Kuau Raja (Argusianus argus) pernah menjadi perbincangan hangat karena tarian individu jantan yang menjadi inspirasi dari gerakan tarian komunitas Dayak di Kalimantan. Kabar baik datang dari Kalimantan Timur ketika kamera jebak berhasil merekam keberadaannya yang sedang menari, termasuk di Bentang Alam Wehea Kelay.
Baca juga: Peran Warga Melestarikan Penyu di Sabu Raijua
Bahkan, hasil pemantauan menunjukkan bahwa kawasan ini masih menjadi habitat penting dengan populasi Kuau Raja yang relatif baik. Temuan tersebut membuktikan bahwa Hutan Wehea Kelay masih mampu menyediakan lingkungan yang sehat bagi salah satu burung ikonik di Asia Tenggara ini.
Kuau Raja dapat hidup hingga sekitar 15 sampai dengan 20 tahun di alam liar. Burung ini memakan buah-buahan, biji-bijian, tunas, serangga, serta hewan kecil yang dijumpainya di lantai hutan. Betina umumnya hanya bertelur 2 butir dalam satu musim berkembang biak dan biasanya hanya berkembang biak sekali dalam setahun, sehingga selama hidupnya jumlah keturunannya tidak terlalu banyak.
Salah satu ciri khasnya adalah suara keras yang terdengar seperti "ku-wau... ku-wau..." dan dapat menggema hingga jarak yang cukup jauh pada pagi dan sore hari. Saat musim kawin, pejantan akan membersihkan lantai hutan untuk dijadikan arena tari, lalu membentangkan sayap raksasanya yang dihiasi motif menyerupai ratusan mata sambil menari untuk memikat betina, menyajikan pertunjukan yang sangat indah sehingga membuat Kuau Raja dijuluki sebagai salah satu burung penari paling spektakuler di dunia.