Inovasi Pemantauan Penyu Menggunakan Teknologi
Oleh Sally Kailola, Head of Creative Communication | 15 Juni, 2026 | 3-menit membaca
Di bawah cahaya bulan di pesisir Berau, satu per satu penyu hijau naik dari laut, kembali ke pantai tempat mereka pernah menetas puluhan tahun lalu. Dengan gerakan perlahan namun pasti, mereka menggali pasir putih di Sangalaki, Derawan, hingga Bilang-Bilangan, lalu meninggalkan ratusan telur. Harapan kecil bagi masa depan spesies yang kini terancam punah.
Mari simak apa yang telah kami lakukan bersama mitra, memastikan apakah penyu-penyu masih ada di sana, saat ini. Artikel ini merupakan bagian dari cerita bersambung Menggunakan Teknologi Melindungi Habitat dan Populasi Penyu di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K KDPS). Cerita pertama di sini dan kedua di sini.
Setiap malam, sepanjang tahun, lebih dari 5.000 penyu datang dalam sunyi, menulis kisah kuno tentang kesetiaan, perjuangan, dan kehidupan yang terus berulang di tepi laut.
Baca ini juga: Dari Kukang hingga Owa: Kenali 8 Primata Paling Menarik di Kalimantan
Namun, di balik keindahan dan ketenangan itu, tersimpan kenyataan pahit. Penyu hijau bukan sekadar makhluk yang setia pada rumahnya, mereka juga adalah spesies yang terancam punah. Pada 17-29 Oktober 2025, pendekatan baru mulai diterbangkan di langit pesisir Berau. Bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur, Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, dan kelompok masyarakat pegiat konservasi, YKAN melalui Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE) menghadirkan teknologi pesawat nirawak (drone) sebagai bagian dari upaya menjaga penyu dan habitatnya di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil.
Melalui kolaborasi ini, teknologi tidak hanya menjadi alat, tetapi juga membuka cara baru dalam memahami dan melindungi ekosistem laut. Kepala DKP Provinsi Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy, menyampaikan bahwa hasil pemantauan ini menjadi dasar penting untuk memperkuat pengelolaan kawasan konservasi di Berau. “Berau memiliki nilai ekologis yang sangat penting, tidak hanya bagi Kalimantan Timur, tetapi juga bagi dunia. Hasil pemantauan ini menunjukkan bahwa habitat peneluran penyu di sejumlah lokasi masih sangat baik dan perlu terus dijaga melalui pengelolaan kawasan konservasi yang kolaboratif bersama masyarakat,” terangnya.
Dari udara, kawasan-kawasan yang selama ini sulit dijangkau kini dapat dipetakan dengan lebih jelas. Pulau-pulau kecil yang terpencil, garis pantai yang panjang, hingga area tersembunyi kini terbuka untuk diamati. Hasilnya mulai terlihat.
Bertepatan dengan Hari Kura-Kura dan Penyu Sedunia yang jatuh pada tanggal 23 Maret 2026, data dari survei udara yang dilakukan oleh tim gabungan ini dipublikasikan. Dari 12 lokasi habitat penyu yang dipantau melalui udara, tim berhasil mengidentifikasi hingga 913 individu penyu di perairan pesisir wilayah KKP3K KDPS. Hasil yang mengagumkan ya? Selain terharu dan bangga, kami menyadari bahwa terobosan teknologi seperti ini sangat membantu pekerjaan konservasi kami.
Teknologi ini tidak menggantikan peran manusia, tetapi memperkuatnya, serta mendukung kerja sama antara pemerintah, organisasi, dan masyarakat dalam menjaga kawasan yang begitu berharga. Di balik setiap penerbangan, tersimpan harapan bahwa dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, kita dapat memberikan perlindungan yang lebih baik bagi penyu dan ekosistem laut yang menjadi rumah mereka.
Dari langit, cerita tentang kehidupan penyu kini terlihat lebih jelas, dan dari data yang terkumpul, harapan untuk melindungi mereka pun semakin kuat.