Di Balik Kabut Kebakaran Hutan dan Lahan Indonesia
Oleh Nisa Novita, Peatland Strategic Lead | 24 July, 2026 | 5-menit membaca
Para peneliti menggunakan pembakaran terkendali untuk membangun dasar bukti yang lebih kuat bagi program restorasi lahan gambut dan pencegahan kebakaran di Indonesia.
Ketika kebakaran melanda Indonesia, perhatian publik biasanya tertuju pada kabut tebal, kerusakan ekosistem, dan lonjakan emisi karbon ke atmosfer. Namun satu pertanyaan mendasar jarang diajukan: Seberapa akurat estimasi emisi dari kebakaran hutan dan lahan, khususnya pada ekosistem gambut? Jawabannya, tingkat ketidakpastian dalam perhitungan ini masih cukup tinggi.
Baca juga: Inovasi Pemantauan Penyu Menggunakan Teknologi
Kesenjangan informasi ini mendorong Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Universitas Tanjungpura melakukan percobaan pembakaran gambut terkendali di Singkawang, Kalimantan Barat. Wilayah ini dipilih karena rawan kebakaran hutan dan lahan, terutama pada ekosistem gambut, serta masyarakat setempat memiliki tradisi panjang menggunakan api untuk membuka lahan pertanian.
Tujuan kami adalah menghasilkan data empiris untuk meningkatkan akurasi perhitungan emisi kebakaran gambut.
Mengapa Kebakaran Gambut Penting untuk Perubahan Iklim
Indonesia memiliki salah satu ekosistem gambut tropis terbesar di dunia. Selama ribuan tahun, tanah gambut menyimpan karbon dalam lapisan tanah jenuh air. Dalam kondisi alami, ekosistem ini merupakan penyerap dan penyimpan karbon yang efektif. Namun, ketika lahan gambut rusak, mengering, dan akhirnya terbakar, simpanan karbon ini dilepaskan ke atmosfer dalam jumlah besar berupa karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄) yang berkontribusi pada perubahan iklim global.
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sering terjadi di lahan gambut. Pada 2026, misalnya, Kementerian Kehutanan melaporkan sekitar 50 persen area terdampak kebakaran berada di ekosistem gambut. Angka ini signifikan karena kebakaran gambut umumnya menghasilkan emisi jauh lebih besar dibandingkan kebakaran di tanah mineral. Tidak hanya vegetasi yang terbakar, tetapi lapisan tanah organik kaya karbon juga habis dilalap api.
Perbedaan Kecil, Estimasi Bisa Sangat Berbeda
Volume emisi yang dihasilkan kebakaran menjadi dasar utama penyusunan inventarisasi gas rumah kaca nasional, penentuan target iklim, dan kebijakan pengelolaan lahan. Namun angka yang ada masih memiliki tingkat ketidakpastian tinggi. Sebagian besar estimasi berasal dari gabungan data satelit, faktor emisi, dan asumsi kondisi lapangan yang tidak selalu dapat diverifikasi.
Luas area terbakar dapat dipetakan melalui penginderaan jauh. Namun, luas area hanyalah satu komponen perhitungan emisi. Untuk mengetahui berapa banyak karbon yang hilang, peneliti juga harus memahami kedalaman kebakaran gambut, kandungan karbon lapisan tanah yang terbakar, tingkat kelembaban, serta kelengkapan proses pembakaran dan emisi yang dilepaskan. Setiap variabel ini dapat berbeda dari satu lokasi ke lokasi lain, bahkan dalam satu bentang alam. Perbedaan kecil dapat menghasilkan estimasi emisi yang sangat berbeda.
Keragaman lahan gambut Indonesia memperbesar tantangan ini. Kedalaman gambut, kondisi air tanah, tingkat degradasi, jenis vegetasi, dan riwayat kebakaran memengaruhi perilaku api dan emisi yang dilepaskan. Akibatnya, faktor emisi umum seringkali kurang tepat. Ketidakpastian dalam perhitungan emisi pun tetap tinggi.
Mengapa Ketidakpastian Emisi Penting
Ketidakpastian ini bukan sekadar masalah teknis. Perbedaan besar dalam estimasi emisi dapat memengaruhi perencanaan mitigasi perubahan iklim, penetapan target pengurangan emisi, dan keputusan investasi untuk restorasi gambut. Semakin akurat data, semakin kuat dasar pengambilan keputusan pemerintah dan pemangku kepentingan.
Kebutuhan data yang lebih presisi semakin mendesak. Indonesia telah membuat berbagai komitmen untuk pembangunan rendah karbon dan mitigasi iklim. Untuk mencapai tujuan ini, pemerintah membutuhkan sistem perhitungan emisi yang kuat, transparan, dan kredibel secara ilmiah.
“Melalui pengukuran langsung di lapangan, tim penelitian berupaya memahami hubungan antara kedalaman kebakaran gambut dan kehilangan karbon, serta mengamati perubahan sifat fisik dan kimia tanah setelah kebakaran.”
Pembakaran Terkendali dan Data Tak Tergantikan
Di lanskap gambut Singkawang, peneliti melakukan pembakaran terkendali di tiga petak berukuran 10 x 10 meter. Selama tiga hari, kegiatan ini didukung Manggala Agni—unit khusus pengendalian kebakaran hutan dan lahan Kementerian Kehutanan—serta Masyarakat Peduli Api (MPA). Setiap tahap diawasi ketat untuk mengukur emisi selama pembakaran dan menilai perubahan kondisi tanah gambut.
Melalui pengukuran langsung, tim peneliti ingin memahami hubungan kedalaman kebakaran gambut dengan kehilangan karbon, mengamati perubahan sifat tanah, serta memantau emisi gas rumah kaca sebelum, selama, dan setelah kebakaran. Informasi ini krusial untuk menyempurnakan faktor emisi gambut nasional.
Penelitian lapangan ini juga membantu menjawab pertanyaan yang datanya masih terbatas: Seberapa besar kontribusi vegetasi dan lapisan gambut terhadap total emisi? Bagaimana fluktuasi tinggi muka air tanah memengaruhi pelepasan karbon? Berapa lama emisi gas rumah kaca berlanjut setelah api padam? Jawaban pertanyaan ini penting untuk pemahaman ilmiah kebakaran gambut tropis.
Mengaitkan Restorasi Gambut dengan Bukti Lapangan
Data yang lebih andal dapat memperkuat inventarisasi gas rumah kaca nasional, meningkatkan kualitas pelaporan iklim, dan menjadi dasar yang lebih kuat untuk restorasi gambut dan pencegahan kebakaran. Penelitian yang mengurangi ketidakpastian ilmiah pada akhirnya mendukung kebijakan yang lebih efektif di lapangan.
Untuk memperkaya dataset dan mendapatkan (data) dampak dari El-Nino, percobaan pembakaran terkendali serupa akan dilakukan pada pertengahan tahun ini.
Kebakaran gambut mungkin tidak bisa dihilangkan sepenuhnya dalam waktu dekat. Namun ketidakpastian dampaknya bisa terus dikurangi. Melalui penelitian lapangan yang ketat dan pengumpulan data empiris, Indonesia memiliki peluang membangun fondasi ilmiah yang kuat untuk memahami salah satu sumber emisi terbesar di kawasan tropis.
Pada akhirnya, pengelolaan gambut yang efektif bergantung tidak hanya pada kemampuan mencegah dan memadamkan api, tetapi juga pada pemahaman akurat tentang apa yang dilepaskan ke atmosfer saat gambut terbakar.
Tanpa data yang kuat, kebijakan iklim berjalan dengan asumsi. Dengan data yang kuat, kebijakan dapat berdasar pada bukti.