Muara siran, salah satu area konservasi lahan gambut YKAN
Keterangan Foto Muara siran, salah satu area konservasi lahan gambut YKAN. © YKAN

Perspektif

Berbagi Pembelajaran dari Konservasi Lahan Gambut Indonesia

Oleh Sally Kailola, Head of Creative Communication | February 27, 2026 | 3-menit membaca

Sally Kailola
Sally Kailola Head of Creative Communication

Selengkapnya

Mengapa kita perlu mengetahui tentang lahan gambut dan perannya terhadap perubahan iklim?. Ternyata lahan gambut menyimpan lebih banyak karbon tanah daripada seluruh hutan di dunia. Melindungi dan memulihkan ekosistem ini penting bukan hanya untuk mengatur iklim, tetapi juga untuk mengurangi risiko banjir dan kebakaran yang diperburuk oleh perubahan iklim.

Baca juga: Meneliti Ketahanan Karang Raja Ampat di Tengah Krisis Iklim

Adapun luasan lahan gambut tropis di Indonesia sendiri mencapai 13,4 juta hektare.  Namun, dari total luasan lahan gambut tropis Indonesia ini, hampir setengahnya mengalami degradasi fungsi yang diakibatkan oleh pembangunan kanal, penebangan hutan, konversi menjadi lahan pertanian dan kebakaran. Padahal, jika kita dapat mempertahankannya dengan luasan tersebut, diperkirakan mampu menyimpan hingga 57 giga ton karbon atau 55 persen dari total karbon gambut tropis dunia.

Muara Siran, Kalimantan Timur Salah satu lanskap gambut tertua di Indonesia dengan kedalaman lebih dari 10 meter dengan usia ribuan tahun. © YKAN

Nisa Novita, Senior Manager Karbon Kehutanan dan Iklim, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), merupakan ilmuwan yang mendedikasikan waktu dan ekspertisnya untuk memahami bagaimana lahan gambut sebagai bagian dari solusi iklim alami dapat berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim.  Menurutnya, perlu dikuantifikasikan seberapa besar dampak penurunan emisi dari kegiatan rewetting dan revegetation pada lahan gambut terdegradasi. Penelitian yang dilakukan Nisa dan timnya menemukan bahwa, pembangunan sekat kanal di lokasi yang tepat dan terawat di lahan perkebunan sawit dapat menurunkan emisi mencapai 30% dibandingkan dengan bussiness as usual. Hal ini menjadikan restorasi gambut melalui pengelolaan tata air dapat dijadikan salah satu strategi efektif Solusi Iklim Alami yang berpotensi tinggi dalam upaya penurunan emisi pada skala nasional.

Selain itu, melalui program Konservasi Lahan Gambut, sejak tahun 2022, Nisa dan tim telah melakukan pengukuran Gas Rumah Kaca (GRK) tanah dan air setiap dua minggu di lokasi penelitian di Kalimantan Barat dari berbagai tutupan lahan, termasuk perkebunan kelapa sawit rakyat, pertanian, hutan sekunder, dan lahan semak yang tidak dikelola. Mereka juga mengukur emisi GRK selama satu tahun di ekosistem rawa gambut yang tidak dikeringkan di Kalimantan Timur. Mereka menerapkan metode serupa di Kalimantan Barat untuk mengumpulkan bukti nyata mengenai emisi GRK di hutan pasca penebangan dan di wilayah yang masih asli dimana hanya sedikit data yang tersedia.

Kajian radiokarbon yang mereka lakukan juga, akan memungkinkan untuk disusunnya sintesis komprehensif mengenai dinamika jangka panjang laju akumulasi lahan gambut di seluruh Kalimantan. Sintesis ini sangat penting dalam menjelaskan fungsi lahan gambut tropis sebagai penyerap karbon penting dalam siklus karbon global. Mereka mengumpulkan data dari Kalimantan Barat (Sungai Kapuas Hulu, Sungai Kapuas Hilir, Mempawah) dan Muara Siran, Provinsi Kalimantan Timur.

Keterangan Foto Proses pengumpulan data di Muara Siran. © YKAN

Dokumen lengkap penelitian ini dapat diunduh disini

Pembentukan dan pengembangan lahan gambut di seluruh Kalimantan, Indonesia (Peatland inception and development across Kalimantan, Indonesia), merupakan penelitian mereka yang terbaru di tahun 2025.

Penelitian-penelitian yang dilakukan Nisa dan rekan-rekannya merupakan salah satu strategi program Konservasi Lahan Gambut YKAN untuk mendukung tujuan 2030.

Bermodal pengetahuan yang didapatkan dari penelitan yang dilakukan, Nisa diundang oleh The Nature Conservancy (TNC) untuk berbagi hasil dan membandingkan hasil studi mereka dengan program yang dilakukan TNC di Carolina Utara, Amerika.  Cerita lengkap berbagi pengetahuan ini dapat dilihat pada: Global Lessons from NC's Peatlands | The Nature Conservancy

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak penelitian ilmiah yang dilakukan untuk menunjukkan luasnya lahan gambut yang ada dan bagaimana perlindungan serta restorasi lahan gambut tersebut akan memberikan dampak paling besar untuk menghadapi perubahan iklim. Dengan semakin banyaknya pengetahuan yang kita miliki sekarang, kini semakin besar momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk melindungi dan memulihkan ekosistem penting tersebut.

Sally Kailola

Head of Creative Communication

Tentang Sally Kailola