan Perempuan Mendukung Pengelolaan Sumber Daya Alam di Segitiga Terumbu Karang”.

Pernahkah kamu mendengar Segitiga Terumbu Karang atau Coral Triangle?

Ya, Segitiga Terumbu Karang merupakan wilayah perairan yang merupakan pusat  keanekaragaman hayati dunia, yang juga menghubungkan 6 negara yang berada di sekitarnya, termasuk Indonesia, Filipina, Kepulauan Solomon, Papua New Guinea, Timor Leste dan Malaysia. Bisa dibayangkan ya betapa luasnya wilayah ini, nah tepatnya sekitar 6 juta Km² lebih.  Menariknya juga, Segitiga Terumbu Karang ini merupakan salah satu dari prioritas utama konservasi laut dunia. Tentu saja, hal ini disebabkan karena perairan ini memiliki 76% dari semua spesies terumbu karang dunia, dan terdapat lebih dari 3000 spesies ikan yang tinggal di sini.

Baca juga: Teknologi Terbarukan Dalam Pengelolaan Hutan Lestari

Dan, di dalam bentang laut yang luas ini, sebuah kisah yang kuat sedang terungkap—kisah yang dipimpin oleh perempuan dari empat negara yang telah bersatu dengan komitmen bersama untuk melindungi, merawat, dan melestarikan Segitiga Karang untuk generasi mendatang.

CTI Map
Keterangan Foto Wilayah Segitiga Terumbu Karang, yang dikelola oleh CTI-CFF. © CTI-CFF

Namun saat ini, wilayah tersebut menghadapi berbagai ancaman, terutama ancaman perubahan iklim yang dapat berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat pesisir. Belum lagi, banyak masalah ekspoitasi sumber daya yang menggunakan cara-cara yang tidak ramah lingkungan seperti praktik perikanan yang tidak berkelanjutan dan polusi.   Negara-negara di wilayah ini menghadapi tantangan bersama. Misalnya, tantangan kehilangan keanekaragaman hayati, serta keterbatasan perempuan dan masyarakat adat dalam berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari ekosistem Segitiga Terumbu Karang.

Namun, ada kabar gembira. The Nature Conservancy (TNC) menginisiasi sebuah program yang bertujuan untuk menguatkan peranan perempuan dalam mengelola sumber daya pesisir dan perairan di wilayah ini. Program yang didukung oleh pemerintah Kanada ini, bekerja sama dengan kelompok-kelompok perempuan dari Indonesia, Papua Nugini, Filipina dan Kepulauan Solomon, yang diharapkan hasilnya juga akan berdampak pada negara Malaysia dan Timor Leste melalui pertukaran pembelajaran.  Selain itu, TNC juga menggandeng beberapa organisasi yakni, World Wide Fund for Nature (WWF) Filipina dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) untuk bersama mengawal proses implementasi program dilapangan. Pada tanggal 14 April 2026, TNC bersama Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF), meluncurkan program ini di Jakarta.

Dalam sambutannya, Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Jess Dutton, menyampaikan bahwa program ini dilaksanakan dengan tiga pilar utama. Pertama, peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kepemimpinan perempuan agar dapat berperan aktif dalam pengelolaan sumber daya alam. Kedua, perluasan akses terhadap mekanisme pendanaan yang memungkinkan partisipasi setara perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam dan solusi perubahan iklim. Ketiga, penguatan keterlibatan perempuan dalam tata kelola serta advokasi kebijakan.

Coral Triangle Resilience Kick off Jakarta
Coral Triangle Resilience Kick off Jakarta
Keterangan Foto Peserta peluncuran program dan dialog interaktif pada saat acara peluncuran program di Jakarta, 14 April 2026. © YKAN

Tentu saja besar harapan program ini dapat membawa perubahan nyata. Silpa Botot, yang datang dari Kampung Aduwei, Distrik Misool Utara, Raja Ampat, Papua Barat Daya,  menyampaikan harapannya atas program yang didukung Pemerintah Kanada ini. Menurutnya, dukungan tersebut sangat penting untuk menjaga kelestarian alam yang merupakan warisan leluhur mereka. “Terima kasih sudah membantu perempuan di Misool. Semoga ke depan upaya kami bisa lebih baik dan lebih maju, serta tidak berhenti sampai di sini. Kami masih ingin terus belajar agar alam tetap terjaga hingga anak cucu,” ujar Silpa Botot, yang juga merupakan anggota kelompok perempuan Joom Jak Sasi. Kelompok ini, sejak tahun 2022 dipercaya untuk mengelola sumber daya alam di wilayah mereka melalui sistem sasi.

Apakah pertemuan dan komitmen para perempuan hebat ini hanya sampai di sini? Ternyata tidak. Mereka melanjutkan perjalanan ke Bogor, untuk saling bertukar pengalaman dan pengetahuan selama 3 hari kedepannya.

Penasaran ingin tahu lebih lanjut cerita mereka? Yuk lanjutkan simak di bagian kedua cerita ini di sini.

Sally Kailola

Head of Creative Communication

Tentang Sally Kailola