Lutung Kutai
Keterangan Foto Lutung Kutai, primata langka berwajah unik mirip bertaring ini hidup di kanopi hutan Wehea Kelay. Berbulu abu-abu dan putih, ia jadi simbol kelestarian alam Kalimantan. © YKAN

Perspektif

Dari Bayangan Kepunahan ke Harapan Baru: Lutung Kutai di Bentang Alam Wehea Kelay

Siapa sangka, primata endemik Kalimantan yang pernah diduga punah ini ternyata masih bertahan di alam liar? Lutung Kutai (Presbytis canicrus), yang sempat dianggap telah punah oleh berbagai kalangan, berhasil didokumentasikan kembali di Hutan Lindung Wehea pada tahun 2012. Dan saat ini pada penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa satwa ini tidak hanya masih hidup, tetapi juga memiliki populasi di Bentang Alam Wehea Kelay, menjadikan kawasan ini sebagai salah satu benteng terpenting bagi kelangsungan hidupnya.

Baca juga: Di Balik Kabut Kebakaran Hutan dan Lahan Indonesia

Lutung Kutai memiliki rambut di punggungnya yang berwarna abu-abu, dan rambut di perutnya berwarna putih. Bagian atas wajahnya berwarna hitam, dengan bagian cemong putih yang membentuk huruf U di bawah hidung, yang kalau dilihat dari jauh, tampak seperti taring. Selain itu, bulu bagian depan yang berwarna putih tampak seperti jubah, sehingga hewan ini juga dipopulerkan oleh beberapa media  sebagai Dracula Monkey.

Dracula Monkey dari Kalimantan Lutung Kutai (Presbytis canicrus) adalah primata endemik Kalimantan dengan punggung abu-abu, perut putih, dan wajah hitam berpola U putih, dijuluki “Dracula Monkey”. Mereka hidup di kanopi hutan Bentang Alam Wehea Kelay dan memakan daun, buah, serta bunga, menegaskan pentingnya menjaga hutan alami.

Lutung Kutai hidup berkelompok di kanopi hutan dan lebih banyak beraktivitas pada siang hari. Makanan utamanya berupa daun muda, buah-buahan, bunga, biji, dan sesekali pucuk tanaman. Satwa ini dikenal memiliki suara panggilan berupa dengusan, geraman, dan pekikan pendek yang digunakan untuk berkomunikasi dengan anggota kelompok maupun untuk menandai wilayah.

Di alam liar, Lutung Kutai diperkirakan dapat hidup sekitar 20 sampai 25 tahun. Betinanya umumnya melahirkan satu anak setiap 1 sampai 2 tahun, sehingga selama masa hidup reproduksinya hanya menghasilkan sekitar 8 sampai 12 anak. Laju reproduksi yang lambat inilah yang membuat keberadaan hutan yang masih utuh, seperti Bentang Alam Wehea Kelay, menjadi sangat penting agar populasi primata langka ini tetap lestari bagi generasi mendatang.