Perkuat Data Emisi Nasional, BRIN dan YKAN Lakukan Uji Lapangan Kebakaran Gambut di Kalbar
Media Contacts
-
Meita Annissa
Public Communications Manager YKAN
Yayasan Konservasi Alam Nusantara
Email: meita.annissa@ykan.or.id
Pusat Riset Ekologi (PRE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melakukan studi uji pembakaran lahan gambut secara terkendali di Singkawang, Kalimantan Barat, pada 15–18 Juni 2026. Studi ini bertujuan menghitung emisi gas rumah kaca (GRK) dari kebakaran gambut yang selama ini menjadi salah satu kontributor utama emisi nasional dan sorotan global. Selain itu, studi juga akan menilai dampak dari kebakaran tersebut terhadap kualitas udara dan tanah gambut.
Pembakaran dilakukan secara terbatas dan terkendali, dengan pengawasan ketat sesuai prosedur keselamatan penelitian. Studi ini merupakan bagian dari upaya memperkuat basis ilmiah sekaligus mengisi kesenjangan data dalam perhitungan emisi kebakaran gambut. Hasilnya diharapkan dapat mendukung sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV) emisi gas rumah kaca yang berbasis data primer teruji dari lapangan.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Wahyu Catur Adinugroho, menjelaskan bahwa penelitian ini dirancang untuk menghasilkan data empiris yang lebih akurat mengenai dinamika kehilangan karbon akibat kebakaran gambut. “Selama ini, estimasi emisi dari kebakaran gambut masih memiliki tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi. Melalui eksperimen lapangan yang terkendali, kami dapat mengukur parameter penting seperti kedalaman gambut terbakar, kehilangan biomassa, serta fluks gas rumah kaca, sehingga perhitungan emisi menjadi lebih akurat,” ujarnya.
Studi dilakukan di lahan gambut terdegradasi dengan menyiapkan tiga plot pembakaran berukuran 10 x 10 meter yang direplikasi guna memastikan konsistensi data. Berbagai parameter diamati secara menyeluruh, mulai dari karakteristik bahan bakar alami seperti semak belukar, serasah, kayu mati, hingga perubahan sifat fisik dan kimia gambut.
“Kami mengukur emisi karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan dinitrogen oksida (N₂O) sebelum, selama, dan setelah pembakaran dengan menggunakan eddy flux tower dan teknik closed dynamic chamber untuk memperoleh gambaran utuh dampak kebakaran terhadap lingkungan,“ terang Wahyu.
Kalimantan Barat dipilih sebagai lokasi penelitian karena merupakan salah satu wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan, terutama pada ekosistem gambut. Masyarakat setempat memiliki tradisi membakar lahan untuk membuka ladang. Studi dilakukan pada semak belukar dan hutan sekunder di lahan gambut terdegradasi dengan mempertimbangkan aspek aksesibilitas, tipe tutupan lahan, dan riwayat kebakaran.
Lahan gambut merupakan salah satu ekosistem penyimpan karbon terbesar di dunia. Namun, ketika terdegradasi dan terbakar, ekosistem ini dapat melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar ke atmosfer, menjadikannya sumber signifikan emisi GRK di Indonesia.
Peneliti Lahan Gambut dan Iklim YKAN, Nisa Novita, menambahkan bahwa hasil studi ini akan berkontribusi pada penyempurnaan faktor dari kebakaran gambut tropis. “Selama ini Indonesia sering dicap kontributor utama emisi gas rumah kaca dari sektor lahan, terutama dari kebakaran lahan gambut. Namun, karena terbatasanya studi mengenai emisi kebakaran gambut ini, ketidakpastian dalam perhitungan emisi tersebut masih tinggi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa hasil penelitian ini penting untuk meningkatkan akurasi pelaporan emisi nasional, termasuk dalam kerangka Konvensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC) serta komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi.
“Sejumlah penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa kedalaman gambut yang terbakar bisa mencapai 30 cm. Namun, hasil pengamatan di lapangan menunjukkan angka tersebut berpotensi terlalu tinggi. Perbedaan ini menjadi sangat signifikan ketika digunakan untuk menghitung total emisi per hektare per tahun, apalagi jika dikalikan dengan luas area dan periode waktu. Karena itu, perhitungan tersebut perlu diperbaiki menggunakan data empiris yang lebih akurat, seperti yang dihasilkan dalam studi ini,” ungkap Nisa.
Studi Perilaku Api untuk Pengendalian Kebakaran
Selain mengumpulkan data emisi GRK, penelitian ini juga bertujuan mempelajari perilaku api dalam kebakaran gambut. Saat plot dibakar, tim peneliti memantau laju rambat api, intensitas, serta faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan angin.
Pakar pengelolaan kebakaran hutan dan lahan, Israr Albar, mengatakan bahwa pemahaman ini penting untuk meningkatkan efektivitas penanganan kebakaran di lapangan. “Informasi ini sangat membantu, terutama bagi Manggala Agni, untuk memahami arah dan kecepatan pergerakan api, serta karakteristiknya. Dengan demikian, pemadaman dapat dilakukan lebih efektif sekaligus menjaga keselamatan petugas, terutama di lahan gambut yang aksesnya sering kali sulit,” jelasnya.
Penelitian ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Universitas Tanjungpura, Manggala Agni Daerah Operasi Singkawang, serta Masyarakat Peduli Api Desa Marhaban sebagai lokasi penelitian. Pembakaran lahan untuk penelitian ini direncanakan akan dilakukan kembali dalam beberapa minggu ke depan pada saat musim kemarau, hingga data yang terkumpul dinilai memadai. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan untuk memperbaiki inventarisasi emisi GRK nasional sekaligus mendukung penyusunan strategi pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang lebih efektif berbasis sains.
Tentang YKAN
Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) adalah organisasi nirlaba berbasis ilmiah yang hadir di Indonesia sejak 2014. Memiliki misi melindungi wilayah daratan dan perairan sebagai sistem penyangga kehidupan, kami memberikan solusi inovatif demi mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif, mengedepankan pendekatan nonkonfrontatif, serta membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak kepentingan untuk Indonesia yang lestari. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi ykan.or.id.