tarsius ingkat di hutan Wehea
Keterangan Foto Seekor tarsius ingkat di hutan Wehea berpegangan pada batang muda, memburu serangga besar di malam hari. © RidhaAnshari85/Wikimedia Commons

Perspektif

Dari Kukang hingga Owa: Kenali 8 Primata Paling Menarik di Kalimantan

Oleh Matthew L. Miller, Director of Science Communications | 28 Mei, 2026 | 5-menit membaca

Aku melangkah keluar dari kabin kecilku ke udara hutan hujan yang lembap, dengan dedaunan yang masih meneteskan air, sisa hujan malam sebelumnya. Bahkan saat fajar menyingsing, penglihatanku  masih sangat terbatas, namun aku segera mendengar suara lengkingan aneh yang menggema di antara pepohonan.


 

Owa

Selama beberapa pagi terakhir, paduan suara owa menyambut kami, saat kami menjelajahi Kalimantan Timur. Panggilan pagi owa—sebuah lenguhan bergetar—bukan hanya terdengar, tetapi hampir terasa di dalam tubuh. Tak lama kemudian, seorang anggota masyarakat setempat memandu kami untuk mencari kera kecil tersebut.

Baca juga: Sinergi Menjaga Keanekaragaman Hayati Wehea-Kelay

Lutung Merah Kalimantan Seekor lutung merah (red leaf monkey) terekam kamera trap YKAN di Hutan Wehea, Kalimantan Timur. Rekaman ini menjadi bagian dari upaya pemantauan keanekaragaman hayati untuk mendukung perlindungan satwa liar dan ekosistem hutan tropis Indonesia.

Kalimantan, pulau terbesar ketiga di dunia, dikenal akan keanekaragaman hayatinya yang luar biasa. Di antara yang paling karismatik dan mudah dijumpai adalah sejumlah primata yang unik dan menakjubkan. Yang paling dikenal tentu saja adalah orang utan—fokus dari berbagai upaya konservasi dan menjadi tujuan utama para pengamat satwa liar. Namun, primata‑primata lainnya juga sangat bergantung pada hutan yang masih utuh serta pada upaya konservasi yang dipimpin oleh masyarakat.

Dalam perjalanan ini, saya mengunjungi Hutan Lindung Wehea bersama staf dari perusahaan furnitur Arhaus. Kawasan Wehea mencakup sekitar 29.000 hektare hutan yang dilindungi oleh Masyarakat Adat Dayak Wehea dengan pendampingan dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). 

Upaya konservasi hutan ini memberikan manfaat bagi berbagai jenis satwa liar, termasuk primata. Anda dapat membaca lebih lanjut tentang orang utan dalam artikel kami sebelumnya. Berikut ini adalah beberapa primata lain yang turut memperoleh manfaat dari kemitraan konservasi di Wehea serta dari program konservasi berbasis masyarakat serupa di Kalimantan.

Owa Kelabu Utara Kalimantan

Saat pagi hari kami di Wehea, seorang anggota masyarakat setempat memandu kami mendaki sebuah bukit sambil mengikuti suara panggilan owa. Tak lama kemudian, kami dapat menyaksikan sekilas aksi akrobatik mereka saat melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, dengan dahan‑dahan yang bergoyang setiap kali mereka mendarat. Menurutku, hanya sedikit satwa yang semenarik owa untuk diamati.

Owa kelabu Kalimantan
© Fachru Razy/Kontes Foto&Video YKAN

Owa merupakan kera, lebih khusus adalah kera kecil bukan monyet (yang ditandai dengan tidak adanya ekor). Mereka umumnya hidup berpasangan secara monogami, dan rutinitas pagi hari mereka melibatkan serangkaian panggilan satu sama lain. Owa jantan biasanya mulai bersuara sejak pagi hari, kemudian dilanjutkan individu betina—suara yang menyambut kami saat terbangun. Setelah mencari makan, owa jantan dan betina kemudian melakukan duet panggilan selama sekitar 15-30 menit.

Owa sangat beradaptasi dengan kehidupan di pepohonan dan jarang sekali turun ke tanah. Hal ini membuat mereka bahkan lebih rentan terhadap degradasi habitat dibandingkan primata arboreal lainnya.

“Owa akan lebih jarang bersuara di wilayah yang dekat dengan konsesi pembalakan yang berbatasan langsung dengan wilayah Perkebunan atau wilayah pertanian lainnya,” ujar Arif Rifqi, spesialis konservasi habitat spesies terancam di YKAN. “Mereka cenderung menghindari area dengan tingkat aktivitas manusia yang lebih tinggi.”

Lutung Kutai

Orang utan dan owa merupakan satwa yang luar biasa, namun dapat dikatakan tidak ada primata di Hutan Wehea yang menimbulkan antusiasme lebih besar dibandingkan lutung kutai. Hal ini karena spesies ini sebelumnya diyakini telah punah.

Lutung Kutai
© YKAN

Hal tersebut berubah pada tahun 2012, ketika para ilmuwan mendokumentasikan keberadaan lutung kutai di Wehea. Penemuan ini menjadi sebuah kejutan karena Wehea berada di luar wilayah sebaran spesies ini yang sebelumnya diketahui. Dengan melakukan pengamatan di lokasi sepan serta memasang kamera jebak, tim peneliti berhasil memastikan bahwa masih terdapat populasi lutung jenis ini di salah satu bagian kawasan Wehea.

“Lutung kutai memiliki wilayah sebaran habitat yang sangat terbatas dan sangat sensitif terhadap gangguan manusia,” ujar Rifqi. “Spesies ini dulunya diburu sehingga bersifat sangat pemalu. Kami pernah mendampingi seorang fotografer untuk menunggu di lokasi sepan, dan baru setelah enam hari ia berhasil melihat satu individu.”

Namun, spesies ini terus bertahan hidup di Hutan Lindung Wehea, sebuah bukti nyata keberhasilan konservasi yang dipimpin oleh masyarakat.

Lutung Merah

Saat kami mengamati owa, kami mulai melihat kehadiran monyet‑monyet yang mudah dikenali dari ekornya yang lebih panjang. Salah satunya adalah spesies yang sangat menarik, yaitu lutung merah (juga dikenal sebagai lutung marun atau lutung merah). Mereka melompat dengan dramatis dari satu pohon ke pohon lainnya sambil saling berceloteh.

© YKAN

Penelitian menunjukkan bahwa habitat owa dan lutung merah saling tumpang tindih, namun owa cenderung berfokus pada buah‑buahan yang matang, sementara lutung lebih menyukai daun dan biji‑bijian. Meski demikian, kedua spesies ini sering dapat diamati pada waktu yang sama dan kerap menjadi primata yang paling mudah dijumpai di Wehea.

Beruk

Untuk melihat banyak primata yang disebutkan di sini, biasanya diperlukan perjalanan menyusuri hutan hujan primer. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi beruk. Kami justru melihat mereka duduk di sepanjang jalan yang ramai, dengan sabar menunggu pemberian makanan. Di hutan lindung, hewan ini cenderung terus bergerak saat mencari buah‑buahan. Namun, mereka mampu beradaptasi dengan perkebunan kelapa sawit dan habitat lain yang telah berubah, di mana mereka umumnya menjadi lebih menetap.

© David Cook/Flickr

Pemandu lokal kami bercerita bahwa pada waktu‑waktu tertentu dalam setahun, ketika pepohonan tidak sedang berbuah, kelompok hewan ini dapat terlihat di sepanjang jalan raya. Yang jantan memiliki tubuh yang berotot dengan taring yang besar—menjadikannya satwa yang cukup menakutkan. Mereka juga dapat bersikap cukup agresif terhadap manusia. Karena itu, sebagaimana kita tidak boleh memberi makan beruang, kita juga sebaiknya tidak memberi makan hewan ini. Nikmatilah pemandangan dari dalam kendaraan saat melintasi pedesaan.

Monyet Ekor Panjang

Saat kami menunggu makan siang di Taman Nasional Kutai yang luar biasa, pepohonan tiba‑tiba dipenuhi suara jeritan dan keributan. Tak lama kemudian, kami menikmati tingkah laku monyet ekor panjang yang menghibur. Mereka berkeliaran tepat di sekitar pusat pengunjung, dan tampaknya berharap mendapatkan sisa‑sisa makanan.

Long-tailed Macaque
© Sharp Photography / Flickr

Hewan ini merupakan spesies yang sangat mudah beradaptasi sehingga di beberapa wilayah justru dianggap sebagai hama. Kami melihat mereka sepanjang perjalanan, di pinggiran kota, di sekitar perkebunan kelapa sawit, dan duduk di tiang‑tiang listrik. Menurut Phillips "Guide to the Mammals of Borneo", spesies ini merupakan hewan yang paling umum dijumpai di hutan yang telah terganggu. Mereka kerap menyerbu kebun buah dan bahkan berkeliaran di pantai‑pantai wisata, mencuri makanan dari para pengunjung.

Kukang Kalimantan

Ia juga dikenal sebagai kukang Kalimantan. Kukang tampak hampir mustahil untuk tidak terlihat menggemaskan, dengan kepala bulat, telinga kecil, dan mata besar yang menonjol. Namun, meskipun terlihat lucu, kukang bukanlah satwa yang bisa dipeluk. Kukang memiliki kelenjar beracun di bawah ketiaknya. Seperti dicatat dalam Mammals of Borneo, ketika merasa tertekan, kukang akan menjilat kelenjar tersebut lalu mengoleskannya ke seluruh tubuhnya dan ke tubuh anaknya. Racun ini berfungsi untuk mengusir caplak, lintah, serta beberapa predator.

Kukang Kalimantan
© Steven Whitebread/Wikimedia Commons

Ketika dikombinasikan dengan air liurnya, racun tersebut membuat gigitan kukang menjadi sangat berbahaya, bahkan dapat menyebabkan manusia mengalami syok anafilaksis atau hingga berujung pada kematian.

Kukang merupakan satwa omnivora, namun sangat bergantung pada getah pohon sebagai bagian penting dari makanannya. Kukang akan melukai kulit pohon dengan gigi depannya yang menyerupai sisir untuk mendapatkan getah tersebut. Karena pola makan ini, populasi kukang membutuhkan hutan yang sehat dan kaya keanekaragaman hayati.

Tarsius Ingkat

Tarsius atau Krabuku Ingkat tergolong sangat sulit dijumpai di Wehea, meskipun di beberapa bagian wilayah sebarannya di Asia Tenggara terdapat tur khusus untuk mengamati tarsius bagi para penggemar satwa liar. Bertubuh kecil dan aktif pada malam hari, tarsius berburu serangga berukuran besar di malam hari. Mereka mengandalkan suara dan pendengaran untuk melompat dan menangkap mangsanya di permukaan tanah.

Tarsius Ingkat
© Bernard Dupont/Wikimedia Commons

Mereka bergerak melalui hutan dengan memanfaatkan kaki belakangnya yang besar untuk melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, serta memiliki bantalan perekat pada tangan mereka yang membantu mencengkeram batang anakan pohon yang permukaannya licin.

Rifqi pernah mengalami perjumpaan langka dengan seekor tarsius dua tahun lalu, namun hewan tersebut segera melompat pergi sebelum ia sempat mengambil foto.

Bekantan

Bekantan tidak ditemukan di Hutan Lindung Wehea, namun dapat dijumpai di wilayah yang berbatasan dengan kawasan masyarakat Wehea serta di hutan mangrove lindung yang didukung oleh YKAN. Saya menyertakannya di sini karena bekantan merupakan mamalia yang sangat menarik, terutama hidung besar pada individu jantan yang menjadi ciri khas sekaligus asal penamaannya.

Bekantan Kalimantan
Mencari Makan Mencari Makan // Kawanan bekantan sedang menyisir anak sungai untuk mencari makanan. Hutan Mangrove, Tarakan, Kalimantan Utara. © Ryan Hidayat/TNC Photo Contest 2022

Hidung yang besar dan membulat itu membantu memperkuat panggilan dari para pejantan. Monyet-monyet ini hidup dalam kelompok yang dipimpin oleh seekor jantan alfa, dan dominasinya sering kali ditantang oleh pesaing. Mereka hidup di sepanjang muara dan hutan bakau di pesisir Kalimantan.

Meskipun aku tidak memiliki kesempatan untuk mengunjungi habitat mereka saat kunjunganku ini, perjalanan ini sebenarnya untuk melihat bekantan yang merupakan pilihan populer di beberapa bagian di Kalimantan. Salah satu dari banyak alasan untuk kembali.