Menguatkan Tambak, Memulihkan Mangrove, dan Menumbuhkan Harapan
Oleh Adia Puja Pradana, Communications Specialist Ocean Program YKAN | 08 Mei, 2026 | 3-menit membaca
Di Kampung Pegat Batumbuk, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, perubahan tidak datang dalam bentuk lompatan besar. Ia tumbuh perlahan, mulai dari perbaikan tambak, perubahan cara pandang, hingga menumbuhkan keberanian petambak untuk mencoba pendekatan baru. Hal ini merupakan salah satu upaya PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) atau PT PII bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pengelolaan Hutan Mangrove Berbasis Masyarakat melalui Budi Daya Udang Berkelanjutan yang mendorong model tambak yang tidak lagi memisahkan produksi dan konservasi. Program ini berlangsung sejak Desember 2021 hingga September 2024.
Baca ini juga: Perjalanan Perempuan Mendukung Pengelolaan Sumber Daya Alam Di Segitiga Terumbu Karang
Pegat Batumbuk dikenal sebagai salah satu sentra tambak terbesar di Kabupaten Berau, dengan sekitar 7.000 hektare merupakan tambak aktif. Selama bertahun-tahun, produksi udang menjadi sumber penghidupan utama. Namun, tekanan terhadap mangrove dan tingginya ketergantungan pada input kimia menghadirkan risiko ekologis dan ekonomi. Program Shrimp Cabon Aquaculture (SECURE) hadir untuk menjawab dua kebutuhan sekaligus, yakni: menjaga fungsi mangrove dan memastikan budi daya tetap produktif.
Keberhasilan program tidak lahir tanpa tantangan. Pada siklus pertama budi daya udang windu di tambak model, mengalami serangan penyakit white spot yang menyebabkan kematian massal. Bagi petambak, situasi ini bukan sekadar kerugian finansial, tetapi juga ujian terhadap pendekatan baru yang sedang dicoba. Panen total terpaksa dilakukan, meskipun hasilnya kurang maksimal.
Namun, titik balik justru terjadi setelah fase ini. Evaluasi berbasis data kualitas air, yang meliputi suhu, pH, salinitas, dan oksigen terlarut, menjadi dasar perbaikan manajemen tambak. Pada siklus kedua, dengan penerapan probiotik, pengelolaan air lebih ketat, serta penyesuaian teknik budi daya, panen parsial menghasilkan 21,5 Kg udang windu dan 11 Kg udang bintik, dengan nilai ekonomi mencapai Rp3.440.000 (Tiga Juta Empat Ratus Empat Puluh Ribu Rupiah). Secara kuantitas, angka ini mungkin belum besar untuk luas tambak yang ada. Namun, secara kualitatif, ini menandai pemulihan kepercayaan diri petambak terhadap program ini.
Keberhasilan lain terlihat pada perubahan input produksi. Melalui Sekolah Lapang Petambak yang diikuti 25 peserta, petambak mempraktikkan pembuatan kompos dan Mikroorganisme Lokal (MoL) dari bahan organik sekitar. Pendekatan ini mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sekaligus memperbaiki struktur tanah tambak. Pada beberapa kasus, petambak melaporkan kualitas air lebih stabil dan biaya operasional lebih terkendali.
Restorasi mangrove juga mulai terintegrasi dalam desain tambak. Dengan pendekatan Community Based Ecological Mangrove Rehabilitation (CBEMR), petak restorasi tidak lagi dianggap sebagai ruang yang “tidak produktif”. Sebaliknya, ia menjadi penyangga ekologis yang menjaga sirkulasi air, kualitas lingkungan, dan ketahanan tambak terhadap perubahan ekstrem. Diskusi teknis antara fasilitator, pemilik tambak, dan pemangku kepentingan desa menghasilkan desain yang lebih adaptif terhadap kondisi biofisik setempat.
Program ini juga terdapat berbagai tantangan. Selain ancaman penyakit, persoalan teknis seperti posisi pintu air yang kurang optimal, kandungan zat besi tinggi dalam tanah, serta variasi praktik antar petambak memerlukan pendampingan berkelanjutan. Perubahan perilaku juga tidak terjadi seketika. Sebagian petambak masih membandingkan efektivitas metode baru dengan praktik lama yang sudah mereka kenal selama bertahun-tahun.
Adapun indikator keberhasilan program tidak hanya diukur dari hasil panen. Perubahan praktik budi daya menjadi capaian penting. Petambak kini terbiasa melakukan pengukuran kualitas air secara periodik dan mendiskusikan hasilnya bersama. Sekolah Lapang sebagai ruang pembelajaran dan peningkatan usaha berkembang menjadi ruang belajar kolektif tanpa stigma.
Bagi PT PII, dukungan dalam program ini memperlihatkan bahwa intervensi berbasis masyarakat dapat menghasilkan dampak kebermanfaatan, di antaranya; ekonomi lokal yang lebih kuat, masyarakat yang berdaya, ekosistem mangrove yang lebih terjaga, dan kontribusi terhadap agenda penurunan emisi karbon nasional. Sementara bagi YKAN, Pegat Batumbuk menjadi contoh bahwa model “satu pulau, satu tambak demonstrasi” memiliki potensi replikasi, dengan catatan adaptasi lokal tetap menjadi prinsip utama.
Kisah Pegat Batumbuk menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan narasi tanpa hambatan. Ia dibangun melalui proses, perbaikan, dan komitmen bersama. Mulai dari serangan white spot hingga panen parsial yang membaik, peralihan pupuk kimia ke kompos, hingga tambak konvensional ke desain berbasis ekologi, semua berlangsung secara bertahap tetapi terarah.
Di pesisir Berau, keberhasilan program ini tidak hanya tercermin pada angka produksi, tetapi pada perubahan cara pandang, bahwa mangrove dan tambak tidak harus saling meniadakan. Keduanya dapat dikelola dalam satu lanskap yang sama, selama masyarakat ditempatkan sebagai penggerak utama dan pembelajaran dijadikan fondasi.