Inisiatif baru melindungi hutan di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur
Oleh Sally Kailola, Head of Creative Communication | 15 Juni, 2026 | 3-menit membaca
Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) memiliki pengalaman awal dalam pembentukan dan pengelolaan kawasan lindung melalui dukungannya kepada masyarakat adat Wehea, yang berhasil mengonversi kawasan hutan produksi menjadi Hutan Lindung Wehea serta menjaga pengelolaannya secara berkelanjutan. Selain itu, YKAN secara aktif mendorong penguatan perhutanan sosial di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Baca juga: Berbagi Pembelajaran dari Konservasi Lahan Gambut Indonesia
Sejak 2014, YKAN telah memfasilitasi perizinan hutan desa di Kalimantan Barat yang mencakup lima desa dengan luas sekitar 25.000 hektare, mendukung 30 desa di Kalimantan Timur dengan total area sekitar 150.000 hektare, serta bekerja sama dengan lima desa di Kalimantan Utara seluas sekitar 7.000 hektare. YKAN juga mendampingi masyarakat dalam proses pengakuan masyarakat hukum adat (MHA) serta penetapan hutan adat di beberapa kabupaten di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Pada tahun 2025, YKAN memulai inisiatif baru di kawasan hulu Sungai Mahakam, yang mencakup Kecamatan Long Pahangai dan Long Apari yang juga merupakan wilayah masyarakat hukum adat dari beberapa sub-suku Dayak yang secara turun temurun menjaga kuat tradisi leluhur. Lanskap hutan ini sangat penting karena menghubungkan dua kawasan konservasi utama dan memiliki 83% tutupan hutan berintegritas tinggi. Kawasan ini juga menjadi habitat berbagai spesies yang terancam secara global, seperti rangkong gading, orangutan Kalimantan, owa Müller, macan dahan Sunda, dan surili dahi putih.
Melalui program empat tahun (2025–2029) yang didanai Rainforest Trust, YKAN menargetkan perlindungan dan pengelolaan sekitar 350.000 hektare hutan melalui pendekatan pengelolaan hutan oleh masyarakat. Upaya ini dilakukan melalui skema perhutanan sosial termasuk hutan adat pada kawasan hutan dan kawasan bernilai konservasi tinggi di area penggunaan lain (APL). Program ini juga bertujuan memperkuat kepastian tenurial, kapasitas masyarakat, serta peningkatan kesejahteraan melalui pembangunan desa hijau.
Kawasan ini menghadapi berbagai potensi ancaman serius, seperti penebangan tidak berkelanjutan, ekspansi perkebunan dan industri ekstraktif, serta pembangunan infrastruktur seperti jalan. Selain itu, kebijakan pembukaan hutan untuk pangan dan biofuel berpotensi meningkatkan tekanan terhadap hutan dan keanekaragaman hayati.
Program ini diharapkan menghasilkan tiga dampak utama: penguatan perhutanan sosial dan konservasi, terbentuknya sistem pengelolaan hutan berbasis masyarakat, serta pengembangan potensi pembiayaan berkelanjutan. YKAN berkomitmen mereplikasi model SIGAP (Aksi Insipiratif Warga untuk Perubahan) yang telah terbukti efektif, guna mendorong konservasi skala bentang alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Upaya ini menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan hutan dan masa depan lingkungan.