Pengawetan Ikan
Pengawetan Ikan Deretan ikan hasil tangkapan nelayan lokal dijemur untuk proses pengawetan tradisional. © Adia Puja/YKAN

Perspektif

Babak Baru Konservasi Laut di Maluku

Oleh Sally Kailola, Head of Creative Communication | 08 September, 2026 | 3-menit membaca

Sally Kailola
Sally Kailola Head of Creative Communication

More

Perairan di sekitar Pulau Teon, Nila, dan Serua (TNS) telah lama dikenal karena kekayaan hayati laut dan keindahan alamnya yang luar biasa. Di bawah permukaannya terbentang terumbu karang yang berwarna-warni, padang lamun yang menjadi habitat berbagai spesies, area pemijahan ikan yang penting, serta perairan yang menjadi rumah bagi hiu martil. Selama bergenerasi-generasi, kawasan ini telah menopang kehidupan masyarakat pesisir dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga.

Baca juga: Patroli Masyarakat Peduli Api Perkuat Upaya Pencegahan Kebakaran di Empat Desa di Lahan Gambut Kalimantan Barat

Kini, kekayaan alam tersebut mendapatkan perlindungan yang lebih kuat.

Pada 2 September 2026, Pemerintah Indonesia mengambil langkah penting dalam upaya menjaga keanekaragaman hayati laut dengan secara resmi menetapkan Kawasan Konservasi Perairan Pulau Teon, Nila, dan Serua (TNS) melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2026.

Tim ekspedisi dan nelayan Desa Mesa
Ekspedisi Ilmiah Tim ekspedisi dan nelayan Desa Mesa memetakan wilayah tangkapan ikan dan memantau perairan sekitar Pulau Teon, Maluku Tengah, demi kelestarian dan keberlanjutan sumber daya ikan. © Adia Puja/YKAN
Bawah laut Perairan TNS
Keterangan Foto Kondisi bawah laut di perairan Pulau Teon, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. © YKAN

Dengan luas mencapai 683.826,89 hektare, kawasan konservasi yang baru ditetapkan ini menjadi tonggak penting dalam upaya Indonesia melindungi sumber daya lautnya, sekaligus memastikan bahwa manfaatnya tetap dapat dirasakan oleh generasi mendatang.

Penetapan kawasan ini mencerminkan pemahaman bahwa laut yang sehat merupakan fondasi bagi kesejahteraan manusia dan keberlanjutan alam. Selain melindungi ekosistem penting seperti terumbu karang dan padang lamun, Kawasan Konservasi Perairan TNS juga dirancang untuk mendukung perikanan berkelanjutan, sehingga populasi ikan dapat pulih dan ekosistem laut tetap produktif dalam jangka panjang.

TNS juga memiliki keunikan alam dan keanekaragaman hayati yang menjadikannya destinasi potensial untuk pengembangan pariwisata bahari. Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan ini berpeluang menciptakan manfaat ekonomi baru bagi masyarakat setempat melalui wisata berkelanjutan dan praktik perikanan yang bertanggung jawab, tanpa mengorbankan fungsi ekologis yang menjadikan perairan ini begitu berharga.

Monitoring terumbu karang
Expedisi Ilmiah
Monitoring Terumbu Karang Tim penyelam sedang melakukan pemantauan kesehatan terumbu karang di perairan Pulau Nila, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. © Adia Puja/YKAN | YKAN

Lebih dari sekadar pencapaian dalam bidang konservasi, penetapan Kawasan Konservasi Perairan TNS merupakan investasi bagi masa depan. Langkah ini menunjukkan bahwa perlindungan alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan, memastikan warisan laut Teon, Nila, dan Serua tetap lestari dan memberikan manfaat bagi generasi yang akan datang.

Bagi YKAN, penetapan Kawasan Konservasi di Perairan TNS bukan sekadar terbitnya sebuah kebijakan. Ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan panjang yang dibangun melalui kolaborasi berbagai pihak untuk menjaga kekayaan laut Teon, Nila, dan Serua. Sebagai mitra pembangunan yang telah mendukung proses pembentukan kawasan ini sejak awal, YKAN menyambut terbitnya Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut sebagai langkah penting menuju pengelolaan laut yang lebih berkelanjutan, berbasis ilmu pengetahuan, serta diperkuat oleh kemitraan yang erat antara pemerintah, masyarakat, dan para pemangku kepentingan.

Sally Kailola

Head of Creative Communication

More About Sally Kailola