Wehea-Kelay Jadi Percontohan MUK, Bentala Kalimantan Perkuat Kolaborasi Pengelolaan Hutan
Oleh Sally Kailola, Head of Creative Communication | 07 Oktober, 2026 | 3-menit membaca
Di jantung Kalimantan Timur, hamparan hutan Wehea-Kelay masih menjadi rumah bagi orang utan, owa, beruang madu, bekantan, rangkong, dan berbagai satwa endemik lainnya. Namun seperti banyak kawasan hutan produksi di Indonesia, lanskap ini juga menghadapi tantangan besar, yakni bagaimana menjaga hutan tetap lestari sekaligus memastikan bahwa hutan dapat memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
Baca juga: Komitmen bersama perusahaan konsesi dalam konservasi sumber daya hutan
Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Kehutanan menetapkan Wehea-Kelay sebagai salah satu lokasi percontohan implementasi Multiusaha Kehutanan (MUK). Melalui pendekatan ini, hutan tidak lagi hanya dipandang sebagai sumber kayu, tetapi juga sebagai penghasil berbagai manfaat lain seperti jasa lingkungan, agroforestri, hingga perdagangan karbon.
Bagi Wehea-Kelay, penunjukan ini menjadi momentum penting. Selama lebih dari satu dekade, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama pemerintah, perusahaan pemegang izin kehutanan, masyarakat adat, dan berbagai mitra telah bekerja menjaga lanskap seluas ratusan ribu hektare ini. Kini, upaya tersebut mendapatkan dorongan baru melalui penerapan MUK yang bertujuan membangun model usaha kehutanan yang lebih beragam, produktif, dan berkelanjutan.
Untuk mewujudkannya, YKAN menginisiasi Bentala Kalimantan, sebuah platform kolaborasi yang diluncurkan pada 2024 untuk mendorong pengelolaan lanskap secara terpadu. Inisiatif ini mencakup bentang alam Wehea-Kelay yang diperluas, menghubungkan 15 konsesi kehutanan serta 38 desa masyarakat adat dan komunitas lokal dalam satu visi bersama, menjaga hutan sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Melalui Bentala Kalimantan, YKAN dan para mitra tengah mengembangkan model bisnis kehutanan yang mengombinasikan hasil hutan kayu dengan sumber pendapatan yang lebih hijau, seperti karbon, agroforestri regeneratif, dan jasa lingkungan. Pendekatan ini mengedepankan prinsip conservation-first, di mana kawasan bernilai konservasi tinggi tetap dilindungi, sementara aktivitas ekonomi dijalankan dengan standar keberlanjutan yang ketat.
Tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, Bentala Kalimantan juga menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari solusi. Warga desa dilibatkan dalam kegiatan survei hutan, pengelolaan persemaian, pengembangan agroforestri karet dan kakao, hingga perlindungan hutan berbasis masyarakat. Dengan demikian, manfaat konservasi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan.
Di tengah menurunnya kinerja industri kayu dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan Multiusaha Kehutanan menawarkan peluang baru bagi sektor kehutanan Indonesia. Wehea-Kelay kini menjadi tempat untuk menguji bagaimana berbagai sumber pendapatan dapat berjalan berdampingan dengan perlindungan keanekaragaman hayati dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Jika berhasil, Bentala Kalimantan tidak hanya akan menjadi contoh implementasi MUK di Kalimantan Timur, tetapi juga menunjukkan bahwa hutan yang terjaga dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian alam secara bersamaan. Sebuah harapan baru dari Wehea-Kelay, bahwa masa depan hutan Indonesia tidak harus memilih antara konservasi atau pembangunan, melainkan mampu menghadirkan keduanya secara seimbang.