SMMA
Keterangan Foto Suaka Margasatwa (SM) Muara Angke, merupakan suaka margasatwa terkecil di Indonesia dengan luasan 25,02 hektare. © Dhika Pratama/YKAN

Perspektif

Indikasi Awal Keberhasilan Restorasi Mangrove Program MERA di Suaka Margasatwa Muara Angke

Suaka Margasatwa (SM) Muara Angke, merupakan suaka margasatwa terkecil di Indonesia dengan luasan 25,02 hektare. Lokasinya  yang berada di kota Jakarta menyebabkan suaka ini menghadapi tekanan lingkungan yang besar yang berdampak pada berkurangnya jumlah spesies flora dan fauna, serta hilangnya kemampuan mangrove untuk beregenerasi secara alami.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta bekerja sama dengan YKAN melalui Program Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) untuk memulihkan ekosistem SM Muara Angke selama kurun waktu lima tahun (2018 – 2023). Strategi utama yang dilakukan bukanlah penanaman mangrove saja, melainkan perbaikan ekosistem yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi ekosistem mangrove. 

Baca juga: Pemonitoran RIL-C Sebagai Bekal untuk KPH se-Kalimantan Timur

Keterangan Foto Suaka Margasatwa Muara Angke merupakan suaka margasatwa terkecil di Indonesia. © Dhika Pratama/YKAN

Beberapa strategi perbaikan lingkungan yang telah dilakukan program MERA di antaranya:

  • Perbaikan hidrologi dengan meningkatkan suplai air laut dan sirkulasi air dari dan ke dalam kawasan (jalur sungai seluas 5.995 m2, untuk mendorong pertumbuhan mangrove yang maksimal).
  • Pemasangan penghalang sampah seluas 203 m muntuk mencegah sampah padat masuk ke dalam kawasan.
  • Pengendalian spesies tumbuhan invasif di lahan seluas 1,37 ha guna mendorong terjadinya regenerasi mangrove secara alami).
  • Penimbunan substrat (media tanam) di area yang tergenang untuk mendukung regenerasi mangrove secara alami.
  • Pembangunan kanal air seluas 82,54 m untuk mengendalikan banjir.

Berbagai strategi tersebut telah menghasilkan berbagai capaian nyata. Empat indikator yang dicatat BKSDA Jakarta sebagai keberhasilan kegiatan restorasi adalah:

  1. Regenerasi alami spesies Sonneratia caseolaris (Pidada) pada bulan Juli seluas 78-149 ha. Sebelum program ini dilakukan, tidak ditemukan proses regenerasi pada spesies yang paling sulit disemaikan ini.
  2. Peningkatan salinitas air dari 0.38 ppt di tahun 2015 menjadi 15 ppt di November 2023. Salinitas pada bulan November 2023 ini merupakan yang tertinggi dalam 2 dekade terakhir.
  3. Volume sampah menurun 90%.
  4. Peningkatan spesies burung dan herpetofauna.

Selain dari 4 dampak yang terlihat di atas, regenerasi spesies mangrove Sonneratia caseolaris tanpa penanaman juga terlihat. Hal ini menandakan bahwa fungsi alami lingkungan Suaka Margasatwa Muara Angke kini membaik. Program restorasi yang telah dijalankan selama 5 tahun membuahkan dampak positif.