Ketika Hiu Semakin Sulit Ditemukan: Pelajaran dari Tanjung Luar untuk Perikanan Indonesia
Oleh Sally Kailola, Head of Creative Communication | 23 September, 2026 | 3-menit membaca
Setiap hari, perahu-perahu nelayan merapat di Pelabuhan Tanjung Luar, Nusa Tenggara Barat. Di antara berbagai hasil tangkapan yang dibawa dari laut, hiu lanjaman/ kejen/ sutra (Carcharhinus falciformis) hampir selalu menjadi bagian dari cerita mereka. Bagi banyak nelayan, hiu ini bukan sekadar hasil tangkapan, tetapi juga sumber penghidupan yang telah menemani mereka selama bertahun-tahun.
Namun, sebuah pertanyaan mulai muncul: apakah hiu lanjaman masih sebanyak dulu?
Baca juga: Menjaga Gambut di Tengah Ancaman El Nino
Untuk menjawabnya, para ilmuwan kelautan, termasuk peneliti dari YKAN, melakukan penelitian terhadap lebih dari 33.000 hiu sutra yang didaratkan di Tanjung Luar selama 2017 hingga 2023. Mereka menelusuri petunjuk yang tersimpan dalam ukuran tubuh hiu, jenis kelamin, hingga pola penangkapan nelayan untuk memahami kondisi populasi spesies ini.
Hasilnya mengungkap sebuah cerita yang perlu mendapat perhatian. Meskipun hiu lanjaman masih sering tertangkap, jumlahnya di alam menunjukkan kecenderungan menurun. Lebih dari itu, sebagian besar hiu yang ditangkap ternyata masih berusia muda dan belum sempat berkembang biak. Artinya, banyak hiu ini yang hilang dari populasi sebelum memiliki kesempatan untuk menghasilkan generasi berikutnya.
Para peneliti juga menemukan bahwa nelayan harus melaut lebih sering untuk mendapatkan hasil tangkapan yang sama. Di permukaan, jumlah tangkapan mungkin tampak stabil. Namun di balik angka-angka tersebut, tersimpan tanda bahwa hiu lanjaman semakin sulit ditemukan.
Meski begitu, kisah ini bukan tentang akhir, melainkan tentang kesempatan. Dengan langkah pengelolaan yang tepat, seperti melindungi hiu muda, menggunakan alat tangkap yang lebih selektif, dan mengatur waktu penangkapan secara bijak, maka populasi hiu lanjaman masih memiliki peluang untuk pulih.
Laut telah memberikan banyak manfaat bagi manusia selama berabad-abad. Kini, melalui hiu lanjaman, laut seolah sedang menyampaikan sebuah pesan: menjaga kehidupan di dalamnya hari ini adalah investasi untuk keberlanjutan laut dan kesejahteraan masyarakat pesisir di masa depan. Mendengarkan peringatan itu mungkin menjadi langkah pertama untuk memastikan bahwa hiu, nelayan, dan laut dapat terus berbagi cerita yang sama untuk generasi mendatang.
Informasi lebih detail tentang studi ada pada jurnal di sini.