Geliat Desa Eilogo Bertahan pada Era Moderen dan Ancaman Perubahan Iklim: Cerita Desa Kecil di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur
Bagian 2: Hidup Bersama Bencana
Oleh Sally Kailola, Head of Creative Communication | 11 Maret, 2026 | 3-menit membaca
Artikel ini adalah cerita kedua dari cerita bersambung: Geliat Desa Eilogo Bertahan pada Era Moderen dan Ancaman Perubahan Iklim: Cerita Desa Kecil di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Cerita pertama dapat ditemukan di sini.
Pikiranku terhadap Desa Eilogo semakin berkembang. Sebenarnya bencana apa saja yang telah mereka alami selama ini? Bagaimana mereka bertahan?
Pada tahun 2025 tim Ketahanan Pesisir dari program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melakukan studi yang bertujuan untuk merumuskan pedoman Perubahan Perilaku terkait adaptasi iklim, dengan tujuan meningkatkan ketahanan jangka panjang masyarakat pesisir dan mengembangkan Rencana Desain Perubahan Perilaku untuk mengimplementasikan strategi adaptasi iklim di Desa Eilogo. Sebagai fase awal, studi Perubahan Perilaku Sosial (SBC) ini mengacu pada laporan Penilaian Kerentanan (VA) yang dilakukan oleh YKAN (2023) untuk membangun landasan pemahaman tentang perubahan iklim, mengevaluasi kondisi kerentanan, dan mengidentifikasi opsi adaptasi prioritas.
Baca juga: Muara Siran, Rumahnya Gambut Dalam yang Terus Bertumbuh
Dari informasi yang dikumpulkan YKAN ini, ternyata Desa Eilogo telah mengalami serangkaian krisis yang bergejolak selama beberapa tahun terakhir. Situasi yang mengkhawatirkan yang dimulai dengan krisis pangan lokal yang parah yang dipicu oleh serangkaian kegagalan panen yang terjadi dari tahun 2021 hingga 2023, semakin diperparah oleh dampak dahsyat Topan Seroja pada tahun 2021, dan diperparah oleh kurangnya curah hujan yang signifikan selama tahun 2022 dan 2023.
Dari tahun 2021 hingga 2025, setiap orang di desa ini memang mengalami tantangan yang lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya, karena mereka tidak dapat memperoleh penghasilan dari rumput laut, dan hasil panen sorgum dan kacang tanah sangat minim. Populasi ikan di Desa Eilogo telah menyusut, sehingga menyulitkan nelayan untuk mencari nafkah. Kualitas rumput laut juga menurun, berdampak pada masyarakat pesisir yang bergantung pada budidayanya. Akibatnya, masyarakat kini terlibat dalam berbagai kegiatan untuk memenuhi kebutuhan mereka; misalnya, nelayan menjadi pemanen tuak kelapa, dan pemanen tuak kelapa beralih menjadi petani darat.
Salah satu hasil diskusi YKAN dengan masyarakat, misalnya dengan keluarga Gadja, dimana mereka bercerita menggunakan media gambar tentang bagaimana penghidupan mereka mengalami berbagai pasang surut dari tahun 2021 ke tahun 2024.
Diceritakan bahwa pada tahun 2021, wilayah mereka dilanda badai yang sangat dahsyat yang tidak hanya menyebabkan kerusakan luas tetapi juga mengakibatkan kerugian besar yang pada akhirnya membuat mereka mengambil keputusan sulit untuk tidak menanam tanaman apa pun. Memasuki tahun 2022, mereka memutuskan untuk mencoba menanam lagi, dan kali ini mendapatkan hasil yang menggembirakan, sebagian besar berkat kondisi cuaca yang menguntungkan, yang juga berarti bahwa mereka tidak perlu membeli benih untuk tanaman mereka. Namun saat memasuki tahun 2023, sayangnya mereka harus menghentikan kegiatan penanaman karena kurangnya curah hujan. Selama masa sulit ini, sang ayah harus mengambil tanggung jawab menjual ikan untuk menghidupi keluarga saat itu. Dari tahun 2024 hingga saat ini, mereka mencoba lagi untuk mulai menanam menjelang akhir tahun dengan menggunakan benih dan pupuk yang diperoleh dari desa. Tetapi sayangnya, hasilnya mengecewakan, ditandai dengan hasil panen kacang hijau dan jagung yang buruk. Walaupun untuk kali ini mereka telah membeli pupuk urea tambahan dengan harapan dapat meningkatkan hasil panen mereka.
Narasi keluarga Gadja, yang tinggal di Desa Eilogo ini, secara gamblang menggambarkan berbagai adaptasi dan strategi yang telah mereka kembangkan untuk mengelola penanaman dan memastikan kelangsungan hidup mereka selama periode 2021 hingga 2025. Saat mereka mendapati bahwa kelangkaan benih dan curah hujan yang terus berlanjut ternyata tidak hanya mengganggu praktik budidaya tradisional mereka, tetapi juga berdampak signifikan pada kebiasaan makan mereka saat ini. Hal tersebut memaksa mereka untuk mempertimbangkan kembali sumber makanan dan asupan nutrisi mereka.
Lebih jauh lagi, kurangnya pengetahuan mengenai metode pertanian organik, ditambah dengan berbagai tantangan lingkungan yang mereka hadapi dan keterbatasan sumber daya keuangan, membuat mereka sangat bergantung pada dukungan pupuk dan benih yang disediakan oleh pemerintah desa. Hal ini menciptakan siklus yang mengkhawatirkan di mana mereka terus-menerus membeli pupuk kimia tambahan untuk mempertahankan usaha pertanian mereka.
Saat mereka menghadapi kompleksitas ini, keluarga Gadja harus menghadapi kenyataan pahit dari situasi mereka, sambil secara bersamaan, berusaha untuk melepaskan diri dari siklus ketergantungan dan menemukan solusi berkelanjutan yang memungkinkan mereka untuk berkembang.
Kisah keluarga Gadja menjadi pengingat yang menyentuh tentang interaksi rumit antara praktik pertanian, kondisi lingkungan, dan faktor sosial ekonomi, yang membentuk kehidupan dan mata pencaharian mereka secara signifikan.
Nah, bagaimana keluarga Gadja dan masyarakat Eilogo bisa memulai suatu inisiatif baru untuk bertahan terhadap ancaman penghidupan dan kehidupan mereka? Apa saja aset yang mereka miliki yang dapat dimaksimalkan dalam strategi mitigasi dan adaptasi terhadap bencana? Apa peran kearifan lokal yang dapat dikuatkan demi mewujudkan keinginan yang solid untuk suatu perubahan dan mencapainya?
Menurutmu, semua pertanyaan itu ada jawabannya?