Dari Laut dan Rumput Laut: Bersama Menumbuhkan Kehidupan di Desa Tasilo
Oleh Adia Puja Pradana, Communications Specialist Ocean Program YKAN | February 20, 2026 | 5-menit membaca
Di pesisir Desa Tasilo, Kabupaten Rote Ndao, hamparan laut kini bukan hanya menjadi ruang mencari nafkah, tetapi juga ruang belajar, berinovasi, dan merawat alam. Melalui kolaborasi antara Samudera Peduli, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), serta pemerintah dan masyarakat, sebuah inisiatif budi daya rumput laut berkelanjutan berhasil menghadirkan perubahan nyata, baik secara ekonomi maupun ekologis. Program yang berlangsung dari Mei 2024 hingga April 2025, berangkat dari keyakinan bahwa peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir harus berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem laut dan pesisir.
Baca juga: Prototipe Produk Bioprospeksi yang Terinspirasi Dari Tumbuhan Pakan Orang Utan
Langkah awal program dimulai dengan pembentukan dua kelompok pembudidaya rumput laut, yaitu Kelompok Satu Hati dan Kelompok SueLai (Saling Mengasihi), yang melibatkan total 40 anggota. Kehadiran kelompok ini menjadi fondasi penting untuk membangun tata kelola budi daya yang lebih terorganisir, inklusif, dan berkelanjutan. Melalui kelompok, masyarakat bekerja sama, belajar, berbagi pengalaman, dan membangun kepercayaan diri untuk mengelola usaha secara mandiri.
Penguatan kapasitas menjadi kunci berikutnya. YKAN bersama para mitra menyelenggarakan serangkaian pelatihan budi daya rumput laut berkelanjutan yang mencakup pengenalan Best Management Practices (BMP), pemahaman tentang tantangan teknis budi daya sesuai kebijakan pemerintah, serta edukasi tentang fungsi ekosistem pesisir dan laut dalam mendukung keberlanjutan usaha. Pelatihan ini membantu pembudidaya memahami bahwa keberhasilan produksi tidak dapat dipisahkan dari kesehatan mangrove, lamun, terumbu karang, dan biota laut lainnya yang menjadi penopang kehidupan pesisir.
Namun, tantangan di lapangan menunjukkan bahwa teori saja tidak cukup. Banyak pembudidaya kesulitan menerjemahkan konsep BMP ke dalam praktik sehari-hari. Untuk menjawab hal ini, program menghadirkan pembuatan dan penerapan demo plot (demplot) budi daya rumput laut berkelanjutan. Melalui demplot, pembudidaya mempraktikkan langsung cara memilih varietas bibit unggul, memotong bibit dari talus, melakukan pemeliharaan yang tepat, hingga menentukan waktu panen optimal, yakni minimal 45 hari setelah tanam agar kandungan karaginan mencapai kualitas terbaik. Pendekatan ini terbukti meningkatkan pemahaman sekaligus kepercayaan diri pembudidaya dalam menerapkan praktik budi daya yang lebih baik dan konsisten.
Tantangan lain yang dihadapi masyarakat adalah kualitas rumput laut pascapanen. Metode penjemuran konvensional sering kali menyebabkan kontaminasi pasir dan kotoran lainnya, serta menghasilkan kadar kering yang tidak merata. Sebagai solusi, program memperkenalkan alat bantu pengeringan berupa para-para yang dilengkapi alas waring untuk sirkulasi udara dan terpal plastik sebagai pelindung dari hujan dan embun. Inovasi sederhana ini mampu meningkatkan kualitas rumput laut kering, menjaga kandungan karaginan tetap optimal, sekaligus mempermudah pembudidaya dalam mengelola hasil panen mereka.
Selain produksi, program ini juga menekankan pentingnya pengelolaan data dan pembelajaran berbasis bukti. Pemantauan pertumbuhan bibit dilakukan secara rutin setiap 10 hari di demplot, memungkinkan pembudidaya melihat laju pertumbuhan, mendeteksi gangguan sejak dini, serta melakukan perbaikan praktik secara tepat waktu. Meski pada tahun 2024 produksi rumput laut sempat terganggu oleh serangan penyakit ice-ice (kondisi stres pada rumput laut), kelompok tetap fokus memperkuat pembibitan sebagai fondasi jangka panjang. Data produksi tahun 2023 yang mencapai lebih dari 11 ton rumput laut kering dari dua kelompok, menjadi pembanding penting untuk mengukur dampak program di tahun-tahun berikutnya.
Upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak berhenti pada produksi bahan baku. Program ini juga mendorong peningkatan nilai tambah melalui pelatihan produk turunan rumput laut serta pencatatan keuangan sederhana. Dengan keterampilan ini, kelompok mulai melihat peluang baru untuk mengembangkan usaha, mengelola keuangan secara lebih transparan, dan membangun keberlanjutan ekonomi dalam jangka panjang.
Sepanjang pelaksanaan program, berbagai tantangan dihadapi, mulai dari praktik budi daya yang sebelumnya kurang ramah lingkungan, keterbatasan bibit sepanjang tahun, kesulitan memahami teori, hingga gangguan penyakit. Namun, setiap tantangan dijawab dengan solusi berbasis pengetahuan, pendampingan, dan kolaborasi. Penerapan BMP memastikan budi daya dilakukan tanpa merusak ekosistem pesisir. Penguatan keterampilan pembibitan memungkinkan produksi berlangsung sepanjang tahun. Pendekatan praktik langsung melalui demplot menjembatani kesenjangan antara teori dan lapangan. Inovasi alat pengeringan meningkatkan kualitas pascapanen. Sementara pemantauan rutin dan perbaikan praktik membantu kelompok beradaptasi terhadap gangguan lingkungan dan penyakit.
Lebih dari sekadar meningkatkan produksi rumput laut, inisiatif ini menanamkan nilai keberlanjutan dalam praktik budi daya. Desa Tasilo kini tidak hanya dikenal sebagai sentra budi daya rumput laut, tetapi juga sebagai contoh bagaimana masyarakat pesisir dapat menjadi garda depan dalam menjaga laut sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka. Kisah dari Tasilo membuktikan bahwa ketika pengetahuan, kemitraan, dan semangat gotong royong bertemu, laut tidak hanya memberi hasil, tetapi juga harapan.