Geliat Desa Eilogo Bertahan pada Era Moderen dan Ancaman Perubahan Iklim: Cerita Desa Kecil di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur
Bagian 1: Mengenal Penghidupan Desa Eilogo & Ancamannya
Oleh Sally Kailola, Head of Creative Communication | 11 Maret, 2026 | 3-menit membaca
"We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them,"
ALBERT EINSTEIN
Artikel ini adalah bagian pertama dari cerita bersambung: Geliat Desa Eilogo Bertahan pada Era Moderen dan Ancaman Perubahan Iklim: Cerita Desa Kecil di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur.
Sebagai seseorang yang tinggal (dan bekerja) di kota besar seperti Jakarta, sering kali aku merindukan untuk berlibur ke daerah dengan pemandangan alam yang indah, yang bukan saja menyegarkan mata, tetapi juga jiwa. Daerah pantai merupakan pilihan untuk liburan yang menyenangkan, tegas jiwaku, - aku setuju.
Baca juga: Pak Bowo, Penjaga Kelestarian Alam Desa Menawan
Di saat yang sama, aku merenung dan membayangkan kehidupan lain bagi mereka yang tinggal di sebuah pulau kecil yang Indah. Pantai berpasir dengan deburan ombak merupakan bagian dari nyanyian alam sehari-hari bagi mereka. Menurutku, mereka sangat beruntung.
Namun, banyak berita akhir-akhir ini yang menceritakan cuaca ekstrem yang melanda bumi yang bukan saja berdampak pada kita yang berada di perkotaan, tetapi terlebih lagi bagi mereka yang bermukim di pulau-pulau kecil.
Apakah mereka aman? Apakah mereka tahu ada ancaman bahaya?
Saat ini, aku ingin bercerita tentang Desa Eilogo. Suatu nama desa yang bagus, menurutku. Desa ini merupakan satu dari 12 desa di Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Jika kita lihat di peta, Kabupaten Sabu Raijua terdiri dari dua pulau utama, yakni Pulau Sawu/Sabu dan Pulau Raijua, serta satu pulau lainnya yang namanya Pulau Dana. Nah, Desa Eilogo berada di Pulau Sabu. Penduduknya merupakan warga asli Sabu. Desa ini telah ada sejak tahun 50-an. Jika ingin berkunjung ke sana, harus ke Kota Kupang dulu, setelah itu, dapat melanjutkan perjalanan menggunakan kapal cepat atau pesawat terbang.
Mungkin anda berpikir, sebagai masyarakat pesisir, mata pencaharian penduduk Desa Eilogo ini pastinya adalah nelayan? Anda benar, tapi hanya sebagian kecil. Sebagian besar masyarakat di desa ini sebenarnya adalah petani darat. Pertanian di Desa Eilogo meliputi seluruh ruang ligkup yang ada berdasarkan pengertian pertanian. Jenis tanaman pangan yang ada meliputi pertanian sorgum, kacang hijau, jagung, umbi-umbian serta buah lontar atau tuak yang diolah menjadi gula. Sedangkan pertanian holtikultura meliputi tanaman sayuran, rumput laut, tanaman buah dan tanaman obat.
Upaya pertanian sangat terkait dengan iklim. Kondisi iklim yang kering dengan masa curah hujan yang lebih sedikit dari waktu tanpa hujan membentuk pola pertanian di masyarakat. Pola ini juga dikuatkan melalui aturan adat yang sampai saat ini masih dijalankan secara baik pada tingkat masyarakat. Masa tanam yang terikat aturan adat terutama pada komoditas tanaman sorgum, kacang hijau dan jagung sebagai makanan pokok masyarakat. Saat waktu tanam yang ditentukan “Mone Ama” diberlakukan dimana seluruh hewan ternak harus diikat, dikandangkan atau digembalakan dengan pengawalan ketat untuk tidak mengganggu tanaman budidaya masyarakat. Waktu awal dan akhir masa tanam ditandai dengan bunyi gong. Menarik ya?
Selain bertani, masyarakat beraktivitas menangkap ikan. Namun begitu, hanya sebagian kecil warga yang menjadi nelayan sebagai mata pencaharian utama. Sebagian besar menangkap ikan untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga. Pemanfaatan pesisir yakni, budidaya rumput laut baru dimulai sejak tahun 1990-an. Namun saat ini, budidaya rumput laut mulai ditinggalkan warga sejak tahun 2015 karena persoalan penyakit dan hama. Saat ini harga rumput laut mencapai Rp. 30.000-35.000 per kg. Tingginya harga tersebut karena tidak banyak warga yang menanam rumput laut paska badai Seroja.
Dapat dikatakan bahwa penghidupan masyarakat Desa Eilogo ini sangat bergantung pada iklim. Sebagai bagian wilayah kepulauan kecil, Desa Eilogo, diprediksi memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap dampak perubahan iklim dibandingkan wilayah daratan. Hal inipun ditegaskan melalui kajian kerentanan iklim Provinsi NTT yang dilakukan CCROMSEAP - IPB bekerja sama dengan KLHK, Pemda NTT dan UNDP – SPARK Project. Secara umum, beberapa desa, termasuk di Kabupaten Sabu Raijua di masa depan akan meningkat risiko kekeringannya selain potensi angin puting beliung.
Oleh karena itu, masyarakat sudah harus dapat menyiapkan strategi untuk menghadapinya. Hal ini juga mempertimbangkan bahwa kerentanan yang ada dapat menjadi lebih tinggi, jika terdapat persoalan lain yang berkorelasi dengan kerentanan. Misalnya, akibat terganggunya fungsi ekologis, saat wilayahnya terisolir akibat gangguan gelombang laut berbahaya maupun ketidaktahuan atau ketidakmampuan masyarakat menyikapi berbagai perubahan (sifat dan pola cuaca atau musim).
Aku jadi berpikir, bagaimana masyarakat Desa Eilogo dapat bertahan dan beradaptasi dengan perubahan iklim yang mengancam kehidupan mereka? Apa yang dapat mereka lakukan? Apakah mereka dapat membantu diri mereka sendiri? Apa yang akan terjadi dengan pantai indahnya?